Finansial: Masalah Cinta yang Sering Disepelekan, Tapi Menjadi Penyebab Tertinggi Perceraian

Masalah Cinta Kelas Cinta

Untuk bisa memulai suatu hubungan, ada banyak sekali pertimbangan yang harus kamu pikirkan agar hubungan sukses seperti impian kamu. Akan tetapi, ketika pasangan memutuskan untuk menjalin hubungan bersama, kebanyakan dari mereka lupa mempertimbangkan satu hal: finansial. Ya, keuangan yang tidak ada unsur romantisnya sering kali menjadi masalah cinta yang mengakibatkan putus hingga perceraian.

Hal ini disebabkan karena para pasangan sering kali diracuni doktrin, “Kalau menikah, rezeki pasti dilancarkan!”. Memang dilancarkan, tetapi kamu dan pasangan juga butuh kemampuan untuk mengelola keuangan serta memiliki beberapa masukan uang yang bisa diandalkan. Pasangan yang menyepelekan dua hal tersebut pasti akan terjebak masalah cinta yang tidak berujung dan berakibat perceraian.

Untuk itulah, dalam artikel ini, kamu dan pasangan bisa membedah lebih lanjut alasan mengapa urusan finansial bisa menjadi masalah cinta nomor satu yang bisa menghancurkan hubungan.

1. Hampir 60% Pasangan Berharap Mereka Bisa Lebih Mandiri Dalam Keuangan Mereka

StockSnap_NLOEI7VJP0via Stocksnap

Banyak sekali wanita yang berhenti bekerja setelah menikah, dengan harapan penghasilan suami mereka bisa menafkahi rumah tangga. Akan tetapi, 59% orang-orang berharap mereka memiliki kemandirian ekonomi dalam pernikahan mereka yang telah kandas. Itulah sebabnya, banyak orang yang bertahan dalam pernikahan yang abusive karena mereka tidak memiliki kemandirian secara finansial sejak awal.

2. Separuh Dari 60% Pasangan Tersebut Mengungkapkan Bahwa Pasangan Mereka Justru Menghabiskan Uang Dari Rekening Bersama

StockSnap_RZWM4T2UADvia Stocksnap

Apabila kamu dan pasangan memiliki rekening bank atau kartu kredit bersama, pastikan kalian mampu mengelolanya dengan baik dan adil. Karena separuh dari 60% partisipan yang disebutkan pada poin sebelumnya mengungkapkan bahwa pasangan mereka sendirilah yang justru menghambur-hamburkan uang dari rekening bersama untuk kepentingan dirinya saja.

3. Sedangkan 54% Lainnya Mengeluhkan Pasangan Mereka Sering Menghamburkan Uang

Processed with VSCO with hb2 presetvia Pexels

Mereka mengeluh bahwa pasangan mereka terlalu menghamburkan uang. Keborosan mereka akhirnya menjadi salah satu faktor perceraian para pasangan tersebut. Tidak heran apabila finansial selalu menjadi masalah cinta yang pelik, karena budget rumah tangga yang menipis selalu membuat pasangan stres sehingga konflik mudah tersulut.

Content continue below...

4. Mereka Juga Mengeluh Skor Kredit Mereka Jadi Memburuk Setelah Menikah

StockSnap_AM6PCPXT6Kvia Stocksnap

Poin ini sangat mengkhawatirkan karena konsekuensinya sangat serius dan dapat berpengaruh besar pada masa depan kamu. 49% partisipan mengungkapkan bahwa skor kredit mereka memburuk setelah menikah. Tidak heran apabila 36% lainnya mengungkapkan skor kredit pasangan mereka selalu menjadi penyebab stres dalam pernikahan.

5. Sebagian Besar Pasangan Juga Tidak Memiliki Kondisi Finansial yang Kompatibel

StockSnap_JONMP7TPGKvia Stocksnap

Bukannya kamu matre, tetapi mempedulikan kondisi keuangan pasangan sangatlah penting sebelum menjalani pernikahan dan dapat menciptakan perbedaan yang sangat besar dalam rumah tangga. 53% dari partisipan mengungkapkan kondisi keuangan mereka dan mantan pasangan mereka tidak kompatibel saat menikah dulu. Pada akhirnya, kebencian dan konflik karena perbedaan finansial ini menumpuk perlahan-lahan dalam pernikahan.

chartvia Experian

Jadi, Bagaimana Caranya Mencegah Finansial Menjadi Masalah Cinta Dalam Pernikahan Kamu?

Gift Present Celebrate Party Wrapped Simple Conceptvia Pexels

Sudah bisa ditebak para partisipan yang disebutkan di atas menyesal atas kelalaian mereka dalam mengelola keuangan rumah tangga, itulah sebabnya mereka jadi lebih mampu mengelola finansial mereka di masa depan.

Untuk itulah, dibutuhkan komunikasi sejujur-jujurnya dan setransparan mungkin terkait finansial. Dengan begitu, pasangan mampu mengelola budget mereka, memutuskan kapan harus menggunakan kredit bersama, dan membangun target finansial jangka panjang lainnya seperti dana pensiun. Kedua pihak juga wajib memiliki pemasukan uang yang stabil untuk menekan risiko masalah finansial menjadi lebih tipis lagi.

Share Your Thoughts