Topik Sakti Ngobrol Asyik Ke Gebetan

priscilla-du-preez--8UEuVWA-Tk-unsplash

Bagi sebagian orang, memulai obrolan ringan bisa sangat menakutkan. Anda harus cepat memikirkan kata-kata yang mau diucapkan agar tidak hening membosankan. Belum lagi khawatir lawan bicara bakal tersinggung dengan yang Anda ucapkan. Khawatir ini dan itu akhirnya membuat Anda takut memulai obrolan dengan orang lain.

Padahal kemampuan berkomunikasi adalah salah satu nilai jual penting saat mendekati gebetan. Anda boleh saja memiliki wajah tampan/cantik, badan ideal, dan uang berkilo-kilo, tapi itu tidak berguna kalau Anda kebanyakan diam menunggu diajak bicara. Gebetan bisa menilai Anda sebagai orang membosankan, aneh, atau berkebutuhan khusus. Syukur-syukur kalau gebetan cukup bawel meladeni Anda, bagaimana jika tidak? Masa mau diam-diaman seperti patung Pancoran?

Untuk mencegah gebetan menilai yang tidak-tidak, Anda harus berani membuka topik duluan. Lagi-lagi ini bisa jadi masalah kalau Anda memakai topik sejuta umat seperti: “Kamu anak mana?”, “Kamu tinggal di mana?”, atau “Kamu kerja di mana?” Pertanyaan-pertanyaan umum seperti itu harusnya dipahat di batu, lalu masukkan di museum. Mengapa? Karena semua orang sudah keseringan mendapat pertanyaan itu. Jika Anda ngotot memakainya, jawaban yang Anda dapat palingan cuma sepatah dua patah kata. Setelah itu Anda bingung mau bertanya apa lagi. Obrolan jadi tidak berlanjut, garing, dan bikin mengantuk.

Baca juga:
Mengapa Orang Malas Ngobrol Dengan Anda?

Komunikasi yang asyik adalah saat dua orang saling berbalas-balas seru, bukannya mematung. Anda harus pandai memodifikasi topik-topik umum sehingga jadi lebih merangsang gebetan untuk membalas.

Beruntungnya, Anda tidak perlu pusing bagaimana membuat topik yang menarik. Anda bisa menconteknya di bawah:

“Kamu asalnya dari mana?”

Mendingan pakai:

  • “Kalau aku jalan-jalan ke kota kelahiran kamu, ada tempat keren yang bisa aku kunjungi di sana?”
  • “Bayangkan nih kamu lahir dan besar di luar negeri, apa kamu masih minat tinggal di Indonesia?”
  • “Ada gak kota lain yang rasanya seperti rumah bagimu?”
  • “Kalau sudah tua nanti, kamu pilih tinggal di sini atau pulang ke kampung halaman?”
  • “Awal-awal merantau dulu, apa sih yang bikin kamu selalu teringat rumah?”

“Berapa banyak saudara yang kamu punya?”

Mendingan pakai:

  • “Apa sih kegiatan seru yang paling sering kamu lakukan bersama saudara?”
  • “Kelebihan apa yang membuatmu terlihat menonjol daripada saudara yang lain?”
  • “Ketika kalian masih kecil, ada gak kelakukan yang bikin orangtua kalian marah?”
  • “Apa yang membuat kamu dan saudara begitu dekat?”
  • “Apa saja sih kelebihan saudara yang bikin kamu kagum?”

“Kenapa kamu pindah ke kota ini?”

Mendingan pakai:

  • “Apa sih yang kamu suka dari kota ini? Banyak makanan enak? Transportasinya lebih gampang? Atau ada yang lain?”
  • “Lebih nyaman mana, tinggal di kota ini atau kota asal?”
  • “Kalau kamu pulang kampung, ada gak sesuatu yang bikin kangen cepat-cepat balik ke sini lagi?”
  • “Dari sekian banyak kota, kenapa kamu pilih kota ini buat cari kerja/kuliah?”
  • “Apa yang kamu benci dari kota ini? Macetnya? Banjirnya? Sampahnya?”

“Dulu kamu sekolah/kuliah di mana?”

Mendingan pakai:

  • “Perubahan baik apa yang kamu harap banget setelah wisuda?”
  • “Pekerjaan kamu sekarang apa ada hubungannya dengan kuliah dulu?”
  • “Setelah lulus kuliah, masih sering berkumpul dengan teman-teman lama atau pada sibuk sendiri-sendiri?”
  • “Jurusan yang kamu ambil dulu beneran pilihan kamu atau pilihan orang lain?”
  • “Selain nulis skripsi, tugas kuliah apa yang sulit banget kamu kerjain?”

“Kamu kerja di mana?”

Mendingan pakai:

  • “Apa sih bagian tersulit ketika kamu baru pertama kali kerja?”
  • “Bagaimana kamu berbaur dengan teman-teman baru di lingkungan kerja?”
  • “Ada gak satu orang yang paling kamu benci di tempat kerja?”
  • “Apa sih kelakuan boss yang bikin kamu geleng-geleng kepala?”
  • “Pernah gak kepikiran untuk kerja di tempat lain?”

“Kamu suka nonton apa?”

Mendingan pakai:

  • “Sebutin dong film yang gak pernah kamu bosan tonton sampai berkali-kali.”
  • “Film apa yang kamu kira bagus banget, tapi pas ditonton ternyata jelek?”
  • “Kasih aku rekomendasi film yang ending-nya gak ketebak dong.”
  • “Kamu lebih senang mana, film Indonesia apa film luar negeri? Terus kenapa kamu pilih itu?”
  • “Menurutmu apa yang kurang dari film-film buatan negeri?”

“Kamu senang dengar musik apa?”

Mendingan pakai:

Content continue below...
  • “Konser siapa yang menurutmu adalah konser terbaik/terburuk?”
  • “Kamu pernah mengalami kejadian buruk saat menonton konser?”
  • “Jenis musik apa yang wajib kamu dengar saat lagi kerja?”
  • “Waktu masih kecil dulu, lagunya siapa yang paling kamu tunggu-tunggu di radio?”
  • “Kamu dan orangtua pernah nge-fans penyanyi yang sama? Ceritain dong kenapa.”

“Kamu doyan baca apa?”

Mendingan pakai:

  • “Buku apa yang masih kamu baca berulang-ulang sampai sekarang? Kok bisa?”
  • “Pernah gak kecewa sama film yang diadaptasi dari buku favoritmu?”
  • “Ada berapa buku yang kamu baca dalam seminggu?”
  • “Kamu lebih doyan baca buku fisik apa ebook? Kenapa?”
  • “Pernah kepikiran mau jadi penulis gara-gara sering baca buku?”

“Kamu hobinya apa?”

Mendingan pakai:

  • “Ada gak hobi yang baru kamu tekuni sekarang? Terus kenapa baru sekarang?”
  • “Kalau uang dan waktu gak jadi masalah, hobi apa yang kamu pilih?”
  • “Kamu masih punya hobi yang dikerjain dari kecil? Hobi apa itu?”
  • “Waktu masih kecil dulu, kamu punya hobi aneh gak? Misalnya ngumpulin batu-batuan dari rumah tetangga.”
  • “Kalau lagi senggang, aku biasanya (sebut hobi Anda). Kalau kamu?”

“Kamu senang jalan-jalan ke mana?”

Mendingan pakai:

  • “Tempat apa yang paling ingin kamu datangin lagi? Kok bisa kamu pilih itu?”
  • “Kalau kamu datang ke kota baru, tempat apa yang kamu datangin pertama kali?”
  • “Tempat apa yang benar-benar pengen kamu datangin? Kamu sudah persiapkan apa saja untuk ke sana?”
  • “Anggap nih kamu tinggal di kapal pesiar, negara mana saja yang ingin kamu kunjungi?”
  • “Kalau teman-teman ngajakin kamu liburan ke gunung atau pantai, kamu pilih yang mana?”

“Kamu doyan makan apa?”

Mendingan pakai:

  • “Kata orang, makanan terasa enak kalau kita sendiri yang masak. Menurut kamu gimana?”
  • “Kamu pernah masak buat teman-teman? Gimana tanggapan mereka soal masakanmu?”
  • “Makanan apa sih yang pasti dimasak ibu saat kamu pulang kampung?”
  • “Kamu pernah makan di restoran A dan B? Kalau iya, kamu lebih suka makan di mana?”
  • “Aku heran, bedanya pecel dengan gado-gado apa ya? Keduanya sama-sama pakai sambel kacang dan sayur.”

Silakan dimodifikasi sesuai logat dan bahasa Anda sehari-hari. Kalau Anda grogi, silakan berlatih mengobrol dengan diri sendiri. Caranya dengan memilih salah satu topik, lalu ucapkan berkali-kali di depan cermin sampai Anda terbiasa. Semakin sering dilatih, mulut akan lancar mengucapkannya tanpa terbata-bata. Catat di kertas atau ponsel untuk jaga-jaga kalau lupa.

Baca juga:
Dua Kunci Perak Pembuka Hati Wanita Di Pertemua Pertama 

Memakai topik di atas memang tidak menjamin obrolan ajaib berubah jadi seru. Apalagi kalau dasarnya Anda jarang berkomunikasi dengan yang lain. Di Supreme Influential Communication (SIC), Anda bisa belajar banyak sekali cara mengobrol asyik dengan gebetan. Tidak hanya ke gebetan, teknik-tekniknya pun bisa diterapkan ke teman, sahabat, dan bahkan ke orang yang baru Anda kenal. SIC sangat membantu Anda yang selama ini kesulitan dalam membangun relasi dan hubungan dengan orang lain. Materi disampaikan lewat streaming video sehingga Anda bisa mengaksesnya lewat handphone atau komputer, asalkan ada koneksi internet.

Anda bisa mendaftar SIC lewat link di bawah:

Supreme Influential Communication

Setelah belajar lewat artikel ini dan SIC, jangan lupa dipraktikkan! Karena semua materi canggih ini bakal percuma kalau Anda malas menerapkannya di kegiatan sehari-hari.

Yuk ajak gebetan ngobrol!

Share Your Thoughts