Apa Kamu Tipe Orang Yang Mudah Cemburu? Cek Tanda-Tandanya!

Mudah Cemburu Kelas Cinta

Rasa mudah cemburu sering diasosiasikan dengan tanda cinta yang teramat sangat, tetapi kenyataannya tidak demikian. Setiap orang menampilkan rasa cemburunya dengan cara yang berbeda-beda, tergantung dari kepribadiannya masing-masing. Ada yang bisa mengungkapkannya secara halus dan ada juga yang sampai menyakiti pasangannya secara fisik dan mental.

Namun, sepatutnya kamu mengerti bahwa rasa cemburu selalu berakhir pada perasaan negatif yang bisa merusak hubungan. Donatella Marazzi, seorang neuropsychiatrist dari University of Pisa, mengatakan bahwa rasa cemburu bisa memicu gangguan kejiwaan yang lebih serius. Beliau mengatakan bahwa area di dalam otak yang mengatur rasa cemburu disebut ventromedial prefrontal cortex—area yang mengatur rasa empati dan rasa bersalah di dalam diri manusia. Ketika seseorang cemburu, perasaan itu juga berhubungan langsung ke amygdala—area lain di dalam otak yang mengatur rasa takut dan gelisah.

Jadi, mudah cemburu saja sudah memicu banyak perasaan negatif lainnya seperti rasa bersalah, takut, dan gelisah. Donatella Marazzi juga mengatakan bahwa rasa cemburu bukanlah sesuatu yang datang tanpa sebab. Ada ketidakseimbangan biokimia di dalam tubuh yang bisa menyulut tindakan berbahaya. Bukan hal yang mustahil kalau seseorang bisa bunuh diri atau membunuh orang lain karena rasa cemburu.

Lalu apa tanda-tanda orang yang terjangkiti penyakit cemburu? Kalau kamu mudah cemburu karena melakukan hal-hal berikut ini:

1. Kamu Stalking!

pexels-photo-190168 (1)
via Pexels

Ini merupakan gejala cemburu paling awal. Kamu membuntuti sosial media pasangan setiap menit, mengecek status-statusnya, dan parahnya lagi, kamu juga mengecek status teman-temannya. Kamu mencari tahu apakah ada orang lain yang mendekati pasangan kamu atau tidak. Kalau ternyata ada orang lain yang menggoda pasangan, kamu langsung memaki-maki orang tersebut di sosial media.

Joshua D. Duntley dan David M. Buss, dua peneliti dari The Richard Stockon College dan University of Texas, menerbitkan buku berjudul “The Evolution of Stalking” yang berisi tentang bagaimana proses stalking berubah mengikuti perkembangan zaman. Awalnya stalking dilakukan dengan cara membuntuti target secara diam-diam. Namun, istilah stalking di masa sekarang lebih mengacu ke tindakan menelusuri akun sosial media seseorang.

Menurut mereka, salah satu alasan seseorang melakukan stalking di sosial media adalah untuk menjaga pasangan dari orang yang akan merebutnya. Mereka juga menemukan bahwa 35% orang yang melakukan stalking ternyata memiliki rasa tidak percaya dan cemburu yang besar terhadap pasangannya.

Di era modern yang banyak bertaburan sosial media seperti sekarang ini, tentu saja kegiatan stalking pasangan bisa menguras energi bila kamu harus mengeceknya satu per satu. Waktu yang kamu miliki menjadi terbuang sia-sia hanya demi membuntuti pasangan. Lebih baik waktu yang ada dihabiskan dengan bekerja. Atau jangan-jangan kamu memang pengangguran yang tidak ada kerjaan selain membuntuti pasangan? Please, get a job!

2. Cepat Mengambil Kesimpulan yang Salah

StockSnap_FETAZNQOG6
via Stocksnap

Kamu bisa saja menganggap semua lawan jenis yang berhubungan dengan pasangan kamu sebagai saingan yang harus disingkirkan. Padahal bisa jadi mereka adalah sahabat atau rekan kerja pasangan kamu. Dengan kata lain, kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan yang salah. Jelas saja ini bisa membuat hidup kamu dipenuhi dengan kecemasan karena khawatir suatu saat pasangan kamu akan direbut orang lain.

Content continue below...

Jennifer Lerner, seorang profesor kebijakan publik dan manajemen di Harvard Kennedy Scholl, mengatakan bahwa pengambilan keputusan besar yang didasari oleh insting semata adalah cara yang paling keliru. Pengambilan keputusan yang hanya berdasarkan insting tanpa bukti hanya akan membuat kamu melakukan tindakan yang salah. Terlalu cepat mengambil keputusan yang salah bisa membuat kamu melakukan segala daya dan upaya untuk mengekang pasangan agar tidak sembarangan bergaul dengan orang lain.

Kalau kamu adalah tipe yang suka membatasi pergaulan pasangan demi melindunginya dari godaan orang lain, saya beritahu saja bila tindakan itu sama dengan menyalahkan fitrah manusia sebagai individu yang bebas. Bayangkan bila kamu berada di posisinya yang hidup di dalam bayang-bayang ketakutan setiap hari. Apa kamu bisa bahagia hidup seperti itu?

3. Tidak Segan-Segan Menyalahkan Pasangan di Depan Umum

man-couple-people-woman
via Pexels

Sekali dalam seumur hidup, kamu pasti pernah menyaksikan orang memaki-maki pasangannya di depan umum karena mendapati dirinya sedang berjalan berdua dengan orang lain. Begitulah tingkah laku orang yang menahan rasa cemburunya sekian lama. Otak menjadi cepat mengambil kesimpulan dan tidak bisa berpikir secara sehat. Ketika dia menemukan momen yang pas, akhirnya segala emosinya dikeluarkan dengan cara berteriak-teriak menyalahkan pasangannya. Padahal belum tentu pasangannya selingkuh. Bisa saja waktu itu dia sedang bersama sahabat atau saudaranya.

Gejala ini bisa semakin menjadi-jadi bila kamu tinggal di daerah perkotaan. Gendhotwukir, seorang peneliti dari Merapi Cultural Institute (MCI), pernah melakukan penelitian yang berhubungan dengan kemarahan. Beliau menemukan bahwa orang-orang yang tinggal di kota besar memiliki kecenderungan untuk meluapkan kemarahannya di jalan raya atau di tempat umum lainnya.

Terdapat faktor internal dan eksternal yang menyebabkan amarah seseorang dapat meledak di tempat umum. Faktor internalnya tentu saja berhubungan dengan bagaimana seseorang mengelola kecerdasan emosionalnya. Bila orang tersebut memiliki kecerdasan emosional yang rendah, maka emosinya bisa mudah terpicu oleh faktor eksternal.

Bayangkan saja kalau kamu tinggal di perkotaan, memiliki kecerdasan emosional yang rendah, dan tahu-tahu melihat pasangan kamu jalan berduaan dengan lawan jenis lain. Bukan tidak mungkin bila kamu akan langsung menghakimi pasangan kamu sedang main serong dengan orang lain.

Bila gejala-gejalanya tidak disadari, rasa cemburu bisa menjadi kanker ganas yang siap menggerogoti kamu dan pasangan. Kamu tidak perlu mencari tanda-tanda selain ketiga tanda di atas. Cukup sadari salah satu ketiga tanda tersebut dan akui kalau kamu memang sering cemburu terhadap pasangan, maka rasa mudah cemburu itu bisa dihentikan atau setidaknya berkurang kadarnya. Proses penyembuhan dari penyakit cemburu bakal jauh lebih mudah ketika kamu mau mengakuinya ketimbang menyangkalnya.

Jadi, sebelum menutup artikel ini, silakan bercermin dan tanyakan ke diri kamu sendiri: apa kamu masih menganggap mudah cemburu adalah tanda cinta?

Share Your Thoughts