3 Ciri-Ciri Hubungan Yang (Bisa Jadi) Berbahaya

Apakah Anda pernah merasa hilang kendali atau terjebak dalam hubungan yang buruk?

Peringatan: ini adalah artikel yang (keterlaluan) sangat serius. Jika Anda memang tidak serius dalam mengelola hubungan cinta, lebih baik stop membaca dan klik artikel dangkal hepi-hepi lainnya.

Satu tahun sudah berlalu semenjak Yennie dan Chandra mengikat janji sebagai sepasang kekasih. Perayaan makan malam sederhana dilakukan di rumah sambil melihat kompilasi foto mereka dari sepanjang tahun. Canda tawa bergantian keluar dari bibir mereka ketika mengenang sejumlah kejadian lucu yang tergambar dalam foto-foto perjalanan itu. Sesekali Yennie mencuri pandang dengan haru bangga pada Chandra yang sangat mencintainya itu, sambil menahan rasa panas perih di pipi sewaktu sang kekasih menamparnya sepuluh menit yang lalu karena tak sengaja menyenggol jatuh sepotong anniversary cupcakes mereka.

Bukan sekali dua kali Chanda menampar Yennie. Itu sudah terjadi berkali-kali semenjak bulan ketiga mereka berpacaran. Kalau tidak sedang bertindak fisik, Chandra juga terbiasa menempa Yennie dengan kata-kata yang pedas menyakitkan. Tidak ada seorang pun yang mengetahui hal itu, selain adiknya yang tidak pernah digubris karena selalu menasehatkan untuk putus.

Karena dilarang oleh Chandra, Yennie tidak pernah lagi beraktifitas maupun berkomunikasi dengan sahabat-sahabatnya. Dia dirampas dari kehidupan normalnya, dikerangkeng dalam penjara cinta, dan disuapi sesendok kebahagiaan oleh Chandra. Hanya dalam satu tahun, Yennie bergeser dari seorang wanita cantik populer yang memiliki banyak kebahagiaan jadi seorang wanita yang memiliki satu kebahagiaan: yaitu dicintai (baca: dimiliki) seorang Chandra.

Kisah di atas terjadi lebih sering daripada yang Anda sadari. Nama-nama pihak yang terlibat pasti berbeda, urutan kejadiannya mungkin berbeda, bahkan persoalan dan perilakunya juga mungkin agak berbeda. Tapi satu hal yang sama: salah satu pihak tidak lagi memiliki kuasa atau kendali, baik atas hidupnya ataupun hubungan cintanya. Kendali direbut oleh kekasih biasanya secara lembut halus, dan perlahan-lahan melibatkan pemaksaan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, fenomena perebutan kekuasaan yang melibatkan pemaksaan itu disebut kudeta. Walau biasanya terjadi di dunia politik, kudeta merupakan sebuah permainan sosial yang juga bisa terjadi dalam hubungan cinta. Ada banyak sekali mekanika kudeta politis yang dijelaskan dalam artikel The Technique Of A Coup d’État, namun menurut pengalaman saya tiga di antaranya adalah ciri-ciri proses kudeta berbahaya yang umum terjadi dalam romansa.

Simak baik-baik untuk mengevaluasi diri Anda, pasangan Anda, dan hubungan Anda.

Gossips

Setiap kudeta politik dan penggulingan pemerintah selalu dimulai dari kampanye penyebaran isu-isu yang cenderung negatif. Masyarakat disuapi informasi yang memicu kebimbangan, kecemasan, atau ketidakpuasan sehingga mereka merasa sulit mempercayai orang lain. Dalam romansa, ini terjadi ketika salah satu pihak bercerita keburukan pasangan-pasangan lain, ketidaksetiaan si anu, motif terselubung si itu, masa lalu sebenarnya si anu, kesepakatan rahasia ini-itu, dsb. Pemberian informasi negatif ini dilakukan oleh kekasih (atau orangtua) yang insecure dan posesif. Intinya adalah menakut-nakuti Anda. Sedikit-sedikit lama-lama Anda jadi pahit dan berpikiran sempit.

Tentu semuanya informasi itu dikomunikasikan santai seolah obrolan biasa, tapi dilakukan terus-menerus agar Anda merasa lebih aman bersama dengan pihak yang bercerita. Ini jadi semakin mudah terjadi jika si dia memang lebih cerdas atau lihai berkomunikasi dibanding Anda. Ada banyak sekali tehnik-tehnik misinformasi ini: semuanya bertujuan agar Anda terkejut, merasa kewalahan dalam mengendalikan hubungan, sehingga perlahan-lahan sepenuhnya mempercayakan (baca: menyerahkan) diri dan hubungan pada pasangan Anda, sang pelaku kudeta cinta.

Love Bombs

Sepaket dengan poin sebelumnya, dalam kudeta politik masyarakat akan diberikan segudang bantuan, fasilitas, dan kemudahan yang jarang sekali ditawarkan oleh pemerintahan yang sedang berjalan. Demi menarik perhatian massa, para pelaku kudeta akan sibuk memperjuangkan nilai-nilai ideal seperti kehangatan, kebersamaan, perjuangan, kekeluargaan, keterbukaan dsb demi menunjukkan betapa sempurnanya masa depan yang mereka tawarkan. Dalam romansa, pasangan akan menyirami korbannya dengan banyak romantisme, kebahagiaan, dan keistimewaan yang Anda semakin jarang dengar ataupun lihat terjadi di luar sana (karena disensor oleh sang pelaku kudeta).

Jelas poin kedua ‘bom-bom cinta’ ini hanya terjadi di awal hubungan. Tujuannya adalah agar Anda terjebak dalam dualisme yang semakin menebalkan kepercayaannya pada pasangan. Cepat atau lambat, Anda akan merasa bahwa apapun yang dilakukan oleh pasangan pasti lebih baik dibanding kengerian yang ada di luar sana. Anda perlahan-lahan tidak lagi merasa diri setara dengan pasangan; Anda bersukarela, bahkan merasa beruntung, bisa merendahkan diri di bawah pimpinannya.

Poin pertama dan kedua ini, dalam peta kudeta politik, dikenal dengan strategi propaganda ‘Us vs Them’ yang membuat keterpenjaraan terasa bagai anugerah. Itu sebabnya sekalipun kadang merasa dibatasi, banyak korban kudeta yang merasa itu lebih bahagia daripada putus atau cerai.

Military Acts

Kedua poin di atas biasa dilakukan oleh semua pasangan dalam kadar yang berbeda-beda, baik disengaja maupun tidak. Tapi yang membuat hubungan cinta mengalami kudeta dalam artian sebenarnya adalah poin terakhir ini, yaitu adanya perilaku kekerasan secara verbal atau fisik. Dalam kudeta politik, tahap ini biasanya melibatkan konfrontasi angkatan bersenjata. Dalam kudeta cinta, kendali hubungan sedang dirampas total ketika salah satu menyerang atau menyakiti pihak lainnya secara verbal maupun fisik atas dasar apapun. Kehidupan Anda diambil alih secara paksa, dilucuti dari rasa keberhargaan, disangkali hak keamanan dan kenyamanannya, dan dipenjara oleh rasa malu jika orang-orang mengetahui hal tersebut.

Pelaku kudeta cinta biasa menghaluskan kekerasannya itu dengan alasan sangat mencintai dan ingin melindungi. Seringkali Anda merasa itu memang salah Anda sehingga jadi memaklumi kekerasan pasangan dan melanjutkan hubungan karena merasa beruntung sang kekasih masih mau pada Anda. Jika pelaku kudeta cinta kebetulan minta maaf dan mengaku keterlaluan, efeknya justru jauh lebih mengerikan lagi karena Anda jadi terjangkit penyakit Messiah Complex: memaafkan dan berusaha mengubah kekasihnya jadi orang yang lebih baik. Tentu perubahan itu tidak kunjung terjadi, malah segala sesuatu akan jadi makin parah. Anda tidak memiliki kuasa dalam hubungan, dan merasa tidak berkuasa untuk keluar dari hubungan. Mengerikan.

Hubungan cinta yang abusive selalu dimulai dari proses kudeta alias pengambilalihan kuasa dan kepemilikan hubungan. Jadi ingat satu hal ini: dalam hubungan cinta, Anda sewajarnya bukan milik pasangan Anda dan demikian juga pasangan Anda sewajarnya bukan milik Anda.Masing-masing pihak perlu berdiri independen, menyekolahkan diri agar cerdas romansa, dan setara berbagi kendali dalam hubungan, bukannya menyerahkan pada satu pihak saja atas nama cinta. Pria atau wanita manapun yang lengah bisa jadi korban kudeta cinta, dan orang yang paling baik sekalipun juga bisa jadi pelaku kudeta cinta jika kendali hubungan tidak dikelola dengan baik.

Berhati-hatilah berurusan dengan Gossips dan Love Bombs, dan sudahi segera jika hubungan sudah sampai melibatkan Military Acts. Atau jika saat ini hubungan Anda sudah berada dalam kondisi demikian, hubungi saya di HitmanSystem.com untuk mendapat bantuan mediasi penanganan kudeta cinta.

Terima kasih telah membaca, selamat tidak terkudeta.