Pacaran Dengan Pria WNA? Tetap Pakai Akal Sehat!

66442-5-alasan-mengapa-perempuan-indonesia-mengencani-pria-bule

“Ci, aku perempuan (21 thn), pacaran dengan orang Korea (32 thn). Kami kenalan lewat aplikasi dating, dan sudah mulai bahas tentang pernikahan. Tapi papa aku takut kalau setelah menikah dengan dia nanti aku dijual. Selama ini sih dia nggak pernah aneh-aneh, nggak pernah ngomong mesum gitu. Dia lelaki mapan, sudah punya usaha sendiri, dan memiliki rumah dan mobil di negaranya. Dia ada rencana ke Indonesia tahun depan, tapi aku takut aja papa aku nggak merestui hubungan ini. Bagaimana caranya agar aku bisa ke tahap selanjutnya dengan dia?”

Di atas ini adalah salah satu pertanyaan yang saya terima baru-baru ini dari seorang anon. Dari pertanyaan follow-up, saya pun mengetahui bahwa anon sudah terlibat hubungan romansa selama 6 bulan dengan pasangannya dan belum pernah bertemu tatap muka satu kali pun. Sejak sebelum memulai hubungan hingga detik ini, satu kali pun belum pernah bertemu.

Setelah mendapatkan informasi tambahan tersebut, saya pun kehilangan esensi pertanyaannya. Bila saya berada dalam posisi anon tersebut, yang akan saya tanyakan bukanlah “Bagaimana caranya untuk mendapat restu dari ayah saya?”, melainkan “Otak saya di mana, ya?”

Sayangnya pertanyaan anon tersebut bukanlah pertanyaan pertama (maupun terakhir) yang saya dapatkan. Cukup banyak terdengar kisah perempuan Indonesia lainnya dengan keadaan yang sama bodohnya. Sebagian besar kejadiannya dapat disimpulkan sebagai berikut: Perempuan Indonesia, kepincut dengan WNA, mabuk kepayang hingga lupa menggunakan akal sehat.

Saya bahkan pernah mendengar tentang seorang perempuan yang kepincut bule refugee dan berakhir dengan mengeluarkan dana cukup banyak untuk membiayai hidup bule refugee tersebut. Semua demi apa? Demi “naik kasta”.

Bila Anda adalah pelaku hubungan interracial dengan WNA, pasti tidak jarang Anda menerima komentar semacam, “Hebat banget bisa dapet orang WNA,” atau “Beruntung banget,” atau “Kok bisa sih? Gue juga mau dong.”

Bukan satu-dua kali saya mendengar kalimat serupa, dan semakin kali semakin saya merasa lucu dan malu. Mengapa “berpasangan dengan WNA” bisa sampai dianggap sebagai sebuah keberuntungan? Mengapa dianggap hebat? Dan mengapa bisa membuat orang lain iri? Apakah mereka mengira kalau seorang WNA bersin bisa keluar dollar?

Pola pikir yang lucu, aneh, tapi kenyataannya tidak jarang kita temui. Pola pikir penyakit yang menggerogoti kepercayaan diri bangsa Indonesia ini kita sebut sebagai “mental inferior”.

Saya percaya ini bukan sepenuhnya kesalahan kita. Karena mental inferior ini sesungguhnya adalah penyakit yang sudah diajarkan pada kita selama beratus-ratus tahun kita terjajah di bawah kekuasaan WNA.

Selama jenjang waktu kita terjajah tersebut, kita sudah dididik untuk melihat diri sendiri sebagai budak. Para penjajah memastikan bahwa orang Indonesia mengerti bahwa orang Indonesia berada dalam kasta yang berbeda dengan para WNA. Kita didikte untuk menyebut diri kita sebagai bawahan, tidak mampu, berkekurangan, berketerbelakangan, tidak tau apa-apa, dan lain sebagainya.

Setelah beratus-ratus tahun terbiasa dengan pandangan rendah diri seperti itu, meski kini Indonesia sudah merdeka, “mental inferior” pun tetap mendarah daging dan mewujud kedalam pernyataan “Ih enak banget bisa pacaran dengan WNA.”

Ya. Meski kini Indonesia sudah merdeka, orang Indonesia memiliki satu persamaan keyakinan yaitu Indonesia adalah negara yang jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lainnya. Kita yakin bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah? Tentu. Tapi kita juga yakin bahwa bangsa Indonesia belum mampu mengelola penggunaan kekayaan alam tersebut secara maksimal. Karena, siapalah kita ini, kita hanya sebuah bangsa yang telat merdeka. Hanya remah-remah rengginang di garis katulistiwa.

Content continue below...

Rendahnya kepercayaan diri kita sebagai bangsa pun tercermin dalam hubungan romansa dengan WNA. Ketika berhadapan dengan WNA dalam ranah romansa, banyak perempuan Indonesia yang langsung merasa ini adalah suatu kebanggaan, sebuah kehormatan, kesempatan emas, dan lain sebagainya. Belum lagi dengan iming-iming “Setelah menikah mungkin akan diajak menetap di negara lain”. Oh, yes, diajak keluar dari Indonesia, siapa yang tidak mau, bukan?

Hubungan romansa dengan WNA jadi dianggap sebagai sebuah outlet untuk naik kelas/naik kasta, dari budak menjadi majikan. Dari terjajah menjadi penjajah. Dari korban menjadi pelaku. Dari “Terkungkung/terjebak di Indonesia yang berketerbelakangan” menjadi “Mungkin bisa diajak tinggal di negara lain yang lebih keren.” Belum lagi karena orang-orang di sekitar kita juga memiliki mental inferior yang serupa. Wah! Gengsi yang didapatkan dari melakukan hubungan interracial dengan WNA menjadi begitu besarnya!

Ladies-Jangan-Gampang-Baper-Karena-Pria-WNA

Gelap mata karena gengsi tersebut, yang terjadi selanjutnya, perempuan Indonesia tersebut secara tidak sadar langsung menurunkan standard mereka, memberi kelonggaran, membuka diri, dan memudahkan akses bagi sang WNA.

Terkadang bahkan tidak peduli WNA tersebut kredibel atau tidak, orang baik atau orang jahat, legal immigrant atau refugee, yang penting labelnya bule atau WNA sudah langsung berhak mendapat perlakuan spesial!

Tidak percaya? Bayangkan lelaki dari sebuah kampung kecil di Indonesia sedang bertandang ke kotamu sebagai turis. Lelaki tersebut di kampungnya tidak terkenal, dan belum memiliki pekerjaan yang tetap. Apakah kamu akan dengan mudahnya menawarkan diri untuk mengantar lelaki tersebut berkeliling kota? Tentu tidak, kamu akan berpikir beberapa kali. Tapi ketika kampung lelaki tersebut adalah sebuah kampung kecil di Italia atau di Prancis, bisa-bisa perempuan mengantre untuk menawarkan diri menemani selama ia berada di kota tersebut.

Bila masih belum percaya juga, silahkan tanyakan pada expat-expat yang tinggal di Indonesia. Akan ada satu-dua orang yang dengan serius menemanimu berdiskusi tentang “mudahnya mendapatkan perempuan Indonesia.” Sisanya akan tertawa di pojokan sambil menghitung jumlah wanita yang sudah ia tiduri selama sebulan terakhir.

Jadi, bagaimana agar Anda tidak terjebak dalam ilusi indahnya hubungan interracial dengan WNA? Apakah Anda tidak boleh berpacaran dengan WNA?

Bukan itu maksudnya. Saya tidak menentang hubungan interracial, tapi saya menentang keras romantisasi hubungan interracial. Bila Anda pelaku hubungan interracial, maupun ingin terlibat dalam hubungan interracial, sadarilah bahwa perbedaan warna kulit tidak berarti perbedaan kasta. Perlakukan pasangan Anda sama seperti Anda memperlakukan seorang WNI. Jangan beri kelonggaran spesial HANYA KARENA ia adalah WNA.

Hal-hal yang tidak akan Anda lakukan untuk pasangan Anda seorang WNI, jangan lakukan juga bila pasangan Anda seorang WNA. Bila Anda tidak biasanya melakukan seks dulu sebelum memulai hubungan romansa dengan WNI, maka jangan berhubungan seks dulu sebelum mulai pacaran dengan WNA. Bila Anda tidak biasanya memelihara gebetan WNI yang angot-angotan berbulan-bulan dan hanya mencari Anda ketika dia kesepian saja, maka jangan lakukan hal tersebut pun bila gebetan Anda seorang WNA.

Bila Anda adalah pelaku hubungan interracial, lakukanlah dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Anda dan pasangan adalah setara, begitupun pasangan Anda dengan orang di sekitar Anda. WNI maupun WNA.

Share Your Thoughts