Pentingnya Logika Dalam Romansa

do-men-and-women-think-differently

Filosof terkenal Bertrand Russel pernah berkata: “Banyak orang akan cepat mati daripada berpikir.” Ucapan beliau ada benarnya; banyak manusia yang malas menggunakan otaknya sehingga mereka tenggelam dalam masalah. Padahal banyak masalah yang bisa diselesaikan bila manusia menggunakan logikanya. Termasuk masalah-masalah romansa.

Lucunya, karena romansa sering dikaitkan dengan perasaan, banyak yang mengesampingkan logika dan mengikuti perasaannya dengan membabi buta. Padahal logika dapat membantu Anda dalam menyelidiki dan mengeliminasi pemikiran yang benar dan salah. Kalau pemikiran Anda salah, maka dipastikan tindakan Anda juga SALAH. Semua tindakan manusia tergantung pada pemikirannya. Bimbing dulu pikiran Anda ke arah yang benar sebelum melakukan sesuatu.

Karena banyak yang mengesampingkan logika dalam romansa, akibatnya banyak yang terjebak dalam hubungan yang tidak sehat. Misalnya: pada bulan Maret lalu di Palembang, seorang pria sampai membunuh kekasihnya HANYA karena hubungannya tidak direstui orangtua korban. Hubungan itu tidak direstui bukan tanpa alasan. Si wanita sudah berusaha menjauhi pacarnya yang abusive, tetapi pacarnya itu tidak mau berpisah karena masih mencintainya.

Kasus di atas adalah satu dari sekian ribu bukti kalau hubungan tanpa logika bisa berbahaya. Si wanita sadar kalau hubungannya sudah mengarah ke bahaya sehingga ia berusaha bebas dari pacarnya. Namun, si pria sudah tidak mampu menggunakan logikanya lagi. Ia mengandalkan perasaannya begitu saja dan menolak sadar kalau pikirannya sedang sakit. Akibatnya, satu nyawa terbuang sia-sia hanya karena mengesampingkan logika.

Logika Menyelamatkan Anda Dari Hubungan Yang Tidak Sehat

romansa

Via qph.ec.quoracdn.net

Pada abad ke-20, Francis Bacon pernah berkata: “Critical thinking is a desire to seek, patience to doubt, fondness to meditate, slowness to assert, readiness to consider, carefulness to dispose and set in order; and hatred for every kind of imposture”. Kalau Anda mau menggunakan logika dan berpikir kritis, maka Anda tidak akan melakukan tindakan di luar akal sehat. Anda akan berpikir secara matang dan berhati-hati saat ingin melakukan sesuatu.

Kita ambil contoh kasus, misalnya: Anda sudah capek disakiti secara fisik dan mental oleh pasangan sehingga Anda ingin memutuskannya. Namun, si dia malah mengancam akan meneror keluarga Anda bila Anda benar-benar memutuskannya.

Logika Anda mengatakan kalau hubungan itu dilanjutkan maka diri Anda dalam keadaan bahaya. Anda bisa langsung memutuskannya tanpa persetujuan kedua belah pihak. Bercerai saja tidak perlu persetujuan kedua pihak, apalagi hanya putus pacaran. Lain ceritanya bila Anda hanya mengandalkan perasaan saja. Anda pasti bertele-tele memutuskannya karena perasaan Anda bercampur aduk antara kasihan, khawatir, cinta, dan takut. Semakin lama Anda memutuskannya, semakin jauh pula Anda terperosok ke dalam hubungan yang tidak sehat.

Mengapa dia malah mengganggu dan ngotot tidak mau berpisah dari Anda? Karena logikanya sudah mati. Orang yang logikanya sudah mati sama seperti orang mabuk. Percuma Anda mengajaknya berdiskusi karena orang mabuk tidak akan menyadari ketololannya sebelum mabuknya hilang. Kalau Anda menyadari hubungan itu sudah tidak sehat, ya sudah akhiri saja. Tidak perlu mengandalkan perasaan untuk hal ini. Keselamatan Anda adalah yang utama.

Society of Scholastic, organisasi yang bergerak di bidang pengembangan filsafat, pernah menulis betapa pentingnya mempelajari logika. Menurut mereka, logika adalah satu-satunya jalan untuk mengetahui bagaimana hal-hal di sekitar kita bisa terjadi. Anda dapat memprediksi permasalahan dari awal. Jika ada yang tidak beres dengan hubungan romansa Anda, maka itu bisa ditelusuri dengan akal sehat sampai Anda tahu penyebabnya. Kalau penyebabnya sudah ketahuan, maka tugas Anda tinggal memperbaikinya. [1]

Hal tersebut memperkuat tulisan Ronald C. Pine dalam bukunya “Essential Logic” yang mengatakan bahwa: “Dengan logika, Anda bisa tahu di jalur mana Anda berada. Anda bisa memilih untuk berhenti atau melanjutkannya”. Apabila Anda hanya mengandalkan perasaan saja, maka Anda tidak akan tahu kesalahan apa yang sudah Anda perbuat. [2]

Jadi, permasalahan romansa seharusnya bisa dilihat dan diprediksi dari awal apabila Anda mau menggunakan logika. Jika Anda gagal melihatnya, maka bersiaplah menyesal dengan hubungan Anda sekarang.

Mengapa Anda Malas Menggunakan Logika Dalam Romansa?

Thales, Aristoteles, Francis Bacon, Ronald C. Pine, dan para filsuf besar lainnya sudah berkali-kali menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk berlogika. Namun, mengapa banyak orang yang mematikan logikanya dalam urusan romansa?

Content continue below...

Profesor Stephanie Ortigue dari Syracuse University menemukan bahwa jatuh cinta membuat otak manusia mengalami euforia seperti kecanduan kokain. Euforia tersebut membuatnya sulit berpikir secara logis sehingga otaknya menjadi bebal dari pengaruh luar. Itu sebabnya mengapa menasihati orang yang sedang jatuh cinta adalah tindakan yang sia-sia. Nasihat itu hanya masuk ke telinga kanan dan keluar di telinga kiri karena otaknya lagi mabuk kepayang oleh hormon cinta. [3]

Namun, ketika hubungan sudah berjalan, euforia tersebut semakin menipis karena kandungan hormon cinta di otak sudah habis. Menurut buku “The Science of Compassionate Love”, ketika itu terjadi, maka salah satu pihak baru menyadari dirinya berada di hubungan yang sehat atau tidak. [4]

Tidak masalah bila selama ini hubungan romansa Anda baik-baik saja. Namun, bagaimana bila Anda telat menyadari kalau selama ini terjebak di dalam hubungan yang salah?

romansa

Pacaran itu seperti 2 orang yang mabuk bareng. Keduanya sama konyolnya. Mereka bisa happy atau berantem gara-gara masalah sepele. Bahkan dalam hubungan yang abusive, pihak yang menjadi korban seringkali tidak menyadari bahwa dirinya menjadi korban kekerasan pasangannya.

Sampai akhirnya ada salah satu pihak yang sadar duluan betapa konyolnya mereka selama ini. Karena tidak tahan, pihak yang sadar memutuskan untuk berhenti dan menyadarkan pihak yang masih mabuk. Miskomunikasi terjadi di sini. Yang satu masih mabuk, sedangkan yang satu sudah sadar. Mereka berdua berusaha meyakinkan satu sama lain.

Pihak yang sadar pasti terdengar lebih bijak dan kalem. Kenapa? Karena logikanya sudah jalan dan tidak mengandalkan perasaan lagi. Sedangkan pihak yang masih mabuk justru semakin menggila dan lupa diri. Bukan tidak mungkin kalau pihak yang mabuk dapat melukai pihak lainnya seperti kasus pembunuhan di atas.

Kalau urusan cinta, orang bisa jadi mabuk-semabuknya. Makanya mulai dari sekarang Anda harus belajar menggunakan logika dan jangan hanya mengikuti perasaan saja.

REFERENSI

[1] What is Logic and Why Should We Study Logic?

[2] Essential Logic

[3] Syracuse University Psychology Researcher: Love Shows Up in Brain Scans

[4] The Science of Compassionate Love

Share Your Thoughts