Kapan Saat Yang Tepat Untuk Menghubungi Mantan?

Anda memandangi ponsel yang tergeletak begitu saja di atas meja. Dari tadi tidak ada bunyi notifikasi. Bergetar pun tidak. Kalaupun berbunyi, biasanya itu berasal dari grup Whatsapp kantor atau keluarga.

Yang Anda nantikan adalah bunyi notifikasi yang berbeda dari yang lain. Bunyi yang dikhususkan untuk seseorang yang pernah hadir mengisi relung jiwa Anda.

Siapa lagi kalau bukan sang mantan.

Lama kelamaan Anda jadi gelisah. “Haruskah gue menghubunginya duluan?” ujar Anda dalam hati. “Tapi kami baru putusan dua hari yang lalu, salah ya kalau cuma menanyakan kabar?”

Batin Anda bertengkar hebat. Di satu sisi, Anda masih benci karena dia ketahuan main serong dengan orang lain. Terima kasih teman-teman yang sudah memberi tahu!

Tapi di sisi lain, Anda kangen habis-habisan dengannya. Rasanya aneh melihat ponsel itu sepi pengunjung karena biasanya ramai oleh bunyi notifikasi dari mantan Anda.

Jelasnya, Anda belum terbiasa ditinggal mantan.

Itu adalah hal yang wajar karena Anda dan mantan sudah banyak menghabiskan waktu bersama. Kecuali baru berpacaran kemarin dan putus hari ini, mustahil Anda bisa merindukannya.

Ketidakterbiasaan itu memunculkan pertanyaan super populer yang sering ditanyakan ke para coach Kelas Cinta: Kapan saat yang tepat untuk menghubungi mantan?

Kapan Waktu yang Tepat Untuk Menghubungi Mantan? Nanti!

Kelas Cinta tidak melarang Anda menghubungi mantan lagi. Masih berhubungan baik dengan mantan adalah salah satu bukti bahwa Anda berkepribadian dewasa.

Tidak semua orang mampu berteman dengan mantannya karena luka di masa lalu. Jika hubungan Anda dan mantan baik-baik saja (atau malah bersahabat), itu tandanya Anda sudah kuat secara mental sehingga tidak terbawa arus masa lalu.

Jadi boleh-boleh saja menghubungi mantan, tapi dengan catatan Anda sudah sembuh total dari trauma putus cinta!

Kebanyakan orang salah mengerti di bagian ini. Mereka menganggap putus hubungan dengan mantan adalah tindakan kekanak-kanakan sehingga mereka terus menjaga komunikasi.

Belum lagi ditambah alasan “ingin menjaga silaturahmi” yang populer di kalangan pejuang mantan. Memang terdengar keren dan dewasa, tapi itu yang membuat populasi korban gagal move on bertebaran di mana-mana.

Lagipula ucapan “ingin menjaga silaturahmi” sebenarnya cuma kedok untuk menutupi rasa kangen. Ya atau tidak? Jika Anda tertawa, berarti jawabannya iya!

Dengar ini baik-baik. Jika Anda baru putusan dan ingin move on, sebaiknya berhenti menghubungi mantan untuk sementara.

Kesepian yang Anda rasakan saat ini karena belum terbiasa dengan rutinitas yang baru. Rasanya seperti ada yang hilang bila terbiasa berjam-jam chatting-an dengan mantan dan sekarang kotak pesan Anda kosong melompong.

Otak Anda masih menyesuaikan diri untuk beradaptasi dengan keadaan sekarang.

Dalam proses penyesuaian tersebut, Anda akan mengalami segudang rasa rindu ingin melakukan hal yang sama seperti dulu—termasuk menghubungi mantan.

Ibarat baru belajar makan nasi pakai sumpit, pasti terbesit keinginan kuat untuk makan pakai sendok. Jika tidak tahan, Anda bisa terburu-buru menghubungi mantan lagi padahal perasaan Anda sama sekali belum pulih.

Sikap ngebet seperti itu menunjukkan bahwa hidup Anda sepenuhnya bergantung sama mantan. Ada rasa ngarep ingin balikan yang terselip di kepala Anda.

Bahkan meski niat awalnya cuma ingin berteman, terburu-buru menjalin hubungan dengan mantan bisa membangkitkan rasa ngarep tersebut.

Jika Anda memang ingin balikan, maka langkah tersebut salah total. Mantan malah berpikir bahwa Anda adalah pribadi lemah yang tidak ada kerjaan selain menghubunginya terus menerus.

Semakin dibombardir dengan chat atau telepon, semakin menjauhlah dia.

Apabila mantan sudah berpikir seperti itu, kecil kemungkinan untuk balikan. Jadi kalau Anda benar-benar ingin menjalin hubungan dengan mantan—entah ingin balikan atau cuma berteman—sebaiknya beri jeda panjang sebelum menghubunginya.

Anda dan dia baru keluar dari masalah, jadi beri waktu untuk bernapas lega sebentar. Terburu-buru menghubunginya bisa memperparah ketegangan yang belum sepenuhnya usai.

Setidaknya Anda harus melewati 6 fase di bawah ini sebelum menghubungi mantan:

Hari pertama putus cinta

Ini adalah hari terlarang bagi Anda untuk chat, telepon, atau saling mention mantan di media sosial. Luka di hati Anda masih segar-segarnya, menghubungi mantan ibarat menabur garam di atasnya.

Jadi Anda wajib memutuskan semua kontak mantan dan tenangkan diri terlebih dahulu.

“Boleh menghubungi mantan? Haram!”

Minggu pertama putus cinta

Setelah 7 hari menenangkan diri, seharusnya Anda jauh lebih baikan sekarang. Otak Anda mulai menerima kenyataan bahwa kalian sudah tidak bersama lagi.

Namun, Anda masih kangen dengan kegiatan yang dulu dilakukan bersama mantan.

Boleh menghubungi mantan? Tidak.

Minggu kedua putus cinta

Jika Anda tidak mengisi waktu dengan kegiatan menyenangkan seperti jalan-jalan atau mencari gebetan baru, minggu ini Anda akan semakin kangen dirinya. Ada keinginan kuat untuk mengirim chat ke mantan demi sekedar tahu kabarnya.

Tenang, dia baik-baik saja tanpa kehadiran Anda. Jadi pendam dalam-dalam keinginan untuk menghubunginya.

“Boleh menghubungi mantan? Tahan dulu!

Minggu ketiga putus cinta

Minggu ini pikiran Anda terbagi dua antara harus move on secepatnya atau berharap balikan. Biasanya setelah kenyang meratapi diri, Anda tersadar bahwa tidak bisa selamanya nelangsa seperti ini.

Mau tak mau, Anda harus melangkahkan kaki menuju hari-hari baru tanpa mantan. Tapi kalau masih berharap balikan, Anda akan men-stalking mantan berhari-hari untuk mencari waktu yang tepat untuk balikan.

“Boleh menghubungi mantan? Tahan sedikit lagi!

Bulan pertama putus cinta

Satu bulan terlewati, sekarang luka di hati Anda semestinya sudah tertutup. Mental Anda jadi lebih tebal dan tidak gampang terpengaruh dengan kabar mantan.

Bahkan pikiran untuk balikan (mungkin) sudah terkikis habis di benak Anda. Jika benar-benar sembuh, silakan menghubungi mantan. Tapi kalau belum, lebih baik tahan diri lebih lama lagi.

“Boleh menghubungi mantan? Silakan kalau sudah benar-benar sembuh.

Tahun pertama putus cinta

Sungguh keterlaluan kalau satu tahun lewat dan Anda belum move on juga!

Di jeda waktu selama itu harusnya Anda sudah sembuh total setotalnya. Anda bisa merasakan sejuknya lepas dari trauma masa lalu. Mantan pun terlihat seperti teman biasa di mata Anda.

Bila sudah diposisi seperti itu, menjalin kembali komunikasi dengan mantan sama sekali tidak masalah. Justru itu bagus untuk menambah jaringan pertemanan yang bakal berguna di masa depan.

“Boleh menghubungi mantan? Sangat diperbolehkan!”

Mantan bisa menjadi teman terbaik. Alasannya jelas: dia sudah tahu sebagian besar seluk beluk kehidupan Anda dan begitu pula sebaliknya. Sehingga kalian pasti lebih mengerti satu sama lain ketimbang teman atau sahabat biasa.

Orang seperti itu terlalu sayang untuk dijadikan musuh bebuyutan, kecuali dia pernah melakukan tindakan kriminal yang melibatkan Anda. Kalau itu yang terjadi, mendingan Anda jauh-jauh darinya sebelum menjadi korban kedua kali!

Ingat, tidak mesti butuh waktu setahun penuh untuk menghubunginya lagi. Kalau Anda manusia bermental baja yang kebal dari trauma putus cinta, di minggu kedua atau ketiga pun Anda boleh coba meneleponnya.

Tapi jika belum sekuat itu, nikmati dulu keenam fase di atas supaya mental Anda siap dengan segala konsekuensinya.

“Tapi gue udah cinta mati sama dia nih. Gue pengen banget balikan sama dia,” keluh Anda.

Tidak ada saran lain, kecuali membaca ebook The Secret of Balikan yang berisi rambu-rambu agar Anda tidak salah langkah saat mengajaknya balikan.

Merakit kembali kepingan-kepingan cinta yang pecah bukanlah perkara mudah. Salah sedikit bisa membuat jarak Anda dan mantan semakin menjauh hingga mustahil diperbaiki.

Di ebook tersebut, Anda akan belajar hal-hal seperti:

Ingin belajar caranya?

Klik link di bawah dan dapatkan ebook-nya!

THE SECRET OF BALIKAN

Omong-omong, seberapa tahan diri Anda untuk tidak menghubungi mantan lagi?