Seberapa Penting Tujuan Dalam Relationship?

photo-1463970441435-eecc7b23ccdf

Seorang rekan kerja pernah bertanya, “Jet, gue sama pasangan lagi bentrok nih. Katanya hubungan datar banget kayak gak punya tujuan, padahal gue puas sama hubungan yang sekarang. Memangnya suatu hubungan harus ada tujuan yah? Kira-kira seberapa penting tujuan dalam relationship?”

Saya 100% percaya bahwa relationship yang sehat adalah relationship yang memiliki tujuan. Saya banyak bertemu orang yang mengeluh hubungannya seperti jalan di tempat. Jenuh sudah pasti, dan yang paling utama: mereka tidak tahu mau dibawa ke mana hubungannya karena tidak punya tujuan jelas.

Normalnya, tujuan sebuah relationship adalah mencocokkan visi dan misi ke arah pembentukan keluarga. Meskipun pembentukan keluarga itu tidak melulu soal menikah, setidaknya ada rencana untuk hidup bersama.

Sebelum lanjut ke pembahasan di bawah, coba pastikan dulu apa sih tujuan dari relationship Anda sekarang ini? Seks? Status? Atau ada tujuan yg lebih besar?

Tujuan dalam relationship biasanya meningkat seiring waktu. Barangkali tujuan relationship Anda sekarang ini sekedar mendapatkan status “berpacaran” mengisi waktu. Namun, itu baru tujuan jangka pendek. Ketika tujuan itu sudah tercapai, Anda perlu merancang tujuan jangka panjang agar relationship Anda terus tumbuh dan berkembang.

Bayangkan kalau Anda hanya punya tujuan relationship jangka pendek tanpa berpikir tentang tujuan jangka panjang. Begitu tujuan jangka pendek itu tercapai, Anda atau pasangan jadi kehilangan gairah tidak tahu mau dibawa ke mana hubungan itu. Anda mungkin saja puas dengan hubungan (seperti kasus rekan kerja di atas), tetapi pasangan Anda sudah mati bosan dengan hubungan datar begitu-begitu saja.

Saya menganalogikan relationship sebagai kapal yang dipimpin dua orang nahkoda. Mereka harus membimbing kapal mereka menuju pulau yang mereka impi-impikan. Di sepanjang perjalanan, mereka harus berlabuh di pulau-pulau kecil terlebih dahulu untuk sekedar beristirahat atau menyetok bahan makanan agar tidak kelaparan di tengah jalan. Masalah besar muncul ketika salah satu nakhoda sudah puas dengan kehidupan di pulau tempat mereka beristirahat, sementara nakhoda lainnya ngotot ingin meneruskan perjalanan. Atau yang lebih parah, kedua nakhoda itu membiarkan kapalnya terombang-ambing di lautan tanpa tujuan yang jelas sampai akhirnya salah satu dari mereka sadar ada yang tidak beres dengan perjalanan mereka.

Sama seperti kapal tersebut, Anda dan pasangan harus menahkodai hubungan agar terus berjalan ke arah yang diinginkan. Tujuan jangka panjang dibuat agar kalian tidak keburu puas dengan tujuan-tujuan jangka pendek seperti seks, status, dan lainnya.

Omong-omong seperti apa sih tujuan jangka panjang itu?

Tujuan jangka panjang yang paling umum adalah menikah, berkeluarga, dan punya anak. Tapi Anda jangan sembarangan menjadikan pernikahan sebagai tujuan. Menurut rekan saya, Lex dePraxis, pernikahan adalah pekerjaan yang berat dan seharusnya tidak menjadi tujuan utama. Anda bisa membaca penjelasan lengkapnya di artikel ini: Pernikahan Adalah Pekerjaan, Bukan Pencapaian! [1]

Selain pernikahan, ada banyaaaak tujuan lain seperti: berjalan-jalan keliling dunia bersama pasangan, buka usaha bareng pasangan, ikut ke dalam misi-misi kemanusiaan bareng pasangan, dan lain sebagainya. Tujuan-tujuan tersebut membutuhkan waktu lama untuk meraihnya dan tidak akan tercapai dalam waktu dekat.

Harus dicatat, meski Anda dan pasangan memiliki tujuan sama, faktor yang melatarbelakanginya bisa saja berbeda. Misalnya: Anda menikahi pasangan karena Anda pikir dia adalah orang yang sederhana, sementara dia mau dinikahi Anda karena tergiur harta Anda (Nah!). Tujuan yang terdengar sama tapi berbeda ini yang berpotensi menimbulkan cekcok di masa depan. Mau tidak mau, Anda harus mendiskusikan tujuan Anda dengan pasangan sampai dapat titik temunya.

Terus apa yang dilakukan bila nanti tujuannya sudah tercapai? Itu saatnya kalian membuat tujuan baru dan ekspektasi baru. Relationship itu harus bertumbuh. Kalau tujuan/goal-nya tidak ada, bagaimana bisa bertumbuh?

Meski terdengar sepele, sayangnya banyak yang stuck di tahap ini. Biasanya pria cenderung santai untuk masalah ini, tapi wanita lebih cepat mencari tujuan karena mereka terbiasa memiliki tujuan dalam segala hal. Kenapa perlu tujuan? Agar hubungan Anda tidak kehilangan arah ataupun lemah terseok-seok di tengah jalan, seperti analogi kapal yang saya sebut di atas.

Tapi bukan berarti habis pacaran langsung ngajak nikah yah. Paling tidak Anda tahu ada kelanjutan di sana. Kalau pasangan tidak punya tujuan apa-apa, Anda harus berinisiatif membuat tujuan sendiri dan bicarakan itu dengan pasangan. Ingat, relationship itu perlu dorongan. Jangan menunggu dorongan dari pasangan, Anda yang harus mendorongnya untuk membuat tujuan bersama!

Di fase honeymoon pacaran, tujuan biasanya tidak dibahas detil. Ini normal, maklum Anda dan pasangan lagi terbawa euforia cinta. Nikmati saja masa-masa ini. Kalau fase honeymoon sudah lewat, pacaran sudah berjalan 8 tahun, dan dia masih bilang “liat aja nanti” itu tandanya Anda harus cabut sekarang.

Content continue below...

Kenapa?

Karena jangan buang waktu Anda untuk seseorang yang tujuan hidupnya tidak jelas. Anda juga harus memikirkan masa depan Anda sendiri. Memiliki tujuan dalam relationship memang tidak menjamin kelangsungan hubungan, tapi ini akan menunjukkan tanggung jawab. Kalau tujuannya saja belum jelas, bagaimana dengan tanggung jawabnya? Anda mau mempercayakan hidup Anda ke orang yang tidak punya tujuan dan tanggung jawab?

Lain ceritanya kalau Anda dan pasangan masih sekolah atau kuliah. Ya wajar sih kalau tujuan relationship-nya masih ngambang antara PR kimia atau Bab 3 skripsi karena kehidupan kalian masih di seputaran itu. Begitu Anda sudah lulus dan beranjak dewasa, buruan deh bikin tujuan jangka panjang yang bisa dikerjakan bareng pasangan.

Jadi, coba pikir apa sih sesungguhnya tujuan relationship Anda?

Susun rencananya, kemudian cek apakah pasangan Anda bisa membantu Anda ke tujuan itu. Pastikan pasangan Anda juga diikutsertakan dalam tujuan itu, jangan Anda sendirian. Nanti Anda sendirian pula yang capek mencapainya.

Sederhananya: buat tujuan, buat rencana, jalankan, sampai tujuan, buat tujuan baru lagi, dan seterusnya. Kalau tujuan sudah dibuat, set prioritas Anda dan cek apakah prioritas itu bertabrakan dengan tujuan dia atau tidak. Lakukan penyesuaian kalau mau.

Perencanaan seperti itu akan bikin relationship lebih terarah. Kalau Anda masih bingung mau bikin tujuan, kasih time limit ke diri sendiri. Di sela waktu tersebut, Anda harus memikirkan baik-baik rencana apa yang mau Anda buat. Hal yang sama juga berlaku ke pasangan. Bila dia masih ogah-ogahan membuat rencana (padahal kalian sudah bertahun-tahun pacaran), berikan time limit tiga sampai lima bulan. Lewat dari itu, meninggalkannya pun kayaknya tidak terlalu masalah.

Sebenarnya menginjak relationship umur 6 bulan, Anda seharusnya sudah tahu apa sih tujuan dia. Lihat dari cara dia memandang keluarga dan hubungan kalian. Kalau dia tidak pernah menyinggung soal hidup bersama atau kegiatan bersama, berarti masa depan hubungan kalian masih gelap. Anda seharusnya was-was kalau pasangan diam saja ketika ditanya soal masa depan hubungan.

Prinsip utama hubungan itu ‘kan saling mendorong dan membangun untuk menjadi lebih baik dari yang lalu. Harusnya relationship membuat dua orang menjadi lebih baik dan dewasa untuk tujuan yang lebih baik lagi. Bukan yang satu baik dan yang satu resah mikir mau dibawa ke mana hubungan itu.

Seberapa Penting Tujuan Dalam Relationship?

Tentu saja ada adjustment goal dalam relationship. Jika Anda sudah siap menjalankan rencana masa depan, tapi pasangan Anda belum, yah di-support saja dulu. Asalkan dia mau maju dan ikut berpartisipasi menggapai masa depan bersama Anda.

Jangan lupa, apa pun tujuan Anda dalam relationship, pastikan kalau pasangan juga tahu. Jangan diam saja dan berharap dia bakal tahu sendiri. Memangnya pasangan Anda itu dukun?

REFERENSI

[1] Pernikahan Adalah Pekerjaan, Bukan Pencapaian!

Share Your Thoughts