Home » LDR

3 Hal Penting Untuk Meminimalisir Konflik LDR

konflik ldr kelas cinta

Banyak orang yang berasumsi bahwa LDR tidak akan pernah berhasil bahkan sampai pada pernikahan dan LDR sangat rentan terhadap berbagai permasalahan. Memang sih, LDR makes many things unachievable, complicated dan bisa saja bikin pelakunya galau berkepanjangan. Konflik relationship biasa saja sudah rumit, apalagi konflik LDR?

Karena ke-tidak-terjangkauan sang pasangan dengan kamu inilah yang kadang membuatmu menyalahkan situasi hingga memicu adu argumen dan ego dengan pasangan. Lalu, apa saja sih cara yang bisa kamu lakukan untuk meminimalisir timbulnya konflik LDR dengan pasangan? Berikut tipsnya.

1. Forgive and Forget

StockSnap_A158WX4CLC
via Stocksnap

Konflik LDR tidak jauh berbeda dengan konflik relationship lainnya. Ketika kamu pernah berkonflik dengan pasangan, jangan segan untuk menerapkan konsep forgive and forget jika kamu menilai bahwa pasangan dan hubungan kalian ini worth it untuk diperjuangkan sampai akhir.

Saat pasangan tanpa sengaja berbuat kesalahan, kamu memang memerlukan waktu untuk mempercayainya kembali. Tapi ketika dia sudah jujur mengakui kesalahannya dan menyesali maka jangan berlama-lama untuk saling meminta maaf setelah itu lupakan kejadian tersebut dan melangkahlah ke depan.

Jadikan setiap konflik yang terjadi sebagai batu loncatan untuk menapaki jenjang yang lebih tinggi dan lebih serius lagi dalam hubungan. Bukankah tidak ada sesuatu di muka bumi ini yang tidak mendapatkan ujian? Nah, begitu jugalah dengan kamu dan pasangan.

Kenapa kalian juga harus melupakan apa yang sudah terjadi? Agar di kemudian hari ketika kamu dan pasangan sedang ngambek atau bad mood, kamu tidak akan menjadikan akumulasi kesalahan masing-masing di masa lalu sebagai bahan untuk menimbulkan perselisihan baru dan saling menjatuhkan. Itu salah loh, guys!

Yang berlalu biarlah berlalu dan kamu pasti sudah paham bahwa tidak ada manusia yang terus-menerus akan berbuat kesalahan yang sama, begitu juga dengan pasanganmu.

Alexandra Asseily, seorang saksi pada peperangan sipil Lebanon, dalam sebuah documenter The Power of Forgiveness pernah menyatakan bahwa pemaafan mampu membantu seseorang untuk melepaskan rasa sakit dan ingatannya, dan saat seseorang melepaskannya maka dia memang masih memiliki ingatan itu tapi ingatan tersebut tidak akan mengendalikan dirinya.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Lichtenfels, Buechner, Maier, dan Fernandez-Capo tahun 2015 mengemukakan bahwa pemaafan secara emosional bisa mengarahkan seseorang untuk melupakan hal-hal yang melukainya. Dengan demikian, seseorang bisa berhati-hati, menghindari kesalahan dan luka yang serupa di masa depan serta memperbaiki sikapnya untuk tidak lagi menyakiti.

2. Kelola Ekspektasi Terhadap Pasangan

StockSnap_9U4Y0TUQ5H (1)
via Stocksnap

Content continue below...

Mempunyai pasangan yang perhatian dan bisa memenuhi kebutuhan masing-masing adalah impian setiap orang. Tapi, bagaimana jika ternyata pasanganmu bukanlah orang yang seperti itu? Bagaimana bila pasanganmu adalah orang yang cuek dan sibuk? Dengan demikian, kamu perlu menahan ekspektasimu terhadap pasangan.

Penelitian yang dilakukan oleh Emma Dargie, Karen L. Blair, Corrie Goldfinger & Caroline F. Pukall pada tahun 2014 menyatakan bahwa rentang dengan pasangan dan jarangnya kamu bertemu dia bukanlah yang penting, yang terpenting adalah bagaimana kamu bisa memahami perbedaan antara ekspektasi terhadap hubunganmu saat ini dengan realita yang sebenarnya.

Ketahuilah bahwa kamu maupun pasangan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saat kamu sudah memutuskan untuk memilihnya sebagai pasangan bukan berarti kamu memaksa dia untuk menjadi seperti yang kamu inginkan. Bila saat ini kamu LDR karena pasangan bekerja di luar kota/pulau/negeri, mengertilah bahwa dia tidak akan bisa setiap saat mengabari sebab dia juga punya pekerjaan yang sudah cukup menyita waktu dan perhatiannya.

Jika kamu memang ingin agar dia bisa sesekali mengabarimu agar kamu tidak cemas, maka katakanlah tetapi jangan paksa dia untuk melakukan sesuai yang kamu inginkan. Kalau memang dia mencintaimu, jarak selebar apapun dan kesibukan yang tiada tara pun tidak akan menghalanginya untuk tetap menghubungimu. Bersabarlah. Mungkin dia punya cara tersendiri untuk memperhatikanmu.

3. Tanamkan Kepercayaan

StockSnap_6SSWBQN915 (1)
via Stocksnap

Pada buku yang ditulis oleh Brehm, Miller, Perlman & Campbel pada tahun 2001 yang berjudul Intimate Relationship tertulis bahwa trust atau kepercayaan merupakan salah satu aspek pemenuhan kepuasan hubungan seseorang dengan pasangannya. Membangun kepercayaan pada hubungan romansa memang bukanlah perkara mudah dan membutuhkan proses.

Di dalam buku yang digarap oleh Gass dan Seiter berjudul Persuasion, Social Influences And Compliance Gaining tahun 1999, kepercayaan itu bisa terbentuk karena adanya faktor perhatian dan kepedulian, keterandalan serta kejujuran.

Saat kamu harus terpisah dengan pasangan untuk beberapa waktu, maka menanamkan kepercayaan satu sama lain adalah hal yang penting. Ketika kepercayaan sudah kamu kantongi maka kamu tidak akan menuduh pasangan yang tidak-tidak misalnya saja sewaktu dia sulit dihubungi dan komunikasi kalian mulai renggang. Supaya tidak salah paham dan kamu tidak ngambek, tidak ada salahnya kamu menanyakan apa yang sedang terjadi padanya. Mungkin saja dia sedang banyak tugas kuliah, sedang meeting di kantor atau sedang menggarap project di tempat yang sulit terjangkau sinyal. Sebaliknya, sebagai pasangan pun perlu bersikap jujur satu sama lain.

Jangan menyembunyikan sesuatu hanya untuk meredakan kecemasan pasanganmu. Jika memang kamu ada masalah dan sedang tidak ingin berkomunikasi sejenak, katakanlah dengan jujur tanpa menyakiti hati pasanganmu. Kenapa harus begitu? Kamu tahu, kejujuran dalam kepercayaan ini menjadi salah satu kunci utama dalam menyelesaikan konflik LDR, lho. Pada buku berjudul Exploring Social Psychology yang ditulis Myers pada tahun 2004 mengemukakan bahwa kepercayaan dapat mengurangi intensitas kecemasan saat terjadi konflik.

Share Your Thoughts