Komunikasi Bukan Kunci Hubungan Harmonis

Angry Asian couple fighting in front of TV in living room at night

Anda pikir komunikasi adalah kunci hubungan harmonis? Anda merasa hubungan akan membaik jika kalian memperbanyak komunikasi?

Pemikiran itu kadang tepat, kadang juga meleset total. Khususnya jika hubungan sudah berusia tahunan atau sudah berumahtangga. Minimnya komunikasi memang bikin hubungan kacau, tapi akan ada masanya dimana kekacauan hubunganlah yang menghilangkan komunikasi.

Para married couples biasanya mengeluh sulit berkomunikasi dan sering miskomunikasi. Pihak yang satu merasa pihak satunya lagi tidak punya waktu. Ada yang mengeluh dirinya sudah menyampaikan berulang-ulang, tapi tidak dihiraukan. Tidak sedikit pasangan yang lelah dan ingin berpisah karena, “Gue nanya apa, eh dijawab apa. Gue mintanya ini, eh dia ngelakuinnya itu. Gak nyambung banget komunikasinya, entah deh gue yang bego atau dia yang gila!”

Baca juga:
Kenapa Orang Malas Ngobrol Dengan Anda?

Seringkali, menambah waktu diskusi saja tidak akan memperbaiki apa-apa. Melakukan tips menarik nafas panjang sebelum berkomentar juga tidak akan menghindarkan Anda dari kekecewaan dan ketidakpuasan.

Bahkan mendorong mereka agar terbiasa bisa bilang tiga ucapan (yang katanya) ajaib “Maaf,” “Terima kasih,” dan “I love you,” pun tidak cukup mampu mengembalikan kenyamanan dan kegairahan hubungan

Anda harus tahu bahwa komunikasi bukan kunci segalanya, karena seringkali justru komunikasilah yang jadi “korban” dari segalanya. Komunikasi kalian TERIMBAS masalah-masalah di luar. Jika komunikasinya sudah kolaps begitu, maka USAHA MENDORONG KOMUNIKASI tidak akan memperbaiki keadaan… malah berpotensi menambah lelah, bingung, frustasi, dan sakit hati.

Sebelum saya jelaskan kenapa begitu, Anda harus sadar bahwa membina hubungan itu beratnya minta ampun. Kalian harus menanggung banyak tanggung jawab dan urusan secara silih berganti maupun berbarengan.

Bayangkan skenario umum ini:

Selama di kantor saja Anda pasti mengerjakan beberapa hal sekaligus, berganti-gantian konsentrasi dari satu ke lainnya dan kadang berurusan dengan orang-orang yang luar biasa setannya. Saat makan siang, Anda akan “diganggu” dengan gosip meresahkan seperti tentang politik kantor ataupun perubahan sistem bonus gaji.

Di tengah itu semua, sesekali Anda juga melihat tanda-tanda pertengkaran di Whatsapp group keluarga besar. Di window yang berbeda, ada pasangan Anda yang mengabari akan pulang lebih malam demi menunggu genangan banjir surut. Ketika jam lima tiba, Anda sempat merasa lepas dari kekangan derita kantor… tapi tak lama kemudian terjebak macet selama satu jam saat perjalanan pulang.

Sesampainya di rumah, Anda disajikan dengan sejumlah kondisi yang kurang enak: galon sudah habis tapi tokonya tutup, cangkir favorit entah dipindahkan ke mana, jaringan internet error, surat tagihan kredit, anak minta diajarin tentang grammar, dan sebagainya. Lalu ketika jam 10-an malam nanti ketemu pasangan yang baru pulang dari lembur dan menunggu banjir surut.

Coba bayangkan seberapa banyak sisa energi Anda untuk berkomunikasi?

Kalaupun ada masalah yang penting, bayangkan apakah Anda masih berselera menggali akar masalah, membandingkan cara pandang, mencari beberapa alternatif solusi, dan menutup obrolan dengan ucapan manis?

Kemungkinan besar Anda tetap berkomunikasi sih, tapi saya yakin Anda akan mendiskon kata-kata, memotong cerita latar belakang, memakai label supaya singkat (tapi isinya menuduh), setengah hati menyimak penjelasan pasangan yang kesannya berputar kemana-mana, menyelak ucapannya, dan sebagainya.

Baca juga:
Berapa Lama Emosi Dalam Hubungan?

Nah kini Anda mengerti maksud saya ‘kan?

Pasti pernah alami kondisi yang mirip begitu kan?

Dalam banyak kasus pacaran dan pernikahan, masalah dalam hubungan mereka bukan soal (mis)komunikasi. Itu sebabnya mengajarkan mereka cara-cara berkomunikasi sih akan buang-buang waktu saja, karena bukan itu sumber penyakitnya.

Justru komunikasi adalah KORBAN bin KONSEKUENSI karena masalah-masalah lain yang tidak dikelola dengan baik dan sehat.

Berikut saya beri contoh-contoh masalah nyata dari para married couples yang datang konsultasi:

Ada segudang contoh lainnya, tapi kini Anda sudah paham kan kalau ternyata komunikasi bukan kunci?

Kekeliruan itu menghancurkan selera maupun kemampuan Anda berkomunikasi dengan pasangan. Jadi yang perlu diperbaiki bukan teknik komunikasinya, tapi keadaan dan keputusan keliru yang bertubi-tubi menganggu komunikasi kalian berdua.

Mungkin kalian terlalu lelah dengan tekanan di kantor, mungkin kalian terlalu banyak ekspektasi yang tidak realistis, mungkin kalian terlalu berpikiran negatif, mungkin kalian tidak punya pembagian program domestik, mungkin kalian mengalir begitu saja mengikuti “nasib”, mungkin kalian kurang piknik, mungkin kalian terbolak-balik menempatkan prioritas… sehingga hubungan jadi sesak nafas dan kalian lemas tidak mampu berkomunikasi seperti sewajarnya.

Daripada ngotot mempermasalahkan komunikasi terus-terusan, harusnya Anda cari cara untuk membahagiakan diri dan menyingkirkan sumber kesesakan.

Misalnya:

Ada ratusan keadaan dan keputusan lainnya yang harus diurai, diganti, dan dimodifikasi. Banting tulanglah pada hal-hal yang terpendam ini, jangan berputar-putar menghabiskan waktu mencari tips dan trik kunci komunikasi!

Jika Anda dan pasangan tidak tahu apa sih yang mengacaukan komunikasi kalian, segera hubungi saya atau psikolog untuk membantu kalian keluar dari kegelapan itu. Jangan keras kepala dan denial, “Ah sabar saja, tunggu waktu yang tepat untuk ajak komunikasi lagi.”

NO, THAT’S NOT GONNA WORK.. BECAUSE COMMUNICATION IS NOT THE KEY TO THOSE (GRID)LOCKS!

Kalau Anda belum pernah mengalami, Anda tidak akan mengerti. Jadi tunggu saja deh, sebentar lagi juga pasti Anda akan terbentur keadaan-keadaan seperti itu.

“Oke Coach Lex, jadi bagaimana cara membedakan hubungan kami bermasalah karena kekacauan komunikasi atau komunikasi kami bermasalah karena kekacauan hubungan?”

Itu mudah kok ceknya: coba saja Anda tambah kuantitas dan kualitas komunikasinya. Ajak ngobrol pasangan bagaimanapun kondisinya, Kalau setelah satu bulan tidak ada perubahan berarti (atau bahkan makin parah), kemungkinan besar itu bukan masalah komunikasi. Namun, ada masalah lain yang belum selesai selama ini.

Anda bisa membicarakan masalah itu ke saya dengan klik ini dan pilih opsi KONSULTASI 

Atau, Anda bisa belajar mengatasi konflik hubungan dengan gabung KC STAR; online course yang berisi banyak materi tentang cinta termasuk:

Semuanya materi disampaikan dalam bentuk video, audio, dan ebook jadi Anda bisa mempelajari cinta di mana pun dan kapan pun.

Anda bisa mendaftar KC STAR lewat LINK di bawah:

OKE SAYA MAU MENDAFTAR KC STAR

Selamat introspeksi, and grow the love!