Bertengkar Bikin Cinta Jadi Mesra?

Saya berani bertaruh pertanyaan tidak pernah terlintas di benak Anda. Masa iya bertengkar bikin hubungan jadi mesra? Bukannya hubungan yang baik harus jauh dari pertengkaran?

Kebanyakan orang anggap pertengkaran sebagai tanda keretakan cinta. Semakin sering bertengkar, semakin rusak pula hubungan itu. Orang-orang jadi fobia dengan pertengkaran dan berusaha menghindarinya sebisa mungkin.

Namun realitanya, pertengkaran itu tidak mungkin dihindari.. Apalagi jika Anda sedang menjalin hubungan cinta. Pasti ada perbedaan-perbedaan besar ataupun kecil yang membuat Anda dan pasangan bertengkar dan jika diarahkan dengan baik, pertengkaran justru bisa mempererat hubungan Anda dan pasangan.

John Gottman, pakar psikologi dari The Gottman Institute, pernah melakukan penelitian yang melibatkan pasangan yang sudah menikah. Para peserta studi dipisah jadi dua kelompok: Masters dan Disasters. Kelompok Masters berisi pasangan yang sudah menjalani pernikahan selama 6 tahun ke atas, minim masalah, dan hidup bahagia. Sementara kelompok Disasters adalah pasangan pernikahan yang punya segudang masalah keluarga dan tidak bahagia.

Mereka diberikan beberapa pertanyaan seputar pernikahannya dan peneliti sengaja memancing mereka untuk berdebat. Meski kedua kelompok itu memiliki kondisi psikologis yang sama dan terlihat santai saja, tapi peralatan medis yang ditempelkan di tubuh mereka berkata sebaliknya.

Kelompok Masters menunjukkan keadaan yang tenang berdialog dengan pasangannya, bahkan ketika mereka sedang bertengkar. Sedangkan kelompok Disasters menunjukkan detak jantung yang kencang dan siklus peredaran darah yang mengalir cepat. Mereka cenderung siap menyerang pasangan masing-masing saat dihadapkan pada pertengkaran.

Meski berada di situasi pertengkaran, kelompok Masters mampu menghargai dan menghormati pasangan sehingga pertengkaran diakhiri dengan jalan keluar bersama. Mereka bisa menciptakan keintiman dan rasa percaya sehingga pasangannya merasa nyaman secara fisik maupun emosional. Mereka memang bertengkar, tapi tidak saling menghina dan berlarut-larut di masalah yang sama. Sementara kelompok Disasters malah menciptakan suasana permusuhan dan tidak ada jalan keluar yang dicapai.

Gottman mencatat bahwa pertengkaran menjadi tidak sehat apabila satu pihak mulai menghina pihak lain. Begitu pula bila pasangan malah fokus mengkritik pasangan lainnya tanpa berani mengkritik dirinya sendiri. Penghinaan dan kritik yang berlebihan bukan cuma menurunkan kadar cinta, tetapi juga menghilangkan daya juang pasangan tersebut. [1]

Aaron Beck, psikiatri dari University of Pennsylvania, mendukung hasil penelitian Gottman. “Seburuk-buruknya pertengkaran adalah yang menjurus ke pembunuhan karakter. Itu hanya mengarah ke jalan buntu,” ujarnya. “Tapi jika Anda mengemukakan keluhan secara spesifik tanpa menyalahkan, maka kemungkinan besar hal itu akan mengarah ke solusi masalah.” [2]

Kedua peneliti di atas hanya segelintir dari puluhan peneliti lainnya yang setuju bahwa bertengkar punya efek positif dalam hubungan cinta. Tapi garis bawahi ini: pertengkaran itu baik apabila sifatnya membangun dan bertujuan menyelesaikan masalah, bukan malah saling menjelek-jelekkan pihak lainnya.

Bertengkar = Solusi?

Nah, coba tanya ke diri Anda sendiri: seberapa sering Anda berpikir, “Ah cuma masalah sepele doang kok, ntar selesai sendiri” ketika lagi ada masalah dengan pasangan?

Sekali? Dua kali? Atau setiap kali ada masalah?

Apa dengan berdiam diri begitu bisa menyelesaikan masalah? Apa dengan saling diam, hubungan jadi semakin mesra manja atau malah semakin nestapa?

Anda sulit menyelesaikan soal matematika rumit hanya dengan membayangkannya tanpa corat-coret di kertas atau alat bantu hitung lainnya. Masalah hubungan tentunya lebih abstrak dari soal matematika. Anda tidak bisa menemukan jalan keluar dengan bersabar dan berharap masalah itu selesai. Anda dan pasangan harus melalui proses debat panas alias bertengkar sampai muncul beberapa solusi.

Sayangnya sedari kecil kita diajarkan menjauhi pertengkaran. Kita lebih memilih diam mematung ketimbang beradu mulut dengan pasangan. Padahal dalam pertengkaran itu Anda dan pasangan bisa mengungkapkan isi hati sebenarnya, sekaligus mengeluarkan uneg-uneg di kepala. Bertengkar membuat Anda dan pasangan terpaksa belajar memahami pemikiran dan karakter satu sama lain.

Jika sepasang kekasih terlalu cepat memaafkan dan melupakan masalah TANPA diskusi panas, hubungan mereka justru rentan akan resiko perpecahan di kemudian hari. Hal itu dikarenakan salah satu pihak merasa tidak ada kegentingan dan masalah pun tertimbun bagai bara api. Suatu saat, api itu akan menyulut segala sesuatu hingga hubungan terbakar habis jadi abu.

Anda pasti pernah dengar kisah-kisah cinta yang mendadak meledak dan musnah begitu saja ‘kan?

Nah itulah akibat dari memendam pertengkaran.

“Sama seperti api bisa dipakai untuk memasak dan menerangi, demikian juga pertengkaran bisa dipakai untuk mematangkan dan mencerahkan hubungan!” kata Coach Lex dePraxis.

Daripada memendam, lebih baik Anda dan pasangan bertengkar dengan sehat. Pahami ketujuh area ini untuk memastikan pertengkaran kalian lebih konstruktif:

Bertengkar keras hingga seluruh uneg-uneg keluar jauh lebih baik daripada berbicara santun tapi menahan emosi di kepala. Journal of psychosomatic Research pernah menerbitkan penelitian yang menjelaskan bahwa memendam emosi dapat meningkatkan resiko otak dan kanker. Orang yang terbiasa menyimpan emosi akan membawa pikiran negatif yang dapat merusak keseimbangan hormon. Apabila produksi hormon terus menerus terganggu, maka sel tubuh bisa ikut rusak sehingga memicu kanker. [3]

Jadi bertengkar bukan hanya menyehatkan mental dan hubungan Anda, tetapi juga berpengaruh pada kesehatan. Anda dan pasangan jadi punya bahan untuk mengoreksi diri dan hubungan jadi lebih baik. Pertengkaran itulah yang akan mendewasakan kalian, seperti tulisan Coach Lex, “Pertengkaran tidak merusak hubungan, karena pertengkaran itulah kesempatan Anda untuk membahas kerusakan yang sudah/sedang terjadi dalam hubungan.” Silakan lanjut baca artikel Perlunya Bertengkar Dengan Pasangan! [4]

Ingat ini: diam tidak selamanya emas, apalagi saat ada batu sandungan yang mengganjal hubungan Anda dan pasangan.

 

REFERENSI

[1] Masters of Love

[2] Want A Happy Marriage? Learn To Fight A Good Fight

[3] Emotion Suppression And Mortality Risk Over A 12-Year Follow-up

[4] Perlunya Bertengkar Dengan Pasangan