PDKT, Pacaran & Jadian, Mana Yang Paling Mudah?

Hubungan cinta selalu memiliki tiga fase yang terjadi berurutan, yaitu masa pre-relationship, in-relationship, dan post-relationship. Masing-masing fase memiliki ciri dan pola perilaku yang berbeda. Tidak banyak orang yang tahu bahwa perbedaan fase mempengaruhi cara main di fase tersebut.

Fase Pre-Relationship

Fase PRE-RELATIONSHIP adalah momen PDKT (pendekatan) antar dua pihak yang belum memiliki hubungan apapun selain pergaulan dan pertemanan. Karena masih bebas, fase ini seperti berjalan ke pasar: Anda tidak boleh mendekati satu toko saja. Malah Anda harus berkeliling santai mencari banyak pilihan dan calon-calon gebetan. Saat PDKT, Anda juga tidak sewajarnya memberi keromantisan, cinta ataupun hak-hak lain di fase ini, karena itu seperti memberi layanan servis mesin cuci gratis pada orang yang belum membeli mesin cuci Anda. Bego ‘kan?

Karena PDKT umumnya dilakukan oleh pria, makanya berdasarkan survei  ada 51,72% pria menyatakan sulit melakukannya. Mereka harus berpikir keras cara memenangkan hati wanita idamannya. Itu pun belum termasuk bersaing dengan pria-pria lain yang mengejarnya. Sementara sisa pria lainnya merasa PDKT itu mudah saja, mungkin karena faktor keunggulan fisik dan pengalaman. Perbandingan antara pria yang mudah dan sulit saat fase PRE-RELATIONSHIP hanya beda tipis saja.

Tapi bagaimana dengan wanita? Apakah wanita merasa sulit juga? Ternyata survei mencatat 70,15% wanita anggap fase PRE-RELATIONSHIP itu mudah! Realitanya, kebanyakan mereka tinggal ‘duduk diam’ pasif santai saja meladeni segerombolan pria yang datang silih berganti menawarkan ini-itu. Tugas wanita tinggal menyeleksi, jadi masuk akal jika dianggap mudah. Bagi wanita, window shopping bukan cuma terjadi di pasar perbelanjaan, tapi juga di pasar romansa.

Fase In-Relationship

Fase berikutnya, IN-RELATIONSHIP, adalah momen menjalin hubungan yang serius, seperti pacaran, pertunangan, hingga pernikahan. Di titik inilah terjadi gejolak suka-duka hubungan yang sebenarnya. Di sini juga untuk pertama kalinya wanita cenderung menjadi pihak yang lebih aktif, sementara pihak pria berangsur-angsur jadi lebih pasif. Mengelola konflik, menyesuaikan diri, mengalah dan berkorban, mengendalikan emosi adalah sebagian kecil dari sistem perilaku dalam fase ini.

Itu sebabnya wajar saja jika 61,9% wanita anggap fase IN-RELATIONSHIP itu sulit dijalankan. Ini perubahan yang sangat drastis! Pada fase sebelumnya cuma 3 dari 10 wanita yang merasa PDKT itu sulit, namun setelah jadian ada 6 dari 10 wanita yang merasa pacaran itu sulit. Mungkin ini alasannya mengapa sekalipun seorang wanita banyak sekali didekati, dia harus extra ribet picky agar (mudah-mudahan) terhindar dari masa pacaran yang menyusahkan. Mayoritas pria sebanyak 54,14% juga sepakat anggap fase IN-RELATIONSHIP sulit, tapi itu cuma jinjit kalem sebanyak 3% saja dibanding fase sebelumnya.

Fase Post-Relationship

Fase terakhir, POST-RELATIONSHIP, adalah momen huru-hara yang terjadi di sekitar pembubaran hubungan. Sepanjang pengalaman saya menangani sesi konseling, konflik saat putus cinta jarang sekali terjadi singkat dan berlalu begitu saja. Drama seperti teror, memelas dan memohon, atau demonstrasi menyakiti diri adalah menu tayangan sehari-hari, bahkan berminggu-minggu. Saat putus, kedua pihak bisa berubah seolah jadi orang yang sangat absurd, kekanak-kanakan dan tidak berpendidikan.

Menurut survei, 86,56% wanita menyatakan fase POST-RELATIONSHIP adalah hal yang sulit, sementara cuma 54,14% pria yang berpikiran sama. Dilihat secara keseluruhan, pria seolah bisa menjalani masa putus sesantai dan sekalem mereka menjalani masa pacaran. Sementara seiring fase hubungan, semakin banyak wanita yang merasa kesulitan melaluinya: ada nyaris tiga kali lebih banyak wanita yang stress karena putus cinta dibanding karena sulit PDKT atau merasa tidak laku.

Perbedaan pengalaman dan perasaan orang saat menjalani ketiga fase hubungan di atas membuktikan adanya pola-pola tertentu yang bisa dipelajari agar lebih sukses dalam bercinta. Misalnya agar tidak jadi sial dan kesepian saat PDKT, pria perlu memperbanyak statistik gebetannya. Atau jika ada ladies yang merasa dirinya sulit PDKT, itu pasti karena Anda keterlaluan keras kepala TIDAK MAU melakukan apa yang wanita-wanita lain sudah lakukan.

Bagaimana, ada kesimpulan lain yang terpikir setelah Anda membaca ini?