Apakah Anda Benar-Benar Pria Pemilih?

Apakah Anda Benar-benar Pria Pemilih?

Bro, salah satu proses menjadi Glossy adalah mengenal diri sendiri dan membuang ilusi-ilusi di dalam diri Anda. Salah satunya adalah ilusi alasan bahwa Anda adalah seorang pria pemilih.

Saya teringat beberapa tahun yang lalu saat masih duduk di SMA, saya sering kali berkata seperti itu, “Ah gue emang tipe pemilih sih,” “Gue milih-milih wanita, man, musti liat semuanya dulu baru gue bakalan PDKT,” atau ratusan omong kosong lainnya seputar alasan serupa lainnya mengapa saya belum pacaran atau terlihat dekat dengan wanita manapun.

‘Pria pemilih’ menjadi realita palsu yang selalu saya gunakan dahulu. Mungkin Anda termasuk pria yang menggunakannya juga dalam kehidupan Anda sehari-hari sekarang ini. Saat itu, realita ‘pria pemilih’ begitu kental melekat dengan diri saya, bahkan saya anggap sebuah kebenaran yang absolut.

Bertahun-tahun kemudian, saya baru mulai menyadari kekonyolan tindakan itu.

Alasan pria pemilih yang sering saya dan Anda pakai dalam konteks tersebut adalah sebuah defense mechanism yang berguna untuk sebagian atau malah seluruh alasan berikut ini:

  • mencegah saya terlihat atau dinilai tidak laku oleh teman-teman
  • menutupi bahwa saya juga sebenarnya tidak tahu bagaimana cara mendekati lawan jenis
  • memberikan asumsi bahwa saya memiliki cita rasa tertentu dan setiap wanita harus melalui proses seleksi yang cukup ketat, bukannya seperti pria putus-asa yang siap menerima siapa saja yang datang ke arahnya

Anda keberatan? Tidak masalah, tunggu saja beberapa tahun lagi, Anda pasti akan mengerti maksud saya.

Ketika saya menyadari hal-hal di atas, alasan dan realita bahwa saya adalah ‘pria pemilih’ menjadi sesuatu yang menyedihkan. Mari beranalogi bersama-sama.

Cerita A:  Seorang pria masuk ke toko CD. Ia berjalan mengelilingi lorong musik Jazz, Pop, dan RnB. Setelah sibuk melihat sana dan sini, membaca track lagu, membandingkan sejumlah musisi, ia akhirnya membeli album terbaru Level 42.

Cerita B:  Pria lainnya masuk ke toko yang sama. Ia langsung menuju lorong musik RnB. Setelah sibuk melihat sana sini mencari sebuah judul album, berputar untuk mengecek di sejumlah rak dan lorong yang berbeda, dan bertanya pada shop assistant, ia keluar tanpa menenteng apa-apa.

Cerita C: Pria  ketiga masuk ke toko CD yang sama, berjalan di setiap lorong yang tersedia di sana, melirik kesana-kemari, lalu keluar tanpa membeli apa-apa. Temannya yang menunggu di luar bertanya, “Kok gak jadi beli? Kan banyak yang bagus-bagus?” Dia menjawab, “Ah, gue kalo beli CD tuh milih-milih. Tadi gak ada yang bagus sih,”  dan temannya mengangguk-angguk sambil berkata, “Oh gue juga sih, pemilih banget deh soal musik.”

Melihat kasus di atas,  pria A dan B kemungkinan besar memang sudah mempersiapkan diri dengan sejumlah kemampuan yang diperlukan, mis. persediaan finansial, pengetahuan tentang musik dan minat sejumlah genre, atau fokus pada sebuah album tertentu.

Sekalipun pria B dan C sama-sama tidak keluar menenteng tas belanjaan, namun ada perbedaan yang dapat dibedah. Mempertimbangkan sejumlah alasan, maka kita akan sampai pada kedua kemungkinan logis di bawah ini tentang pria C di atas:

  • Dia tidak membawa cukup uang, jadi supaya tidak malu dia tinggal mengaku dirinya tipe pemilih
  • Dia tidak tahu musik mana yang bagus karena hidupnya hanya seputar online game, chatting, Friendster, dan sejenisnya. Apa yang dia tahu seputar musik hanya soundtrack Winning Eleven atau game lainnya serta ringtone handphone. Namun agar tidak malu, dia tinggal mengaku dirinya tipe pemilih.

Itulah sebabnya pria A dan B lebih tepat dan masuk akal bila di sebut jelas adalah tipe pria pemilih dalam pengertian yang sebenarnya!

Content continue below...

Seorang pria layak menyebut dirinya ‘pria pemilih’ bila dia mampu mendapatkan pilihan yang diinginkan, atau setidaknya berada dalam realita bahwa dia memiliki sejumlah pilihan, atau sanggup menciptakan pilihan dan tinggal mengambil satu di antaranya tanpa perlu menambah usaha apapun.

Anda bisa mengerti sekarang mengapa alasan ‘pria pemilih’ oleh pria C itu terdengar sangat menyedihkan? Apakah Anda pernah melakukannya untuk konteks romance?

Saya pernah membahas ilusi realita pria pemilih dalam artikel Membongkar Realita Pria Pemilih.

Tanyakan pada diri Anda sendiri sekarang:

  • Apa Anda memang benar-benar menyadari dan merasa memiliki kemampuan untuk memilih wanita manapun yang Anda inginkan untuk dijadikan partner?
  • Atau pikiran dan perasaan itu hanya muncul agar Anda terhindar dari rasa malu bahwa Anda terus-menerus jomblo, tidak mengerti banyak soal cara mendekati wanita, dan selalu berakhir pada penolakan?

Silakan jawab dalam  hati nurani Anda sendiri.

Ilusi ‘Pria pemilih’ adalah salah satu ilusi berbahaya yang menjadi masalah utama banyak pria di luar sana.

Ilusi tersebut mencegah Anda untuk melihat ke dalam diri sendiri. Ilusi tersebut mencegah Anda untuk mengenali lebih kekurangan yang Anda miliki, terlebih lagi mengakuinya. Ilusi tersebut membuat Anda berpikir kalau Anda mampu membuat pilihan sementara kenyataannya tidak pernah ada pilihan sama sekali. Ilusi tersebut menghambat diri Anda untuk memperbaiki diri, terus tenggelam dalam pusaran yang gelap, sampai akhirnya ketika Anda sadar dan ingin mengubah keadaan, semuanya sudah terlambat.

Guys, wake up and smell the coffee.

Coba jadi jujur dengan hati Anda, dan tidak perlu malu atau terkejut bila menemukan ternyata Anda suka berlindung dibalik alasan ‘pria pemilih.’ Sebelum Anda melakukannya, jangan harap akan ada perubahan dalam kehidupan cinta Anda yang penuh ilusi.

Be proud that finally you are strong enough to admit it, and realize that you’re not alone. I’ve been there. Lex and Kei have been there also. Together, we can walk you to the glossy reality.

Are you coming?

Share Your Thoughts