Antara Ahok, Vero, Dan Keretakan Cinta

065435300_1417750969-v2

Semangat tahun baru belum selesai, tahu-tahu kita dikagetkan berita Ahok yang melayangkan gugatan cerai ke Veronica Tan, istrinya. Penyebabnya dikabarkan serupa kisah kebanyakan perceraian lainnya: orang ketiga di tengah-tengah mereka.

Banyak orang merasa sulit percaya akan kabar tersebut, karena selama ini media rajin memberitakan hubungan Ahok dan Vero yang baik-baik saja, malah terkesan indah dan mesra. Apalagi setelah tempo hari melihat Vero menangis pilu saat bacakan surat Ahok yang ditulis dari balik jeruji besi.

Selama beberapa minggu terakhir, teman-teman yang sudah tahu saya rajin mengulik isu percintaan pun bertanya: “Menurut kamu apa yang terjadi? Mengapa pernikahan mereka kandas? Kok tidak bisa diselamatkan?”

Sejujurnya saya tidak lebih tahu daripada Anda tentang apa yang sebenarnya terjadi, itu sebabnya saya hanya bisa menganalisa fenomenanya dan apa yang terjadi di permukaan luar. Jadi silakan duduk santai karena saya akan menjabarkannya perlahan-lahan.

Mengapa Seorang Ahok Pun Tidak Bisa Menyelamatkan Pernikahannya?

Sejak 2009 sampai 2016, tingkat perceraian di Indonesia terus mengalami lonjakan hingga 16-20% setiap tahunnya. Dengan kata lain, ada sekitar 40 perceraian tiap jamnya di tanah air. Hal itu menunjukkan walau kita tidak sebegitu merasakan, tapi perceraian terus terjadi di sekeliling kita. Saya yakin Anda bisa dengan mudah terpikir beberapa teman atau family yang rumah tangganya yang terurai.

Peningkatan jumlah perceraian tersebut mengindikasikan betapa sulitnya menjalani rumah tangga, termasuk di negara yang katanya sedemikian relijius ini. Kadar kekentalan budaya timur dan kerohanian masyarakat tidak sebegitunya menghindarkan kita dari potensi cerai. Tidak peduli apakah Anda orang biasa seperti saya, orang terkenal seperti para selebritis, orang luar biasa seperti Ahok atau tokoh masyarakat, kita sama-sama beresiko terpeleset dalam perjalanan mencintai dan dicintai.

Saya jadi ingat kata-kata rekan saya, Lex dePraxis: “Nobody is truly immune to cheating, hence the possibility of a divorce is always lurking.” Selingkuh dan perceraian itu bagai virus flu: meskipun kita beruntung punya tubuh yang kuat dan rajin menjaga kesehatan, pasti akan tiba masanya suatu saat tubuh kita nge-drop dan terjangkiti virus itu.

Kita harus punya kerendahan hati untuk mengaku otak kita mudah sekali diretas oleh cinta. Jika seseorang punya kriteria sesuai yang menggelitik hormon-hormon cinta di otak Anda, kemungkinan besar Anda akan jatuh cinta pada orang tersebut. Dan itu tetap bisa terjadi walau Anda sudah punya pasangan dan anak-anak yang dicintai sepenuh hati.

Saya malah punya teori begini: semakin Anda punya mapan dan berkedudukan tertentu di masyarakat (mis. artis, musisi, penjabat, dsb), semakin Anda beresiko terseret perselingkuhan dan terjatuh di jurang perceraian. Alasannya adalah karena ada jauh lebih banyak orang di sekeliling Anda, sehingga jadi lebih banyak juga kesempatan tergoda. Sebagian orang akan datang menggoda atas dasar rasa suka, sebagian orang menggoda demi motif bisnis atau politik, atau sebagian lagi menggoda karena gatel iseng-iseng.

Bayangkan beban pikiran dan tanggung jawab yang dirasakan pasangan yang terkenal di mata publik. Kesibukan saya dan Anda pasti tidak ada apa-apanya dibanding mereka. Sebagai karyawan biasa, saya hanya perlu mengurus pekerjaan jam 9 pagi hingga pukul 5 sore, sisa waktunya bisa dipakai untuk santai bercanda dengan pasangan ataupun berdiskusi serius tentang isu-isu hubungan kami. Saya mungkin tidak punya kemewahan fasilitas dan gaya hidup seperti para orang kaya dan tokoh terkenal itu, tapi saya punya kemewahan waktu dan tenaga untuk merawat hubungan saya.

Saya tidak pungkiri ada banyak tokoh publik yang awet pernikahannya, tapi itu ‘kan hanya tampilan dari luar. Semakin populer seseorang, semakin dia akan mati-matian menjaga citra keharmonisan keluarga. Realita rumah tangga orang-orang demikian hanya diketahui oleh mereka sendiri yang menjalaninya dan para konsultan profesional yang melayani mereka.

Kalaupun ada keluarga terkenal yang bisa langgeng sejati, saya yakin perjuangan mereka relatif lebih berat dibanding orang-orang biasa lainnya. Mereka harus senantiasa cekatan mengelola waktu dan masalah pekerjaan agar tidak sampai mengganggu hubungan. Itu sebabnya saya selalu merasa kagum bercampur nyeri melihat kehidupan rumah tangga orang-orang terkenal, karena menyadari kerumitan rumah tangga saya mungkin tidak seberapa dibanding mereka.

Di Indonesia ini, kita mudah sekali menuding kehadiran orang ketiga sebagai penyebab kerumitan dan keretakan rumah tangga. Realitanya tidak pernah sesederhana itu. Seperti sudah saya jelaskan, ada banyak sekali kondisi yang memungkinkan orang ketiga bisa menyelonong masuk dalam. Itu bisa terjadi karena hubungannya sudah lama dingin, bisa karena kurangnya komunikasi, bisa karena ketidakpuasan, bisa karena masalah pribadi seperti kecanduan, dsb. Orang ketiga seringkali sekedar orang yang kebetulan berada di waktu yang tepat.

Jadi jawaban mengapa mengapa seorang Ahok tidak bisa menyelamatkan pernikahannya pasti serupa dengan mengapa saya dan Anda suatu saat akan gagal menyelamatkan pernikahan kita: kelalaian dan kurang kerjasama. Daripada panjang memikirkan itu, saya rasa kita perlu fokus pada pertanyaan yang lebih baik: bagaimana kita tahu bilamana sebuah hubungan sudah tidak bisa diselamatkan lagi?

Menurut pemikiran saya, kita sewajarnya melepaskan hubungan ketika masalah yang sama terus terulang setelah sekian lama negosiasi perbaikan. Apa pun masalahnya, seharusnya pasangan bisa diajak bicara dan bekerjasama untuk mengatasi kecanduan, kekacauan, perselingkuhan, atau apa pun masalah dia. Jika salah satu pihak ngotot melalaikan tanggung jawabnya hingga terus-menerus menambah beban hubungan, masa tidak ada cara lain selain meninggalkannya mengurus sendiri masalah dan keputusannya tersebut.

Kehadiran konsultan profesional pun penting sekali dalam negosiasi, karena mungkin saja kedua orang itu terlalu emosional untuk berpikir jernih. Proses mediasi bisa berlangsung pendek, bisa juga panjang bertahun-tahun seperti  yang saya duga terjadi pada kasus Ahok-Vero. Itu sebabnya bila akhirnya mereka sepakat berpisah, saya yakin itu ditempuh setelah perjuangan yang maksimal.

Content continue below...

Perpisahan memang tidak mengenakkan, namun seringkali itu adalah keputusan yang justru akan menolong kedua belah pihak—termasuk melindungi anak-anak—dari kondisi yang lebih buruk. AVVO, sebuah lembaga servis legal di Amerika, menemukan sebanyak 75% responden wanita berhasil meraih sukses dan hidup bahagia setelah bercerai. Bahkan penelitian dari Montclair State University menunjukkan kalau anak-anak dari orangtua yang bercerai lebih sejahtera secara mental dibandingkan anak-anak dengan orangtua yang berkonflik tapi tidak bercerai. [1] [2]

Sayangnya, masih banyak yang anggap pernikahan sebagai obat yang membawa kebahagiaan. Mereka pikir dengan terus sabar bertahan, suatu saat pasangan akan bisa berubah dan hubungan mereka akan bahagia seperti harapan. Pola pikir seperti itu yang membuat banyak orang memandang miring kata perceraian. Mereka melihat dari sisi negatifnya saja, tanpa menyadari itu bisa menjadi jalan keluar dari masalah yang berkepanjangan.

Lex merangkumnya dengan sempurna: “Sedemikian besarnya pengagungan dan pemujaan terhadap institusi pernikahan, banyak orang teracuni perspektif sempit tentang perceraian sehingga mereka tanpa sadar terus menyekap dan membonsai anak dalam rumah yang penyakitan.” [3]

Konklusi

Pernikahan bukanlah sesuatu yang enteng, dan tidak ada satupun yang bisa menjamin pernikahan Anda akan langgeng bahagia selamanya. Anda bisa berupaya semaksimal mungkin memilih orang yang terbaik untuk Anda. Namun setelah itu, kalian berdua perlu terus belajar agar tidak keliru ataupun lalai merawat hubungan sampai hari tua nanti.

Media massa tidak pernah lelah menjamu kita dengan keretakan rumah tangga dan berita perceraian para selebriti. Keluarga dan lingkungan pergaulan kita pun akan semakin banyak diwarnai dengan kisah-kisah serupa. Saya rasa tidak bijak sekali jika kita terus bersikukuh menipu dan menyangkali kemungkinan tragedi serupa terjadi di masa depan kita.

Saya pribadi setuju dengan keputusan akhir Ahok untuk berpisah dengan Vero, kekasih hatinya. Saya yakin ada faktor-faktor lain yang terjadi di dapur mereka, tapi tanpa memperhitungkan itu pun saya bisa melihat perpisahan ini adalah keputusan terbaik untuk saat ini. Sebagai masyarakat umum, saya hanya bisa mendoakan mereka sekeluarga bisa berlayar dengan baik di tengah ombak badai ini. Perceraian memang menyakitkan, tapi kadang itu adalah satu-satunya pintu yang menuju kebahagiaan berikutnya.

antara ahok, vero, dan keretakan cinta

 

Sebenarnya saya mau berhenti di sana, tapi berhubung ini adalah Kelas Cinta, izinkan saya menancapkan esai opini ini di benak Anda dengan beberapa paku emas.

  • Anda perlu memiliki kedewasaan mental sebelum benar-benar menjalani hubungan cinta yang serius. Hal itu dikarenakan bakal ada banyak masalah yang perlu Anda selesaikan secara dewasa, baik dengan cara negoisasi maupun ketika Anda ingin mengambil keputusan penting yang menyangkut masa depan hubungan Anda dan pasangan.
  • Carilah pasangan yang juga dewasa, baik secara usia maupun pola pikirnya. Memang usia dewasa tidak menjamin pola pikirnya ikut dewasa, tapi setidaknya orang yang berusia dewasa lebih banyak berpengalaman hidup ketimbang yang masih remaja. Sehingga ketika ada masalah dalam hubungan, kalian bisa menyelesaikannya secara baik-baik tanpa ngedrama berkepanjangan.
  • Terus belajar cinta dari sumber yang terpercaya. Saya heran mengapa masih banyak orang yang meremehkan kecerdasan bercinta, padahal masa depan mereka bergantung pada itu. Belajar manajemen relasi itu penting, ada ribuan peneliti di dunia ini yang sudah membedah dan menawarkan solusinya. Mereka tahu ini penting, lalu kok bisa-bisanya Anda pikir sebaliknya?
  • Kalaupun pasangan Anda ketahuan selingkuh, sebaiknya lakukan negoisasi secepatnya sebelum keadaan bertambah buruk. Ingatkan ke pasangan kalau perselingkuhan itu dapat merugikan banyak orang, termasuk Anda, keluarga, dan dirinya sendiri. Katakan juga kalau Anda pun siap berubah demi kebahagiaannya. Namun, jika pasangan tetap meneruskan perselingkuhannya, Anda harus berani mengambil opsi yang tidak menyenangkan itu. Barangkali dengan perceraian, Anda dan pasangan bisa hidup bahagia di jalannya masing-masing.

 

REFERENSI

[1] 2016 Annual Relationship, Marriage, and Divorce Survey Final Report

[2] Divorce Not Always Bad for Kids, Study Says

[3] Cerai: Menyengsarakan Anak Atau Menyejahterakan Anak?

Share Your Thoughts