Baru Kenal Langsung Ngajak Nikah? Jangan Senang Dulu!

Lagi ramai di media sosial tentang wanita yang menerima ajakan nikah dari pria yang baru dikenalnya lewat Twitter. Banyak yang mendukung, mendoakan, dan barangkali berharap punya nasib sama dengan wanita itu: dikirimi pesan oleh seseorang, saling chat bareng, terus tahu-tahu langsung ngajak nikah. Enak deh jadi tidak perlu lama-lama PDKT dan pacaran karena yang lain sudah menikah semua.

Masalahnya, melewati atau mempercepat masa pacaran ada resikonya. Dan resikonya besar sekali! Kalau tahu resikonya tentu Anda bakal berpikir seribu kali kalau ada yang langsung ngajak nikah.

Waktu Anda masih kecil, orangtua Anda selalu menasihati agar jangan mau diajak jalan-jalan oleh orang asing. Anda bisa saja berakhir di keluarga lain yang butuh anak atau disuruh jadi pengamen di kota lain. Nasihat itu pasti tertanam kuat di benak Anda sampai-sampai Anda langsung siaga satu ketika ada orang asing yang mendekati Anda.

Nah, kalau orangtua Anda saja sudah menasihati betapa berbahayanya diajak jalan sama orang lain, bisa Anda bayangkan betapa kelirunya kalau mau diajak nikah sama orang asing! Anda mungkin tidak berakhir luntang-lantung di jalan, tapi lebih buruk lagi: Anda tinggal satu atap bersama orang yang sifatnya bisa saja berbahaya.

Coba pikir apa yang terjadi kalau menikah dengan orang yang cuma Anda kenal lewat Twitter? Setelah beberapa waktu tinggal bersama, Anda baru tahu ternyata pasangan Anda punya sifat jelek: malas cari kerja, membentak-bentak kalau keinginannya tidak Anda penuhi, memusuhi keluarga Anda, atau gampang sekali menampar kalau Anda dirasa kurang ajar.

Sifat-sifat itu tidak terendus di awal hubungan. Yang Anda lihat di awal adalah sifatnya yang ramah, mau mendengarkan, suka bercanda, dan sifat apa pun yang Anda impikan dari pasangan idaman. Ini adalah hal yang wajar karena selama masa pendekatan itu, seseorang pasti menunjukkan sifat yang baik agar orang lain tertarik. Kalau dia menunjukkan sifat jelek di awal, Anda tidak bakal tertarik apalagi berniat langsung naik ke pelaminan.

Sifat-sifat jelek itu biasanya baru terlihat setelah hubungan berjalan 3-6 bulan dan baru terpancing keluar ketika ada masalah. Kalau ia menyikapinya sambil marah-marah, membentak, bersikap masa bodoh, atau main pukul, maka itulah sisi lain dari sifatnya yang selama ini ia sembuyikan dari Anda.

Baca juga:
Masa Pacaran: Semua Jelek-jeleknya Ketahuan

Jika sifat itu muncul selama pacaran dan berlangsung terus-terusan, Anda bisa langsung meninggalkannya saat itu juga. Anda tinggal bilang “Oke sifat loe gak bisa gue terima lagi. Kita putus sekarang”, hapus nomor kontaknya, blokir kalau perlu, unfollow semua akun media sosialnya, lalu beres sudah. Anda tinggal membenahi hidup Anda yang sempat berantakan dan mencari pasangan baru yang lebih ideal. Masalah Anda palingan hanya mengurusi drama-drama mantan yang ingin balikan dan sebagainya.

Nah, kalau Anda buru-buru menikah, maka sifat-sifat jelek itu baru kelihatan batang hidungnya saat kalian sudah terikat pernikahan. Jika sudah terlanjur begitu, Apa yang bisa Anda lakukan? Kalau tidak pasrah menerima nasib Anda dan jadi bulan-bulanan pasangan di sepanjang hidup Anda, ya Anda bisa minta cerai yang mana tidak seenteng putusan.

Baca juga:
Fenomena Ngebet Nikah: Apa dan Siapa Penyebabnya

Yes, salah satu yang bikin banyak orang bertahan di pernikahan yang rusak adalah karena perceraian lebih melelahkan ketimbang putusan. Jika bercerai, Anda harus bolak-balik ke pengadilan, mengurus surat-surat perceraian, memikirkan nasib anak (kalau sudah punya anak), dan yang paling berat: menghadapi omongan tetangga dan keluarga. Dana dan emosi terkuras habis, makanya tidak semua orang berani mengambil opsi cerai.

Memang ada beberapa orang cukup beruntung menikahi pasangan yang ideal meski baru saling kenal. Tapi itu kemungkinannya kecil sekali terjadi pada Anda. Kenapa Anda harus mengesampingkan resiko agar bisa sama seperti orang-orang yang beruntung itu?

Di Kelas Cinta, kami selalu menganjurkan untuk berpacaran setidaknya selama 1-2 tahun sebelum memutuskan untuk menikah. Di rentang waktu selama itu, pasti akan ada masalah yang memaksa Anda dan pasangan mengeluarkan sifat jeleknya masing-masing. Di situ, Anda akan tahu bagaimana sifat lain pasangan yang selama ini ia tahan-tahan. Kalau Anda tidak bisa menolerirnya, Anda tinggal meninggalkannya dan cari pasangan lain. Lebih mudah, lebih cepat, dan tekanan mentalnya lebih mudah diatasi ketimbang cerai.

Kalau selama itu ternyata pasangan tidak menunjukkan sifat-sifat yang berbahaya, mau menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, selalu mendengarkan semua keluhan-keluhan Anda, dan sifat-sifat jeleknya masih bisa Anda tolerir (misal: sering lupa menaruh barang, sering boros saat belanja, dan sebagainya), maka silakan merencanakan pernikahan dengannya. Kemungkinan besar hubungan kalian akan berjalan sehat dan Anda pun lebih aman karena tidak bersama orang yang berbahaya.

Makanya masa pacaran itu penting banget karena di masa itu kalian jadi saling mengenal pasangan. Jika Anda memang sayang diri Anda, jangan sekali-sekali melewati masa ini!

Di buku 150 BAHASAN WAJIB SEBELUM NIKAH, Coach Kei Savourie sudah membuat 150 pertanyaan untuk Anda tanyakan ke pasangan. Dari jawaban-jawaban pasangan saja, Anda sudah tahu apakah dia pasangan yang bakal jadi teman atau lawan.

Kalau jawaban-jawabannya banyak sejalan dengan pandangan dan keinginan Anda, maka bisa dipastikan hubungan kalian akan damai dan bahagia. Anda cuma bisa memilih mau meninggalkannya atau menjalaninya dengan terpaksa.

Yang jelas, pertanyaan-pertanyaan yang dijabarkan Coach Kei Savourie jauh lebih masuk akal ketimbang sekadar menerima ajakan menikah dari orang asing di Twitter.

KLIK LINK di bawah untuk pesan bukunya!

150 BAHASAN WAJIB SEBELUM NIKAH

Jadi jangan senang dulu kalau ada orang asing yang langsung ngajak nikah!