Pentingnya Jeda Setelah Putus Cinta

william-recinos-194202-unsplash

Kenapa banyak orang yang buru-buru jadian setelah putus cinta?

Alasannya karena mereka begitu kesakitan, sehingga jadian terasa satu-satunya jalan move on dan bahagia instan. Semakin cepat menggandeng pasangan baru, semakin cepat pula luka di hati menutup. Kalau perlu, putusan di pagi hari dan dapat pasangan baru sore nanti.

Masalahnya, segala macam proses penyembuhan BUTUH WAKTU untuk benar-benar pulih. Jika Anda mengidap flu, dokter pasti menyarankan istirahat berhari-hari sampai sembuh. Tidak ada pil ajaib yang langsung menyembuhkan penyakit dalam sekali telan.

Hal yang sama berlaku saat putus cinta. Perasaan Anda yang lagi sakit awut-awutan perlu waktu untuk sembuh. Mustahil ada obat, teknik, dan jampi-jampi yang bisa menyembuhkan patah hati sekarang juga.

Kalau sakit fisik, Anda bisa sabar menanti berhari-hari sampai sembuh. Tapi kalau sakit hati, Anda mendadak berubah jadi makhluk paling tidak sabaran di muka bumi. Masa bodoh dengan proses, Anda ingin SEMBUH SECEPATNYA.

Kebanyakan tingkah konyol usai putus cinta (mabok minuman dan obat-obatan) biasanya karena ingin cepat sembuh tadi. Mereka tidak mau sakit-sakitan selama proses penyembuhan dan akhirnya mencari pelampiasan. Namanya juga pelampiasan, efeknya hanya sebentar saja bertahan. Ketika efeknya habis, mereka kelimpungan mencari pelampiasan lain yang lebih kuat dan berbahaya dari sebelumnya. Bukannya sembuh, mereka justru menambah luka-luka yang baru.

Jika Anda ngebet punya pasangan baru setelah putus, Anda sama durjananya dengan mereka yang mabok-mabokan. Cuma substansinya beda; yang satu pakai obat dan minuman buat pelarian, sementara Anda pakai pasangan baru buat teman lari.

Sebenarnya Anda cuma takut bila menjomlo kelamaan bisa memperparah luka infeksi di hati. Anda pikir dengan berpacaran, hidup jadi indah dan berwarna-warni pelangi. Hasilnya, Anda mendekati siapa saja lawan jenis yang tersedia. Bahkan tidak menutup kemungkinan Anda langsung menembak gebetan di kencan pertama. Urusan cocok-cocokan jadi masalah belakangan. Yang penting jadian dulu biar tidak tersiksa bayangan mantan melulu.

Apa yang terjadi?

Luka hati Anda justru semakin bernanah!

Anda jadi semakin TEKUN men-stalking media sosial mantan, Anda DONGKOL BUKAN MAIN saat tahu dia menjalin asmara dengan orang baru (apalagi dia lebih cakep/cantik/kaya dari Anda), dan berbagai macam penyakit belum move on lainnya. Anda pun MEMBANDING-BANDINGKAN HUBUNGAN sekarang dengan yang lama.

Karena mantan lebih menarik perhatian, ujung-ujungnya Anda malah menelantarkan hubungan yang sekarang. Tidak perlu ramalan zodiak super jitu untuk menebak kelanggengan hubungan Anda. Setelah itu silakan menangis kembali di pojok kamar yang hangat, lalu ulangi lagi cara yang sama.

Begitu terus berulang-ulang, sampai Anda menyadari ada yang tidak beres dengan cara move on itu.

Bukan salah Anda kenapa sampai begitu ngebetnya dapat pasangan setelah putus. Bisa jadi motifnya karena:

Content continue below...
  • Teman-teman, sahabat, dan orangtua menyarankan Anda untuk cepat cari gandengan baru agar sakit hatinya tidak kelamaan.
  • Para selebram, selebtwit, dan youtuber panutan Anda juga berkali-kali menyarankan hal yang sama.
  • Anda dipanasi kabar burung kalau mantan sudah punya kekasih baru. “Huh aku gak boleh kalah” pikir Anda.
  • Masukkan ketiga motif di atas, aduk rata, dan terciptalah banteng liar yang siap mengawini banteng mana pun.

Punya pasangan baru tidak serta merta menyembuhkah luka hati Anda. Ada banyak yang bertahun-tahun sudah menikah pun menganggap hubungan dengan mantan jauh lebih baik dari sekarang. Bayangkan, yang sudah lama menikah saja masih sulit move on, apalagi yang baru putus kemarin.

Tapi apa itu artinya Anda dilarang mendekati gebetan baru saat putus?

Silakan saja kalau memang punya. Mau bagaimanapun, Anda perlu teman untuk melupakan masalah sejenak. Tapi tujuannya BUKAN UNTUK MENJADIKANNYA PASANGAN HARI INI JUGA. Tetesi obat merah dulu di hati Anda dengan cara bersenang-senang dengan gebetan. Masalah nanti jadi pasangan atau tidak itu urusan belakangan. Kesembuhan Anda jauh lebih penting.

Normalnya perlu 1-2 minggu untuk menenangkan diri, meskipun ada juga yang sampai berbulan-bulan. Cepat atau lambat proses tersebut tergantung dari cara Anda menghabiskan hari. Tapi mengandalkan waktu saja tidak cukup. Coach Kei Savourie pernah mengatakan: “Bukan waktu yang menyembuhkan, tapi APA yang Anda lakukan di waktu tersebut.” [1]

Kalau seluruh waktu dihabiskan cuma untuk melamun, bisa saja Anda baru tenang satu abad depan. Tapi bila hari-hari diisi dengan: (1) Jalan-jalan dengan gebetan baru (2) ikut kegiatan-kegiatan asik bareng orang lain, maka satu minggu sudah cukup untuk membalut rapat luka hati Anda.

Selama masa hibernasi tersebut, Anda akan menyadari bahwa hidup ternyata oke-oke saja tanpa mantan. Barangkali masih ada segumpal nyeri di hati, tapi tidak separah di hari pertama putusan. Semua itu bisa Anda rasakan selama memberi waktu bagi otak untuk beradaptasi merelakan mantan. Terburu-buru menjalin hubungan dengan pasangan baru bisa merusak proses adaptasi tersebut. Bagaimana mau beradaptasi kalau Anda sudah menimpanya dengan urusan lain? [2]

Jika Anda sudah terbiasa dan menerima kepergian mantan, itu tandanya portal untuk menjalin asmara yang baru sudah terbuka lebar. Silakan mencari pasangan baru yang lebih baik dari sebelumnya… atau Anda ingin menikmati jomlo dulu? Terserah Anda.

Ingat pepatah ini, alon-alon asal kelakon. Pelan-pelan asal terlaksana. Ibaratnya pengendara sepeda motor kreditan, Anda tidak bisa bablas mengebut di jalan raya. Ada rambu-rambu yang harus Anda patuhi agar selamat sampai tujuan. Boleh saja mengebut, tapi jangan mengeluh kalau nanti jatuh tersungkur atau dikejar satu lusin polisi.

Slow down and enjoy yourself a little more. Don’t be so serious, life is not a race.

REFERENSI

[1] About Putus Cinta

[2] Otak Langsung Ngadat Saat Beradaptasi Dengan Aturan Baru

Share Your Thoughts