Menjadi Wanita Pemilih

“Jadi cewek enggak perlu lah sekolah tinggi-tinggi, nanti susah dapat suami. Cowok-cowok pasti minder sama kamu, lagian kamu bakal balik juga ke dapur. Dulu, Mama itu nikah umur 21 tahun lho. Masa kamu sudah umur 28 tahun belum nikah juga. Mau jadi perawan tua? Apa perlu Mama kenalin sama anaknya temen Mama? Ada, tuh, anaknya Bu Suryo. Ya, memang sih kayaknya enggak sesuai dengan kriteria kamu tapi mau kapan nikahnya? Jangan jadi wanita pemilih yang penting cepet nikah. Mama mau cepet gendong cucu, nih.”

Sudah belasan kali Ayu mendengar kalimat seperti itu dan biasanya hanya berakhir dengan anggukan kepala. Mamanya tak pernah berhenti mengingatkan perihal jodoh sejak 3 tahun yang lalu—karena bagin Mamanya, batas wanita untuk tak menyandang predikat “Perawan Tua” itu di umur 25 tahun. Jika dulu masih mau beradu argumen dengan Mamanya, saat ini Ayu sudah terlampau lelah, makanya dia hanya mengangguk dan langsung pergi saat Mamanya sudah selesai berbicara.

Katanya, jadi cewek enggak perlu sekolah yang tinggi karena akan balik lagi ke dapur. Ayu tak sepenuhnya setuju. Baginya seorang Ibu tak hanya memikirkan urusan perut bagi suami dan anaknya. Ayu harus sekolah tinggi agar bisa memberikan berbagi ilmu juga kepada anaknya. Dengan sekolah tinggi, Ayu juga ingin agar anaknya termotivasi kelak.

Tadi, Mama bilang apa? Wanita pemilih? Lho, memang sebagai wanita Ayu enggak boleh memilih pasangan yang akan menemani dia menghabiskan waktu? Wajar, dong, dengan pencapaian karier yang sudah dia lakukan, rasanya Ayu berhak mendapat pria yang pantas. Ayu sebenarnya tak pilih-pilih pasangan kok. Iya enggak mencari pasangan yang sempurna. Hanya saja, pria yang dekat dengannya adalah pria-pria yang sepertinya tak mendukung kariernya.

Rafi. Pacaran hingga dua tahun, tapi ternyata pria yang tak punya ambisi dan tujuan hidup. Dia kayaknya lebih senang pasrah dan menjalani apa yang sudah dilakukan dari dulu. Tak ada pencapaian yang maksimal. Kalau begini terus nanti Ayu enggak bisa berkembang karena Rafi sulit mendukungnya. Rafi juga orangnya sangat minder, padahal berkali-kali Ayu mendukung dan memebri saran untuknya tapi tak didengarkan.

Satria. Ough! Si anak kecil itu. Hanya bertahan hingga tiga bulan. Itu juga karena dia mohon-mohon biar enggak diputusin. Kalau ada yang bilang semua cewek drama—ternyata masih ada cowok drama. Pergi meeting dicurigain. Ketemu sama teman-teman ditungguin di mobil (kan jadi buru-buru). Sibuk kerja marah-marah, katanya enggak ada waktu untuk dia. Insecure dan sangat ketergantungan.

Andri. Salah satu mantan kliennya. Hidupnya cukup mapan, sangat ambius dalam hidup, mandiri, perhatian pula dengan orang tuanya, dan pekerja keras. Namun, hubungan harus berakhir setelah  tiga tahun pacaran karena Andri terbukti selingkuh. Dua kali! Pertama dimaafkan, kedua  masih juga selingkuh. Coba kalau dipaksa nikah, apa enggak mungkin dia lakukan hal itu lagi?

Bagi Mamanya, Ayu pilih-pilih. Namun, bagi Ayu dia berhak dapat pasangan yang seimbang dengannya—bahkan harus di atasnya. Kalau banyak wanita yang sudah menuju “deadline” terpaksa menurunkan standarnya agar tak disebut perawan tua, Ayu tak akan melakukan hal itu. Baginya  masih ada pria lain yang bisa menjadi pendampingnya. Tidak seperti Rafi yang suka minder dengan keberhasilan Ayu. Tidak si anak kecil Satria yang hanya menghambat mimpinya. Bukan pula Andri yang tukang selingkuh.

Nah, Ladies, menurutmu Ayu ini wanita pemilih bukan, ya?