Penyakit Sepele Yang Merusak Hubungan

Penyakit Sepele Yang Merusak Hubungan

“Setelah dapet apa yang dia mau, ya dianya jadi cuek,” demikian keluh banyak wanita tentang perubahan pasangannya beberapa lama setelah berpacaran. Kehadiran dan perhatiannya yang dulu selalu menghiasi hari semakin terasa meredup. Kejutan kecil dan spontanitas yang menggelitik kini tinggal sejarah. Ucapan, kecupan, ataupun pelukan apresiasi menjadi sebuah kelangkaan.

Hubungan perlahan meluncur turun jadi prioritas ketiga, keempat, atau mungkin lebih rendah lagi dibanding karir, hobi, dan teman-temannya. Kelihatannya umum dan sepele, namun ini salah satu hal kecil yang sering terjadi tanpa disadari.

Jika ditanya, jelas kebanyakan pria akan membantah. “Engga kok, gue ga anggap hubungan ini sepele. Buktinya gue masih ngelakuin X, Y, Z!” bantah mereka. Argumennya mungkin saja benar, tapi Anda tidak bisa memungkiri ada sesuatu yang sepertinya hilang dari semua tindakan-tindakan itu.

Entah frekuensinya, entah intensitasnya, entah cara eksekusinya, entahlah. Saya yakin Anda pasti pernah mengalami masa-masa seperti itu yang perlahan (tapi pasti) merusak hubungan.

Dari sekian banyak alasan pria seolah ‘menghilang’ dalam hubungannya, salah satu yang paling dasar adalah karena kehilangan gairah yang dia rasakan ketika mengejar dan berusaha meraih sesuatu yang diidam-idamkan. Ini bukan soal gairah seksual, bukan soal kejenuhan, bukan juga soal ketidakcocokan.

Gairah yang saya maksud serupa dengan debar gejolak saat menanti pesanan makanan; rasanya berbeda dengan gejolak kenikmatan ketika akhirnya memakan pesanan itu. Ini adalah sensasi yang Anda rasakan ketika antri di pintu masuk bioskop, sambil membayangkan keindahan yang sebentar lagi akan ditonton.

Gairah itu perlahan-lahan hilang ketika status hubungan sudah tercipta dan hubungan dijalani. Dr Aparna Labroo menyatakan, “Half the thrill is in the chase!”  jadi ketika seseorang berhasil meraih impiannya, paling tidak setengah gairahnya sudah hilang. Dia tetap bisa menikmati sensasi di dalam hubungan impian itu, bahkan sadar bahwa pasangannya adalah orang terbaik, namun dia juga kehilangan sensasi yang sebelumnya panas menggebu-gebu.

Alhasil, dia mudah sekali terpicu mengejar hal-hal lain (kadang termasuk mengejar keintiman dengan wanita lain) demi merasakan sensasi tersebut. Obsesi yang sangat merusak hubungan.

Sesungguhnya pria bukannya sulit menghargai nilai pasangan dan hubungan, melainkan dia merindukan percikan chemistry ketika sedang mengejar sesuatu. Bagai anjing yang seketika melompat energik dan berlari mengejar kucing tetangga. Hubungan yang cocok dan nyaman kadang bisa memperparah keadaan, karena dia merasa sudah selesai melakukan hal terbaik dan kini ‘gatal’ mencari kesibukan lain.

Semakin mencari proyek baru di luar hubungan, semakin dia kehilangan energi ataupun waktu mengelola hubungan walau mungkin mereka memikirkannya. Padahal sensasi yang sama sebenarnya bisa didapatkan lewat bekerjasama dengan pasangan untuk mencari dan menentukan target-target kecil dalam hubungan.

Content continue below...

Ketika pria menganggap hubungan sebagai tujuan alias akhir dari segalanya, wajar dia kehilangan gairah setelah mendapatkannya. Tapi jika dia melihat hubungan sebagai langkah atau perjalanan menuju tujuan lain, dia bisa tertantang mengelola hubungan dan menikmati sensasi gairah di sepanjang jalan. Riset Brian Knutso dari Stanford University mengkonfirmasi bahwa mengantisipasikan hal menyenangkan akan memicu neurotransmitter dopamine yang identik dengan gairah dan kebahagiaan.

Solusinya jelas: diskusikan target/proyek indah yang bisa dicapai oleh hubungan kalian, dan diskusikan bagaimana kalian meraihnya bersama-sama.

Misalnya, membuat jadwal liburan ke luar kota, bergiliran memasak makanan kejutan, merancang bisnis bersama, mengakrabkan pasangan dengan keluarga sendiri, berlatih menguasai bahasa asing baru, memodifikasi atau merenovasi rumah, mendiskusikan rencana pernikahan, dsb. Singkatnya jawaban untuk pertanyaan, “Hubungan ini bisa dipakai untuk membuat apa saja ya?” karena hubungan yang begitu-begitu saja, walaupun seperti harmonis, adalah hubungan yang mandul dan kadaluarsa.

Ini adalah satu rahasia kecil yang seharusnya Anda dan pasangan ketahui semenjak awal hubungan.

Masih ada satu rahasia kecil lainnya: penyakit kehilangan gairah ini tidak dialami pria saja! Saya sengaja sejak awal menulis seolah-olah ini adalah masalah pria, agar wanita merasa bergairah dan terbakar membacanya, lalu tiba-tiba ikut tertampar di belakang. :D Berdasarkan kasus-kasus di sesi Relationship Counseling (klik jika Anda butuh bantuan!), jumlah wanita yang benar-benar menelantarkan hubungan setelah jadian memang lebih sedikit dibanding pria, namun jumlah wanita yang pelan-pelan ‘perasaannya berubah’, ‘tidak secinta itu lagi’, dan ‘tertarik orang lain’ itu sama banyaknya dengan pria. Ini akibat sensasi gairah mengejar hal lain yang saya jelaskan dari awal. Pria dan wanita punya kelemahan, kebebalan, dan kedunguan yang sama!

Jika Anda memandang hubungan sebagai benda mati (seperti status, piala, fasilitas, prestasi), wajar Anda akan kehilangan minat seperti Anda jadi cuek menelantarkan handphone yang baru dibeli. Saya selalu menganalogikan hubungan sebagai pohon, alias organisme yang sewajarnya bisa bergerak, berkembang, dan menghasilkan.

Persepsi seperti itu bisa membuat Anda dan pasangan lebih bergairah termotivasi untuk mengejar, mengusahakan, dan melahirkan bayi-bayi impian bersama. Ungkapan ‘happy ending‘ yang didengungkan banyak dongeng sudah meracuni banyak orang untuk berpikir bahwa hubungan ada ending alias ujung/akhirnya.

Padahal menurut saya hubungan bahagia adalah hubungan yang terus bertumbuh.. alias happy growing.

Anda setuju, ‘kan?

Share Your Thoughts