Memahami Makna “Terima Apa Adanya” Dalam Relationship

Semua orang punya sisi buruknya masing-masing. Seperti Alex (bukan nama sebenarnya) yang punya sifat jelek—yang sayangnya susah dia ubah. Sebenarnya, sifat buruknya nggak begitu masalah menurutnya. Sampai pada akhirnya Olive, sang pacar, mulai mengeluh dengan Alex yang selfish, pemarah, terlalu sibuk hingga sangat jarang mengabari Olive.

Alex menganggap kalau keluhan dan tuntutan Olive semakin mengganggu. Baginya, keluhan Olive sangat nggak masuk akal. Jauh sebelum berstatus pacar hampir satu tahun silam, Alex sudah beberkan sifat jeleknya agar Olive nggak menuntut dan menyesal suatu hari nanti. Lagipula, bukannya cinta itu harus terima apa adanya?—begitu pikir Alex.

Terima apa adanya. Menurut kamu benar begitu?

Let’s say kamu seorang wanita. Siapa yang nggak bahagia kalau punya pria yang ngertiin sifat jelek kamu? Yang mau menjawab semua kode-kode kamu biar dianggap ngertiin kamu. Yang mau datang ke rumah buat anter makanan kesukaan kamu sebagai permohonan maaf saat kamu lagi marah karena lagi PMS, meskipun capeknya setengah mati. Yang tetep sabar ngeliat tingkah kamu yang ngambekan saat permintaan kamu nggak dituruti. Seburuk apa pun sifat atau sikap kamu, si pacar tetap sabar dan terima kamu apa adanya.

Ah, saya aja yang jadi wanita bakal bahagia banget diperlakukan seperti itu. Siapa sih yang nggak seneng diterima apa adanya sama pacar dengan seabreg sifat jelek?

Tapi… hanya karena pacar katanya bisa terima kamu apa adanya, bukan berarti kamu jadi nyebelin tanpa ada perubahan. Karena percaya deh, nggak ada orang yang tahan sama sifat buruk yang terus berulang tanpa ada perubahan. Yang ada enek, capek, dan sakit hati.

Pacaran atau ngejalanin sebuah hubungan seharusnya sih bisa membawa pengaruh baik, bukan membiarkan pasangan kamu terima kamu apa adanya dan tetap punya sifat buruk. Dan sebuah hubungan pastinya nggak selalu aman-aman aja. Ada tuntutan, ada keluhan, ada masalah yang seharusnya ditemukan solusinya. Bukan ngebalikin dengan kalimat.

“Kamu nggak terima aku apa adanya!”

Karena sebenarnya, nggak ada orang yang benar-benar terima kamu apa adanya. Maka ubahlah sifat-sifat buruk yang ada dalam dirimu, yang kamu sadari bahwa itu nggak baik. Susah pastinya. Karena keluar dari zona nyaman itu nggak mudah. Sulit, malah kadang bikin kamu balik lagi ke sifat yang dulu.

Perubahan jelas aja bukan karena tuntutan pacar kamu, juga bukan untuk pacar. Berubah karena diri sendiri dan untuk diri kamu sendiri.  Saat kamu sadar kalau kamu punya sifat jelek yang mungkin bakal bikin rugi diri sendiri, misalnya yang jomblo bakal susah dapet pacar karena sifat kamu yang jelek, sampe ditinggalin pacar yang udah nggak tahan sama sikap kamu.

Jadi menurut saya, terima pacar apa adanya itu nggak masuk akal. Apalagi kalau kamu udah pernah berusaha mati-matian buat berubah jadi lebih baik. Sudah dengan hebatnya keluar dari zona nyaman untuk jadi sosok yang jauh lebih baik. Kamu sudah berusaha jadi pribadi yang baik buat pacar betah dan usaha buat nyenengin diri sendiri dan pasangan…

Pas udah usaha upgrade diri sendiri, eh pacar nuntut diterima apa adanya? Enak aja!