Segala Sesuatu Selingkuh Pada Waktunya

Segala sesuatu selingkuh pada waktunya

Rasanya Anda tidak akan menyukai artikel ini. Tercatat 74% pria dan 68% wanita mengaku akan berselingkuh jika merasa bisa menyembunyikannya, demikian hasil survei tahun 2014 kemarin. Menurut Statistic Brain, 57% pria dan 54% wanita mengaku pernah berselingkuh; angka ini sebenarnya pasti lebih besar lagi karena ada orang-orang yang tidak mau mengaku.

Survei sederhana yang saya lakukan dulu juga meraih angka yang kurang lebih hampir serupa: 54% pria dan 62% wanita mengaku pernah berselingkuh. Ini bukan informasi yang memberikan semangat, jadi jika Anda merasa tidak siap untuk menerima realita, silakan tutup artikel ini dan buka situs lucu-lucuan saja.

Saya tidak tahu bagaimana perasaan Anda membaca angka-angka di atas. Mungkin Anda termasuk orang yang disiplin dan optimis bahwa Anda atau pasangan Anda tidak akan berselingkuh. Saya pernah yakin begitu, sampai beberapa tahun yang lalu saya terlambat menyadari bahwa saya terlibat perselingkuhan, baik sebagai pelaku dan sebagai korban (walau tidak terjadi bersamaan).

Apakah saya terkejut ketika itu terjadi? Jelas. Butuh waktu yang lama bagi saya untuk bisa menerima realita tersebut. Kurang lebih seperti Anda yang juga akan perlu waktu lama untuk mencerna dan akhirnya mau menerima isi artikel ini.

Realitanya, motif untuk berselingkuh merupakan salah satu sifat alami manusia. Bertentangan dengan anggapan umum, perselingkuhan tidak selalu terjadi karena adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam hubungan. Penelitian pada tahun 1985 mencatat 56% pria dan 34% wanita yang berselingkuh mengakui bahwa pernikahannya sangat membahagiakan. Ini berarti ada faktor lain yang membuat manusia mendambakan hubungan ekstra tersebut.

Pada tahun 2010, Binghamton University meneliti keberadaan dopamine receptor D4 polymorphism (DRD4 gene) dalam DNA setiap manusia. Para peneliti menemukan ada variasi bentuk gen DRD4 itu yang membuat pria lebih bergairah mencari tantangan/kepuasan dengan orang lain di luar pasangannya. Penelitian University of Queensland tahun 2014 kemarin menemukan bahwa 63% kasus pria selingkuh dan 40% kasus wanita selingkuh terkait karena pengaruh unsur genetik. Mereka juga menemukan sebuah variasi gen bernama AVPR1A yang membuat wanita lebih bergairah untuk berselingkuh.

Selain kedua gen itu, motif berselingkuh juga bisa ditemukan dalam hormon: pria dengan kadar testosteron tinggi atau wanita dengan kadar estradiol tinggi cenderung mudah terpicu menginginkan orang lain di luar pasangan resminya. Keberadaan unsur-unsur biologis itu memang tidak otomatis membuat seseorang berselingkuh, namun dicurigai menambah motivasi/dorongan jika berada dalam kesempatan yang tepat.

Dengan kata lain, ada sebagian orang yang memang secara alami berbakat selingkuh.. sampai-sampai ada yang memelihara anggapan bahwa selingkuh bisa memperkuat pernikahan.

Tentu ada sebagian orang lainnya tidak cukup beruntung (atau sial?) menerima potensi/bakat genetik untuk berselingkuh. Apakah orang-orang tanpa variasi DRD4, AVPR1A, testosteron/estradiol tinggi bisa aman bebas dari gairah berselingkuh? Menurut saya tidak, mereka tetap akan berselingkuh karena ketidaksetiaan juga sangat terkait keadaan dan interaksi sosial.

Jika seseorang bisa dipengaruhi oleh lingkungan untuk menyakiti orang lain (baca tentang Milgram Experiment), kira-kira seberapa mudahkah seseorang dipengaruhi untuk meraih kenikmatan (baca: selingkuh)? Jawaban saya: keterlaluan sangat mudah dan alamiah.

Ada tiga social hacks yang seseorang lakukan sehingga ‘terjerumus’ berselingkuh.

Langkah pertama, Anda menyangkal dan mendefinisikan keakraban dengan sang lawan jenis lain sebagai sebatas teman ngobrol atau teman main. Bisa jadi itu benar, alias Anda tidak berniat selingkuh. Anda berkali-kali menyakinkan diri sendiri dan pasangan bahwa si teman chatting itu cuma-teman-saja, sambil tanpa sadar melakukan langkah kedua: menutupi intensitas interaksi Anda dengan si cuma-teman-saja, misalnya dengan tidak bercerita tentangnya, tidak memperkenalkan dengan pasangan, menghapus chat log, curi-curi waktu mengobrol dengannya, dsb.

Maksud Anda baik: menutupi agar pasangan tidak parno berpikir aneh-aneh tentang Anda dan si cuma-teman-saja. Tapi efek samping dari kerahasiaan itu adalah terciptanya dunia eksklusif antara Anda dan si cuma-teman-saja yang asyik, bagai permainan baru yang tersembunyi dan menegangkan (baca tentang dopamin).

Content continue below...

Seiring waktu, interaksi seru Anda dengan si cuma-teman-saja jadi lebih ada sensasi rasanya dibandingkan interaksi Anda dengan pasangan yang makin begitu-begitu saja. Ketika Anda dan pasangan alami konflik, secara alamiah Anda melakukan langkah ketiga: berkeluh kesah tentang masalah pasangan/hubungan Anda kepada si cuma-teman-saja.

Tentu Anda akan mendapat kenikmatan berupa simpati, pembelaan, kelegaan, dsb dari si cuma-teman-saja. Sementara dari pasangan, Anda merasa cuma menerima konflik, tekanan, dan hal-hal jenuh lainnya. Jika sudah sampai di titik ini, tidak peduli ada gen DRD4/AVPR1A atau tidak, Anda akan terdorong memelihara rasa spesial dengan si cuma-teman-saja. Pendek kata, Anda sedang dalam jalur berselingkuh.

Bibit perselingkuhan tersebut sudah terjadi sejak lama (tepatnya sejak langkah kedua di atas), Anda cuma baru menyadarinya saja.

Saya ingin Anda mengakhiri bacaan ini dengan kesimpulan bahwa sehebat apapun Anda memilih pasangan dan memegang prinsip, Anda tidak akan pernah sepenuhnya aman dari potensi selingkuh. Dalam sesi konsultasi (klik jika Anda butuh sekarang!), saya sering sekali menangani kisah perselingkuhan dari orang-orang yang berstandar moral/religi tinggi, orang-orang terkenal dan penting yang sangat dipandang masyarakat, serta juga orang-orang yang sedemikian bijak dan dewasa.

Tren perselingkuhan tentu juga sama maraknya di kalangan psikolog, coaches, therapists, motivator, inspirator, dan berbagai profesi konselor lainnya. Tidak perlu jauh-jauh, seperti saya sebut di atas saya pun pernah menyelingkuhi dan diselingkuhi.

Ini adalah realita pahit tentang selingkuh yang jarang sekali berani diakui, namun selalu terjadi di sekeliling kita. Di sepanjang hidup ini Anda pasti akan pernah beberapa kali terlibat selingkuh, sengaja maupun tidak dan sebagai pelaku maupun sebagai korban. Segala sesuatu selingkuh pada waktunya, karena kalau infant mengalami masa infancy maka adult juga mengalami masa adultery.

Tentu ini tidak berarti justifikasi untuk melakukan perselingkuhan. Saya hanya ingin mengungkapkan sebuah perspektif yang jarang sekali disadari orang. Daripada sok memusuhinya (tapi munafik diam-diam melakukannya), lebih baik kita berusaha menerimanya sebagai bagian kecil dari hubungan, sambil merenungkan situasi apa saja yang bisa memicunya, bagaimana kita bisa meminimalisir potensinya, dan perbaikan apa yang akan kita lakukan jika sadar sedang terlibat di dalamnya.

Menurut saya rajin mempertanyakan diri sendiri ketiga hal itu adalah kunci yang bisa menyelamatkan hubungan dan pernikahan Anda.

Salah satu tokoh yang saya sangat kagumi, Carl Sagan, pernah berkata, “Extinction is the rule. Survival is the exception,” saat membahas tentang evolusi manusia dalam bukunya, The Varieties of Scientific Experience. Bicara tentang evolusi hubungan cinta, saya juga punya pandangan yang berbunyi hampir senada: selingkuh adalah kewajaran, setia adalah pengecualian.. atau lebih tepatnya, keahlian.

Anda boleh setuju ataupun tidak setuju dengan pandangan saya ini, tugas saya hanyalah membisikkan sedikit edukasi agar Anda bisa lebih tenang dan bijak bila nanti tiba waktunya.

Jika berminat, silakan baca-baca artikel lainnya tentang selingkuh berikut:

Share Your Thoughts