Mengenal Wanita Inflasi

Bila saya diizinkan untuk secara general hanya untuk kepentingan artikel ini saja, saya bisa membagi keseluruhan wanita menjadi 4 level:

Setiap pria dalam hidupnya pasti pernah bermimpi dapat memiliki wanita level A dan menjalin hubungan yang indah dengannya. Namun mimpi disebut mimpi karena memang jauh dari kenyataan. Kebanyakan pria harus merasa puas dengan label “teman biasa” atau malah hanya mampu memandang wanita level A dari kejauhan sambil berbisik lirih, “Andai kau tahu isi hatiku..” dengan diiringi background musik band lokal.

Si pria tidak berhasil mendapatkan si A namun karena kesepian di hati yang tidak tertahankan lagi, maka ia lalu membuang mimpinya dan mencoba berburu di area yang sepertinya lebih mudah; wanita level B. “Ya, ini area yang jelas lebih mudah. Gue intelek and asik gaulnya, tampang gue juga lumayan kok. Gak mungkin dia gak mao sama gue, apalagi dia cuma wanita level B”, begitu pikir si pria yang sebenarnya memiliki kualitas cukup untuk mendapatkan level A.

Namun setelah sekian minggu melancarkan serangan SMS, telpon, traktir makan dan nonton, setelah mengucapkan kalimat ‘penembakan’ yang sudah dilatih puluhan kali, cintanya ditolak. Seorang wanita level B menolak cinta seorang pria yang seharusnya layak mendapatkan wanita level A. Luar biasa bukan?

Ini bukan cerita salah satu sinetron, ini adalah kejadian nyata yang sering terjadi di mana-mana. Apakah Anda atau teman Anda pernah mengalami kejadian seperti ini? Wanita yang sebenarnya bukan tipe Anda, wanita yang sebenarnya ada di bawah level Anda, namun dengan segala daya upaya dan ketulusan yang ada, dia menolak Anda.

Kalau Anda pernah mengalaminya, kemungkinan besar Anda bertemu dengan wanita inflasi. Wanita inflasi adalah wanita yang berada pada level B, C (bahkan kadang D) namun social value mereka mengalami kenaikan hingga menyamai wanita level A. Kenapa bisa begitu?

Setiap orang memiliki social value atau harga sosial masing-masing. Social value ini adalah bagaimana kita dipandang oleh orang lain; yang tentu saja ditentukan oleh berbagai faktor seperti: status sosial, penampilan, intelektual, kepercayaan diri, bagaimana kita memandang diri kita sendiri, dll.

Contoh: Wanita level A memiliki social value senilai 100 tanpa mereka harus melakukan apapun, hanya karena mereka cantik dan seksi dan semua orang menginginkan mereka. Harga mereka sangat tinggi. Sedangkan wanita level B mempunyai nilai 70. wanita tipe C bernilai 50 dan wanita D bernilai 20.

Sedangkan Anda adalah seorang pria yang tidak begitu ganteng ataupun tinggi, namun memiliki perawakan yang pas dan proporsional serta wajah yang enak dilihat, ditambah lagi Anda adalah seorang yang berwawasan luas, bertalenta dan mempunyai banyak teman, bolehlah kita beri nilai buat Anda 80.

Perhatikan perbandingannya. Anda tidak akan bisa mendapatkan wanita level A kecuali Anda berusaha keras meningkatkan social value Anda. Anda menyadari hal itu dan si wanita level A pun menyadari hal itu. Jadi kalian tidak pernah membicarakan kemungkinan tentang sebuah hubungan sama sekali. Meskipun mungkin saja sebenarnya dia juga tertarik kepada Anda.

Daripada bekerja keras untuk sesuatu yang tidak pasti, lalu Anda berpikir lebih baik mengejar wanita level B saja yang mempunyai social value di bawah Anda dan sudah pasti lebih mudah untuk dijangkau. Namun Anda melupakan satu hal: ada begitu banyak pria-pria haus belaian wanita dan kesepian yang BERPIKIR SAMA dengan Anda.

Daripada mengejar wanita level A yang bernilai 100, mereka semua beramai-ramai mengejar wanita level B yang bernilai 70. Dan kita semua tahu prinsip demand and supply, semakin tinggi permintaan maka semakin tingi pula harganya. Dan itulah yang terjadi, wanita level B yang tadinya hanya bernilai 70 saja namun berkat 10 pria-pria bernilai 70-80 mengejar dan mengerubuti, menginginkan dan memperlakukannya seolah-olah dia adalah wanita level A, otomatis social valuenya akan naik. Si wanita level B ini punya social value bernilai 100 sekarang, atau mungkin bahkan lebih.

Si wanita level B ini menyadari kenaikan valuenya dan dia sangat menyukainya. Dia sudah membayangkan rasanya jadi wanita level A sejak lama, tapi karena dia tidak cukup cantik dan seksi, maka dia harus cukup puas dengan menjadi wanita level B. Namun dia sudah mengecap rasanya menjadi wanita A sekarang. Dia mulai bertingkah dan berlagak seperti wanita level A. Mulai jual mahal, sok cakep, menuntut. Dan karena sekarang dia bernilai 100, dia tidak akan mau dengan pria bernilai 70 dan 80 (walaupun dulu dia akan menerima mereka semua tanpa pikir panjang).

Jadi dia menolak semua pria-pria itu, termasuk Anda.

Selamat, Anda dan pria-pria kelaparan lainnya yang mengerubuti dia telah menggali kuburan kalian sendiri.

Masuk akal? Apakah ini cukup menjelaskan pengalaman yang pernah Anda alami?

Anda sekarang mungkin berpikir, “Oke, penjelasannya cukup masuk akal. Tapi lalu bagaimana? Apa yang harus dilakukan agar tidak terjadi lagi kejadian seperti itu?” Tunggu artikel berikutnya yang akan menjelaskan cara menghadapi wanita inflasi!

Sementara itu, coba renungkan nama-nama wanita inflasi yang ada di sekitar Anda. Dan bandingkan apa yang ada di dalam artikel ini, terhadap kisah mereka. Apakah sejalan?