Ilmu Cinta: Sungguh Ada Atau Hanya Mengada-Ada?

ilmu

Setiap kali orang bertanya tentang profesi dan saya menjawab, “Romantic Relationship Coach,” mereka selalu tersenyum tidak percaya. “Pelatih hubungan cinta? Dokter cinta gitu?” kadang mereka bertanya, “Kayak di film Hitch-nya Will Smith?” Saya biasanya jawab, “Ya kurang lebih, tapi itu ‘kan cerita fiksi. Kalau saya, beneran.” Lalu mereka lanjut tertawa.

Saya biasanya ikut tertawa dengan mereka, sulit sekali tersinggung, karena orangtua saya sendiri pun masih sulit mengerti ataupun mempercayai profesi yang sudah saya jalani selama hampir satu dekade ini. Mereka dan kebanyakan orang lainnya berpikir, “Cinta kok belajar, pake ada teorinya segala? Seharusnya kan alami aja!” Saya sudah jelaskan itu dulu panjang lebar di artikel Perlukah Sekolah Cinta?, jadi saya tidak akan mengulanginya lagi. Dalam artikel sekarang ini saya mau lebih spesifik bicara tentang keberadaan ilmu cintanya.

Benarkah cinta bisa dibuat menjadi suatu ilmu? Bukankah Agnes Monica sudah memberi vonis, “Cinta ini kadang-kadang tak ada logika, berisi semua hasrat dalam hati” yang berarti cinta sangat sulit dimengerti? Tidakkah jika kita bertanya pada 10 orang tentang arti cinta, kita akan mendapatkan 20 variasi jawaban yang berbeda? Dan tidakkah kita sebagai manusia sudah terlahir dengan kemampuan alami untuk mencintai, jadi untuk apa lagi mempelajarinya?

Sebenarnya cinta adalah materi yang paling banyak dikupas dalam sepanjang sejarah manusia. Para filsuf besar seperti Plato, Socrates, dan Aristoteles sudah membedah tentang makna cinta (pernah dengar istilah hubungan platonik?). Para pujangga kata dan rohaniawan di setiap jaman juga tidak pernah ketinggalan merangkai ilustrasi tentang cinta; Anda pasti pernah dengar tentang empat jenis cinta storge-philia-eros-agape dari C.S. Lewis, ‘kan? Lalu seiring perkembangan ilmu pengetahuan, cinta bukan lagi area bermain eksklusif para pekerja seni, tapi sudah menjadi area operasi bagi para akademisi. Misalnya John Alan Lee, psikolog dari Kanada, yang mengembangkan empat jenis cinta Lewis menjadi enam taksonomi cinta dalam bukunya Colours of Love.

Bagi saya pribadi, langkah pertama studi saya berawal dari buku klasik berjudul The Art of Loving karangan psikolog dan filsuf sosial bernama Erich Fromm. “Love isn’t something natural. Rather it requires discipline, concentration, patience, faith, and the overcoming of narcissism. It isn’t a feeling, it is a practice,” demikian tulisannya yang menjadi percikan api pertama yang menyakinkan saya bahwa cinta itu bukan cuma bisa, tapi juga harus, dipelajari. Namun psikolog lain bernama Robert Sternberg dengan konsep Segitiga Cinta-nyalah yang menggelitik saya untuk membuka realita romansa dari lingkup psikologi saja. Saya bertekad memetakan cinta dengan lebih nyata dari sekedar gosip indah nan hangat di referensi fiksi maupun rohani yang mengawang-awang itu.

Hari ini, hampir 15 tahun semenjak saya menyelesaikan buku Erich Fromm itu, saya berani mengkonfirmasi dengan penuh kepastian bahwa ilmu cinta itu benar-benar ada dan benar-benar berguna. Ada John Gottman dan Julie Schwartz yang mendirikan The Relationship Research Institute sebagai salah satu pusat penelitian terlengkap tentang hubungan cinta. Ada Elaine Hatfield yang sudah lebih dari 40 tahun meneliti unsur ketertarikan, kepuasan, dan keintiman emosional.  Ada ahli antropologi, Helen Fisher, yang meneliti cinta dari segi reaksi kimiawi tubuh. Ada Eric Berne, psikiater, yang menciptakan pendekatan Transactional Analysis dan membedah konsep relationship games. Ada David M. Buss dan Geoffrey F. Miller yang meneliti sistem hubungan sesuai kajian perkembangan evolusi manusia. Itu hanya secuil nama yang teringat oleh saya, masih ada banyak sekali ilmuan lainnya yang berdedikasi mempelajari cinta. Kadang mereka saling bertentangan, kadang saling mendukung, tapi itu wajar karena sains memang selalu direvisi dan berkembang sepanjang waktu.

Content continue below...

Saya hanya berdiri di atas pundak para raksasa itu untuk . Saya mempelajari, meminjam, dan memodifikasi apa yang mereka ketahui untuk membantu orang-orang yang mengalami kesulitan dalam cinta.

 

Sialnya memang semua itu tidak mudah dilihat. Cinta

Jika Anda melihat apa yang saya lihat

Mereka membedah cinta menjadi berbagai aspek kecil yang dapat diamati, seperti attachment, intimate relationship, affection, interpersonal attraction, romantic attraction, limerence, dsb.

Share Your Thoughts