Mengapa Buru-Buru Nikah Jika Masih Mikir 5 Hal Konyol Ini?

Bagi sebagian wanita, menginjak usia dua puluhan merupakan masa-masa genting dalam pengambilan beberapa keputusan hidup yang cukup besar, salah satunya “menikah”. Budaya Indonesia yang menganut adat ketimuran serta desakan lingkungan makin menguatkan dan membulatkan motivasi tersebut. Belum lagi, adanya keterbatasan waktu biologis wanita dalam bereproduksi serasa menghimpit pikiran supaya buru-buru menikah.

Dewasa ini, menikah sudah menjadi tujuan hidup, cita-cita, bahkan prinsip. Adanya media yang seringkali menampilkan sebagian cerita tentang pernikahan berupa ‘kebahagiaan’ saat pesta perayaan melengkapi angan-angan tentang hubungan happily ever after. Padahal, itu baru sebagian kecil penampakan dari dinamika hubungan jangka panjang.

Kalau memang kamu ngebet untuk cepat nikah, otakmu harus dicuci dan diperbaiki sesegera mungkin mulai dari sekarang. Jangan sampai kamu menambah daftar panjang ‘pasangan yang gagal’ akibat kebodohan dan kecerobohannya sendiri. Bukankah kamu mendambakan hubungan yang bahagia bak dongeng Cinderella dan Snow White?

Dari kelima persepsi yang menggelitik ini, kira-kira mana yang masih melekat di otakmu dan bikin kamu ingin buru-buru menikah?

1. Nikah Berarti Bebas Berhubungan Seks Tanpa Takut Dosa

via Stocksnap

Dangkal sekali pikiranmu jika alasan menikah hanya karena kehalalan dalam berhubungan badan. Memang, tidak ada yang salah dari pernyataan tersebut. Tetapi, apakah cuma itu saja tujuanmu? Kalau benar tujuan pernikahan manusia hanya sebatas selangkangan saja, mengapa masih banyak tuntutan lain selain having sex dan bikin anak?

2. Buru-Buru Menikah Agar Hidup Lebih Bahagia

via Pexels

Kamu salah besar kalau berpikir bahwa menikah membuat hidup lebih bahagia, karena faktanya tingkat kepuasan dan kebahagiaan manusia perlahan justru turun setelah memasuki jenjang pernikahan. Apalagi kalau kamu punya anak, kamu akan mengorbankan kebahagiaan diri sendiri dan pasangan. Kalau bisa dibilang, bahagianya menikah itu cuma sehari, tapi deritanya tahunan.

Cerita kebahagiaan ala film Disney hanya bisa kamu rasakan saat resepsi saja, sisanya kamu harus memeras otak bagaimana agar kebutuhan rumah tangga bisa tercukupi. Belum lagi biaya menghidupi anak sampai dia dewasa nanti, bisa meledak otakmu kalau tidak direncanakan jauh-jauh hari.

3. Segala Kebutuhan Sudah Ada yang Menanggung

via Stocksnap

Penyakit wanita yang malas dan putus asa sangat mudah dideteksi, tetapi bukan kanker payudara atau serviks. Akibat dari menganggur setelah lulus kuliah dan terlalu lama ‘semedi’ di rumah membuatmu memilih jalan pintas termudah tapi konyol, yaitu dinikahi. Niatnya sih agar tidak lagi bingung siapa yang akan membelikan bedak dan lipstik tiap bulan. Tetapi ternyata setelah menikah betulan, boro-boro beli lipstik, uang beli susu anak saja kurang-kurang. Masih berpikir buat dicukupi kebutuhannya?

4. Jadi Ibu Rumah Tangga Lebih Bahagia Daripada Wanita Karir

via Pexels

Khusus untuk kamu yang bercita-cita menjadi ibu rumah tangga, bersiaplah menghadapi serangan fajar terutama perihal keuangan, karena bukan cuma harga cabai dan bahan bakar saja yang naik. Ongkos facial pun naik akibat adanya inflasi. Belum lagi diskon-diskon yang bertebaran diumbar oleh marketing mall yang membuatmu gelap mata. Apa kamu yakin dan tega untuk menghabiskan pundi-pundi rupiah yang seharusnya digunakan untuk membeli beras dan sabun cuci demi kebutuhan pribadimu?

Dear, apa yang kamu impikan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Kalau kamu berbesar hati menukar kebutuhanmu untuk keluarga secara fulltime, silakan menjadi ibu rumah tangga. Tetapi, jika pikiranmu masih dipenuhi dengan keinginan pribadi, tak ada salahnya untuk berperan ganda, bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Setiap keputusan selalu ada konsekuensi, ambillah yang menurutmu paling ringan dan logis untuk dijalani.

5. Banyak Anak Banyak Rejeki

via Pexels

Pernahkah kamu menghitung berapa pengeluaran bulananmu?

Sudah cukupkah pendapatanmu saat ini?

Jika dikalkulasikan, tidak sedikit yang ternyata besar pasak daripada tiang.

Coba ditelaah lebih dalam lagi, hidup sendiri saja sudah banyak biaya, ditambah hidup bersama pasangan. Belum lagi jika punya banyak anak, seberapa besar harta warisanmu untuk menghidupi mereka hingga dewasa nanti?

Memang, rejeki manusia sudah diatur. Tetapi, bukan berarti kamu bisa seenaknya berkata “ahh, jangan pesimis”.

Kalau hidup memang senaif itu, kenapa kamu masih mengeluh “biaya sekolah makin mahal”? Bukankah rejeki datangnya dari langit?

Jadi, masih ingin buru-buru menikah?

Saya sarankan untuk membaca buku 150 BAHASAN WAJIB SEBELUM NIKAH yang isinya tentang pertanyaan-pertanyaan untuk diobrolin bareng pasangan. Dari situ, kamu akan berpikir ulang soal buru-buru menikah karena bisa saja kamu baru tahu ternyata kamu dan pasangan banyak tidak cocoknya.

Kalau banyak tidak cocoknya, lalu buat apa buru-buru menikah? Malah lebih bagus lagi kalau kamu bisa memutuskan hubungan yang bakal bermasalah besar itu dan mencari calon pasangan yang jauh lebih banyak cocoknya sama kamu.

Tunda menikah, minim masalah.

Jadi KLIK LINK di bawah untuk memesan bukunya!

150 BAHASAN WAJIB SEBELUM NIKAH