Menghadapi Feminisme Wanita

feminisme

Di artikel feminisme yang kebablasan, saya mengulas tentang wanita-wanita yang menggunakan feminisme sebagai alasan untuk menjadi wanita yang bisa bertingkah seenaknya kepada pria. Salah satu penyebab mengapa wanita-wanita feminisme seperti itu tetap eksis dan makin bertingkah, adalah karena pria-pria tetap menginginkan mereka meskipun mereka bukanlah wanita yang layak untuk dijadikan pasangan.

Terserah Anda menilai saya sexist atau stereotyping. Yang jelas itu adalah kenyataannya. Dari jaman batu hingga jaman postmodern sekarang ini, kenyataan itu tetap berlaku. Harap diingat bahwa saya tidak berbicara soal harkat dan martabat: sebagai manusia, wanita dan pria semuanya sejajar.

Jangan salah paham. Saya sangat setuju dengan ide feminisme; persamaan hak wanita untuk memperoleh pendidikan setinggi mungkin, memilih karir/profesi yang mereka inginkan, memiliki hak politik, memiliki hak perlindungan hukum, dsb.

Saya berbicara soal peran dan mentalitas. Dalam hal hubungan romansa, wanita dan pria punya peran dan posisi yang berbeda. Dan ini yang tidak diketahui oleh banyak orang dan menjadi sumber masalah romansa mereka.

Dengan pola pikir ‘be yourself‘ yang selalu digembar-gemborkan di mana-mana lewat media, kita mulai melenceng dari peran kita yang seharusnya. Wanita mulai menjadi maskulin dengan sloganfun fearless female dan girl power, dan pria mulai menjadi feminin dengan menjadi terlalu sensitif secara emosional dan metroseksual. Dan ini yang menyebabkan banyak orang mengeluh tidak dapat menemukan pasangan yang tepat. Mereka sudah memilih peran yang salah dari awal!

Dewasa ini, wanita yang mampu mengalahkan pria di segala hal dianggap hebat dan dikagumi, dan pria yang tidak takut untuk menangis dan menunjukkan kelemahannya dianggap pria yang sejati. Tapi jujur saja, tidak ada pria yang menyukai wanita yang kasar, dominan, tukang ngatur, terlalu girl power, dan jutek. Sama seperti tidak ada wanita yang menyukai pria yang terlalu sensitif, sedikit-sedikit mellow, panik, ngarep, dan terbawa perasaan.

Bukankah semua ini kekacauan luar biasa?

Peggy Giordano, seorang professor sosiologi di Amerika Serikat, pada Majalah TIME edisi September 2006, membeberkan hasil penelitiannya selama beberapa tahun: pria-pria generasi sekarang lebih sensitif tentang cinta dan romansa daripada wanita. Mereka tidak ada niat bermain-main atau memanfaatkan wanita dalam hubungan romansa, karena itu pria lebih serius dalam sebuah hubungan. Anggapan bahwa pria hanya menginginkan seks dan bersenang-senang sudah dipatahkan lewat penelitian ini. This is the new age of romance, where the boys want to get married and the girls just want to have fun!

Semuanya terbalik seperti kapal karam di dasar Atlantik!

Kalau Anda bertanya pada orang-orang tua atau kakek-nenek kamu, Anda akan mendengar kisah-kisah romansa yang begitu sederhana dan indah. Mereka bertemu, saling jatuh cinta, menikah dan hidup bahagia hingga hari ini. Pada 30-50 tahun yang lalu tidak ada deviasi sosial yang kita lihat sekarang. Orang-orang di jaman itu mengikuti peranan mereka yang seharusnya. Di jaman itu, men were men and women were women. That’s why it’s relatively easy to find the mate of your life. It’s so natural.

Content continue below...

Jadi pelajaran apa yang bisa Anda ambil dari semua ocehan panjang lebar ini? Dan bagaimana pengetahuan ini dapat memperbaiki kehidupan romansa Anda?

Sederhana saja: ANDA HARUS PUNYA STANDAR.

Wanita saja punya standar. Mereka tahu dengan jelas pria seperti apa yang mereka inginkan. Pria yang maskulin, dewasa, mapan, mampu bersikap tegas, tidak emosional, memiliki integritas, bisa memimpin sebuah hubungan dan dapat membimbing serta melindungi mereka. Dengan kata lain, wanita hanya menginginkan pria sejati.

Karena itu, Anda pun harus punya standar. Wanita seperti apa yang Anda inginkan?

Wanita yang cantik dan seksi tapi tidak tahu caranya bersikap seperti seorang wanita? Atau wanita yang tahu caranya menghargai dan menghormati Anda sebagai seorang pria, yang tahu caranya membawa diri dan bersikap di hadapan teman-teman atau keluarga Anda? Wanita yang memiliki kualitas keibuan yang penyayang, lemah lembut, halus tutur katanya, yang membuat Anda yakin bahwa Anda dapat mempercayakan anak Anda kelak dalam perawatannya? Dengan kata lain, seorang wanita sejati yang dapat Anda banggakan.

Apabila Anda menginginkan seorang wanita sejati, maka mulai sekarang janganlah menjadikan kecantikan atau bentuk tubuh seorang wanita sebagai prioritas Anda. Jadilah tegas. Katakan TIDAK apabila Anda menemukan wanita yang tidak wanita. Dia tidak layak untuk seorang pria sejati seperti Anda. Sudah cukup banyak pria berkualitas yang jatuh bergelimpangan dan hancur hanya karena wanita yang sebenarnya tidak layak untuk dikejar. Janganlah menjadi pria-pria tersebut.

Tapi tentu, sebelum Anda menuntut hak, Anda pun harus melakukan kewajiban Anda. Rasanya tidak adil apabila Anda menuntut wanita menjadi wanita sedangkan Anda sendiri belum menjadi pria yang layak untuk mendapatkan mereka. Karena itu lakukan segala macam cara untuk meningkatkan kualitas Anda sebagai pria. Salah satu hal yang dapat Anda lakukan adalah dengan mengikuti Hitman System Online Training, di mana saya dan para instruktur lainnya akan membahas habis bagaimana caranya bersikap sebagai seorang pria sejati dalam dunia romansa.

Cinta itu sederhana, sangat alami, dan tidak perlu dipelajari, ayah ibu dan kakek nenek Andalah buktinya. Tapi manusia dan segala jenis budayanya membuat segalanya menjadi ribet dan terbolak balik seperti sekarang. Pria, jadilah pria. Wanita, jadilah wanita. Lalu berbahagialah bersama.

Share Your Thoughts