Kebutuhan Anak Yang Perlu Dipenuhi, Orangtua Wajib Baca!

Orangtua Perlu Baca Ini

“Orangtua seperti apa sih yang dibutuhkan anak-anaknya, Lex?” demikian tanya Melly Kiong, seorang pakar Mindful Parenting, pada saya beberapa hari yang lalu. Beliau berminat menjalin kerjasama, meminta saya berbagi insights atau pemahaman baru tentang kebutuhan ‘anak muda’ bagi komunitas orangtua yang diasuhnya. Jujur saja, jika bicara pada orang(yangmerasasudah)tua, biasanya sulit sekali menyajikan hal yang beda dan baru. Itu sebabnya khusus tulisan kali ini saya tidak menyajikan hal yang baru ataupun mindblowing.

Jawaban pertanyaan di atas itu sebenarnya itu sudah selalu ada dalam diri setiap orangtua. Itu adalah pertanyaan yang mudah terjawab jika para orangtua mau mengingat pengalaman mereka semasa anak-anak muda dulu. Jika Anda adalah orangtua yang sedang membaca tulisan ini, dan Anda sudah agak lupa pengalaman belasan atau puluhan tahun lalu itu, mari saya ungkit sejenak.

Ingat-ingat bagaimana perasaan Anda dulu sebagai seorang anak yang memiliki energi dan keingintahuan yang besar. Anda pasti ingin merasa dipedulikan, didukung minatnya oleh sang ibu dan ayah. Setiap anak butuh merasa dihargai pemikirannya, diayomi kesukaannya, diarahkan kegiatannya, dan dipercayakan menentukan pilihan-pilihan hidupnya. Dia ingin merasa sebagai pribadi, bukannya properti. Istilah kerennya, anak butuh merasa difasilitasi oleh orangtua. Semakin dewasa, semakin kebutuhan itu menggelegak untuk terpenuhi.

Namun sayangnya, orangtua seringkali malah jadi pihak pertama (dan berkali-kali!) yang menyangkali kebutuhan sang anak tersebut. Misalnya dengan kata-kata, “Ah dulu mama waktu mudah ga gitu,” atau “Apaan ini kalian hobinya aneh-aneh,” “Papa engga ngerti ah!” atau “Kamu masih kecil, dengerin aja deh apa kata orangtua!” Tanpa sadar, sejak dini orangtua menyatakan jarak dan perbedaan tim dengan anaknya. Kalaupun tidak dengan kata-kata, hal ini terjadi dalam sikap, misalnya orangtua tidak berpartisipasi dalam minat yang anaknya sukai, melarang anaknya eksplorasi, membatasi ruang gerak ini-itu. Kebiasaan orangtua jaman dulu itu terus berlanjut hingga sekarang.

Bahkan di jaman ultra modern ini, tidak jarang orangtua jadi semakin skeptis, mencurigai, dan mengkhawatirkan anaknya yang sedang bertumbuh dewasa. Pertemuan beberapa orangtua seringkali diwarnai curcol keluhan, “Duh anak-anak jaman sekarang ya, bla bla bla..” Anak diperlakukan bagai monster yang harus ditaklukkan atau masalah yang harus diatasi, itu sebabnya banyak orangtua secara refleks bersikap seperti control freak atau micro manager. Segala sesuatu harus diatur mengikuti standar dan ekspektasi sang orangtua.

Alhasil, ketika menginjak remaja dan dewasa, kebanyakan anak itu jadi jengah dan cenderung memberontak. Mereka enggan mempedulikan didikan orangtua, karena semenjak kecil sang orangtua ribuan kali menyangkali, membatasi, dan memusuhi dunianya. Mereka merasa diperlakukan bagai aset orangtua, dikelola hanya demi kepentingan harapan orangtua, bukan demi kepentingan masa depan mereka sendiri.

“Saya tidak setuju, Lex,” mungkin sanggah Anda, “Kami tidak memperlakukan anak untuk kepentingan kami. Semua yang ayah dan ibunya atur itu demi masa depan anak-anak kok!”

Saya setuju. Anda pasti berupaya keras mempersiapkan masa depan mereka, tapi Anda lupa itu kemungkinan besar masa depan mereka BERDASARKAN harapan Anda. Anak diatur dan dikelola agar bisa meraih impian, ekspektasi, standar yang Anda inginkan. Inilah salah satu pola parenting yang umumnya diturun-temurunkan dalam keluarga di Asia.

Bukannya diperluas, kebanyakan anak malah dipersempit. Misalnya pria 31 tahun yang tidak tahu cara bergaul, boro-boro menikah, karena orangtua mewajibkannya pulang setelah selesai mengurus bisnis keluarga. Bukannya diajari, kebanyakan anak malah ditakut-takuti. Misalnya wanita yang sulit percaya suami karena ibunya selalu mencuci otak dengan kisah keburukan papanya. Bukannya dipermudah, kebanyakan anak malah dipersulit. Misalnya mahasiswa dan mahasiswi yang kerap tertarik orang yang buruk karena orangtua mereka terlalu mengekang protektif. Itu hanya tiga dari ribuan kasus nyata yang saya temukan sendiri dalam sesi konseling. Pedih tapi nyata, dan jumlahnya lebih banyak daripada yang Anda kira.

Sepanjang 10 tahun ini melayani kalangan ‘anak muda’ yang kesulitan menjalani masa lajang, masa pacaran, dan bahtera pernikahan, 60-70% kesulitan tersebut bisa saya telusuri awalnya pada kelalaian orangtua mereka dalam memfasilitasi sejak dini. Anak-anak hanya bertambah tua, tapi sebenarnya tidak bertambah dewasa, karena orangtuanya sibuk merecoki, bukannya memfasilitasi. Orangtua sedemikian kecanduannya bersikap sebagai Pengendali, sampai-sampai terus ikut campur mendikte dan mengobok-ngobok keseharian rumah tangga anak dan pasangannya.

Saya bukan pakar keluarga, jadi saya tidak akan berbicara tentang cara mengasuh anak; itu saya serahkan pada Bu Melly Kiong dan rekan-rekan profesi parenting experts lainnya. Namun sebagai seorang relationship coach, saya merasa wajib mengingatkan fakta bahwa banyak ‘anak muda’ jadi amburadul dan berantakan dalam percintaannya karena kesalahan orangtua.

Content continue below...

Anak laki-laki biasanya ‘yatim piatu’ karena baik ayah maupun ibu tidak membekalinya dengan informasi memadai tentang pergaulan dan percintaan. Anak perempuan sedikit lebih beruntung karena sang ibu lebih atentif memberi informasi, tapi seringkali informasi yang menakut-nakuti, membuatnya kerdil, ciut, dan bermentalitas korban. Tidak heran makin ke sini kita makin banyak mendengar kisah perceraian dan kehancuran rumah tangga.

Orangtua bertanggung jawab menghentikan siklus kebutaan, terorisme, dan penjajahan romansa pada anak-anaknya. Jangan memaksakan kehendak. Biarkan anak leluasa memilih, belajar, dan berjalan mandiri. Daripada melarang, jauh lebih baik Anda membebaskan sambil memberitahu konsekuensi. Jadilah orangtua yang dewasa memfasilitasi kehidupan romansa anak-anaknya ketika memasuki usia remaja, bukannya malah seperti bocah rewel yang suka memperumit dan membatasi.

Jika tidak mengerti bagaimana memfasilitasinya, berkonsultasilah dengan saya atau tenaga profesional lainnya. Ingat bahwa setiap anak adalah pribadi yang sewajarnya berjalan bebas dalam keputusan dan kehidupannya sendiri. Jangan perlakukan dia seperti ‘simpanan’ investasi jaminan hari tua Anda nanti.

Anak adalah keturunan Anda, mereka bukan peliharaan untuk Anda ikat dan kendalikan. I believe in order for children to truly live, they would need to truly leave. And as parents, the greatest gift you can give is to accept and empower them to leave and live, so that they could learn and do the same to the generations after.

Saya belum memiliki anak, namun saya selalu memimpikan anak-anak saya nanti bebas pergi berkelana menemukan kehidupan impian dan pasangan idaman mereka, mencapai hal-hal luar biasa yang saya dan pasangan tidak mampu pikirkan ataupun lakukan. Semenjak mereka lahir, saya dan pasangan secara sadar membatasi waktu kami untuk menggendong, menuntun, merecoki mereka. Anak-anak adalah hasil kombinasi kekuatan terbaik dari saya dan pasangan, jadi siapalah kami orangtua yang sudah lemah, outdated, dan bahkan segera expired ini berani mendikte bagaimana mereka harus menjalani hidup?

Menurut saya, orangtua yang mampu bersikap dewasa seperti itu justru akan mendapat bonus yang luar biasa: anak-anak mereka jadi sadar bahwa orangtuanya sudah sepenuh hati membantu mereka meraih kebahagiaan sendiri, sehingga mereka selalu rindu berdekatan, mempedulikan, dan menyayangi orangtuanya di sepanjang hari tua nanti. Mereka melakukannya dengan rasa syukur, bangga, dan cinta, bukannya karena merasa terpaksa ataupun membayar pamrih.

Tidakkah itu bayangan hari tua yang menyenangkan dan memuaskan, wahai orangtua?

Be excellent facilitators, dear amazing parents, cos your children’s future depend on it.

God bless you. :)

Share Your Thoughts