Selingkuh Adalah Akibat Bukan Penyebab

Setiap relasi cinta pasti ada masalah internal, baik yang ringan maupun yang berat. Ini adalah hal yang sangat wajar mengingat ada dua orang yang berbeda kebiasaan, pola pikir, dan perilaku yang hidup bersama. Namun, bukannya mengurus masalah-masalah internal yang terjadi, banyak orang malah sibuk membina obrolan/kedekatan dengan pihak lainnya. Alhasil masalah awal yang tidak beres malah ditambah masalah baru yang muncul. Akhirnya semuanya jadi kusut, lalu menyalahkan pasangan, bilang “terlanjur” dan bawa-bawa kalimat “wah kita gak cocok/jodoh.” Ini yang menunjukkan bahwa sebenarnya selingkuh adalah akibat dari hubungan yang sudah retak, bukannya jadi penyebab keretakan hubungan.

Ini kekeliruan yang sepele, tapi sangat umum terjadi. Hampir setiap kasus perceraian atau putus cinta pasti bisa didiagnosa ada kekeliruan seperti itu.

Masalahnya, mencari pembelaan/perhatian dari orang lain itu lebih gampang dan enak daripada membereskan masalah. Makanya selingkuh itu populer karena cepat dilakukan ketimbang menelaah, membedah, dan mendiskusikan masalah sampai ketemu jalan keluar. Opsi pertama bisa dilakukan sambil santai, sedangkan opsi kedua biasanya berlangsung penuh ketegangan, perdebatan, dan memakan banyak waktu.

Bagi Kelas Cinta, selingkuh biasanya bukan masalah awal dalam hubungan, justru selingkuh adalah akibat dari masalah sebelumnya yang tidak terselesaikan.

Jika Anda ingin memiliki hubungan yang sehat tanpa dibayang-bayangi perselingkuhan, maka semenjak awal sebaiknya Anda mengecek kemampuan diskusi pasangan karena itu yang menunjukkan apakah pasangan adalah orang yang mau bekerja sama untuk menyelesaikan masalah atau tidak. Pastikan dia bukan orang yang suka lari atau memendam masalah. Begitu pula dengan Anda; kalau ada masalah, jangan dipendam, disembunyikan ataupun mengalah, Anda harus membawanya ke meja debat!

Jangankan masalah yang tidak diselesaikan, isi hati seperti rasa kesal, kecewa, dan sebagainya yang tidak diutarakan saja akan jadi pemicu perselingkuhan dan disharmoni hubungan.

Mengapa bisa begitu? Bayangkan jika Anda dan pasangan terbiasa memendam isi hati karena takut dinilai macam-macam oleh pasangan, lalu Anda bertemu dengan orang yang mana Anda bebas mengutarakan isi hati Anda tanpa takut dinilai yang tidak-tidak.

Apa yang akan terjadi?

Bisa dipastikan Anda sudah menanam bibit-bibit perselingkuhan karena Anda merasa nyaman dengan orang tersebut dan Anda secara tidak langsung berinvestasi ke hubungan dengan pihak ketiga. Semakin sering Anda menginvestasikan cerita, kisah, dan waktu bersamanya, Anda akan semakin jatuh cinta ke pihak ketiga tersebut.

Baca juga:
Memahami Logika Pertumbuhan Cinta

Dengan minimnya pendidikan, literasi, dan kemampuan komunikasi sebagian besar orang Indonesia, sebenarnya tidak mengherankan banyak yang tidak mampu diskusi atau bernegosiasi dengan pasangan sendiri. Apalagi jika masih mengelola pernikahan dengan dalil-dalil hati, jodoh, dan segala tetek bengek ekspektasi rohani yang menyunat logika. Biasanya hubungannya bukan semakin membaik, malah semakin belok ke jalan yang keliru.

Bagaimana bisa menemukan solusi dan perbaikan jika yang dilakukan hanya diam, sabar, mengalah, sambil berharap pasangan akan mengerti dan berubah? Akal sehat Anda sebenarnya mengerti bahwa tanpa usaha yang berarti, masalah Anda mustahil secara ajaib selesai begitu saja. Di film, komik, atau novel cinta mungkin cara itu berhasil, tapi di dunia nyata jelas tidak! Perubahan atau perbaikan hanya terjadi jika Anda melakukan sesuatu!

Sadari bahwa ketidakmampuan Anda dan pasangan berdialog/berdebatlah yang semakin memperlebar pintu dan jendela untuk pihak-pihak ketiga masuk ke dalam hubungan. Insting berselingkuh memang tertanam alami dalam setiap manusia dan Anda membangkitkannya lewat meredam/mengabaikan masalah dalam hubungan.

Oleh karena ada masalah/perasaan yang terus dipendam, maka Anda akan tanpa sadar terdorong bertingkah untuk “memberontak” dan menyabotase hubungan. Biasanya dimulai dari tanpa sadar melakukan hal-hal pasif yang Anda tahu KURANG/TIDAK disukai pasangan, misalnya: jadi malas menanggapi omongannya, bersikap dingin setiap kali bertemu, cuek saat diajak ngobrol, dan sebagainya.

Hal-hal pasif itu terus meningkat ke hal-hal aktif yang tidak disukai pasangan, misalnya: sering membatalkan janji mendadak, banyak kerja lembur, membeli barang/kegiatan yang tidak penting, dan sebagainya yang pasti membuat pasangan jengkel.

Saat hubungan bermasalah, Anda bisa tanpa sadar gatal ingin mengonsumsi sesuatu yang bertentangan dengan keinginan, kesukaan, dan kebiasaan pasangan. Kenapa bertingkah seperti itu? sengaja membeli barang yang tidak disukai pasangan itu untuk mengekspresikan frustrasi, plus “kode” cari perhatian. Artikel ilmiahnya bisa Anda tengok di bawah:

Baca Juga:
Oppositional brand choice: Using brands to respond to relationship frustration

Walau penelitian mengakui sikap begitu bisa efektif untuk melepas frustrasi, tapi itu TIDAK MENYELESAIKAN MASALAH, cuma bikin perasaan lebih tenang saja. Lalu karena lebih gampang melepas frustrasi daripada berdiskusi mencari solusi, akhirnya jadi kecanduan melakukan yang pertama daripada yang kedua. Hasilnya semakin bertambahlah kelakuan dan kegiatan yang “memberontak” itu sehingga merasa tidak bersalah meniti keakraban rahasia dengan pihak ketiga.

Tidak  lama kemudian, one thing led to another, tahu-tahu Anda dan pihak ketiga itu semakin akrab, semakin sering bertemu, semakin sering berinvestasi dalam hubungan dan Anda (pura-pura) tidak sadar sudah masuk ke perselingkuhan.

Makanya saat ada kekecewaan, ketidakpuasan, atau perasaan tidak enak lainnya, SEGERA BICARAKAN atau DIDISKUSIKAN supaya tidak kusut dan tidak tersandung masalah baru. Semakin Anda tunda membicarakan masalah internal, semakin Anda MEMBERI KESEMPATAN diri sendiri dan pasangan untuk “tersandung” kenikmatan bersama pihak ketiga di luar sana.

Coba Anda ucapkan mantra ini berulang-ulang: SEGALA SESUATU SELINGKUH PADA WAKTUNYA. Kalau sudah, tugas Anda sekarang ya jangan mempermudah/mendorong itu terjadi!

Anda yang masih baru mengikuti Kelas Cinta dan belum mengerti kenapa mantranya begitu, silakan pelan-pelan baca artikel di bawah….

Baca juga:
Segala Sesuatu Selingkuh Pada Waktunya

Jika Anda ingin tahu bagaimana langkah-langkah menyelesaikan masalah dalam hubungan dan membuat pasangan ikut serta dalam proses tersebut, maka Anda bisa mempelajari caranya di Smart Conflict Resolution; online course yang berisi bagaimana cara menghadapi konflik APA SAJA dengan elegan dan mendapatkan apa yang Anda inginkan. Jika masalah hubungan tidak diselesaikan secara elegan dan cerdas, Anda justru akan kehilangan lebih banyak daripada apa yang akan Anda dapatkan. Online course ini berisi video dan ebook latihan yang bisa Anda akses kapan pun dan di mana pun selama Anda terhubung dengan internet. Jadi Anda tidak ada alasan untuk tidak belajar.

Pelajari ilmunya lewat LINK di bawah:

SMART CONFLICT RESOLUTION

Sekali lagi ingat bahwa selingkuh adalah akibat dan awalnya sederhana….