Kenapa Dia Melanggar Komitmen?

Home Articles Kenapa Dia Melanggar Komitmen?

Biasanya ketika hubungan sudah berjalan, pasangan tiba-tiba berubah tabiatnya. Dulu ketika masih PDKT atau awal-awal pacaran, dia banyak berkomitmen mulai dari janji selalu bersamalah, janji tidak bakal gampang marahlah, janji bakal selalu mendengarkan keluhan Anda, janji selalu mencintai Anda sampai tua, dan sebagainya. Tapi setelah hubungan berjalan, eh ternyata dia banyak melanggar komitmen. Kira-kira kenapa ya?

Lovers, hanya karena dia berjanji setia dan berkali-kali mengulang janjinya, tidak ada jaminan dia akan menepati. Bukan berarti dia berdusta atau merayu gombal, kemungkinan besar dia sedang tulus sepenuh hati kok waktu bilang komitmen itu. Namun, biasanya sih waktu berkomitmen itu dia punya ekspekstasi yang keliru tentang relasi cinta jangka panjang alias dia tidak menyangka bebannya akan sebanyak itu!

Nah ini penyebab dia jadi banyak melanggar komitmen: ekspektasi yang keliru soal relasi cinta jangka panjang!

Baca juga:
2 Alasan Kenapa Anda Mencintai Orang Yang Salah

Dia tidak menyangka sensasi senang dan deg-degan di awal hubungan itu cuma temporer, bagai efek parasetamol yang perlahan hilang, dan rasa pegal/nyeri/sakit perlahan-lahan muncul membayangi. Dia tidak menyangka bahwa hubungan cinta bagai kontrak pekerjaan sepanjang hari, minggu, bulan, tahun. Kalau cuek dan malas sedikit, bakal timbul masalah di kemudian hari. Dia juga tidak menyangka semakin panjang usia hubungan, maka akan semakin banyak beban dan tuntutannya. Energi akan terkuras, rutinitas jadi berubah, dan kebebasan jadi terbatas.

Dalam kondisi kaget dan tidak nyaman itu, daripada mengakui kekeliruan ekspektasi dan terima konsekuensi, dia cenderung pilih jalur yang lebih enak. Setidaknya tiga hal ini:

  • Dia mulai mengabaikan tanggungjawab dan janjinya di awal dulu, sambil menuding ada yang salah dengan pasangannya atau hubungan itu.
  • Dia mulai mengungkit-ungkit selalu bekerja keras selama ini, bahwa dia kurang dihargai, bahwa pasangannya terlalu rewel, banyak drama, banyak menuntut, dan sebagainya.
  • Dia mulai membatasi komunikasi dan menarik diri karena Anda yang berkali-kali coba membujuk dan mengoreksi dia. Semakin Anda coba, semakin dia enggan.

Anda sebagai pasangan tentu bakal membujuknya untuk menagih janji. Tapi ketika bujukan tidak mempan, Anda pun menyerang lebih keras yaitu dengan merapal semua janjinya dulu, “Kamu bilang itu dulu, sekarang mana buktinya? Kamu bohongin aku? Kamu cuma pura-pura aja selama ini? Kok bisa setega sejahat itu kamu? Kenapa kamu sering melanggar komitmen yang kamu buat sendiri?”

Baca juga:
Ini Tandanya Kalau Dia Memang Serius Sama Anda!

Jika komunikasi sudah berisi tuduhan yang sambung-menyambung dan saling berbalas-balasan seperti itu, hampir dipastikan keduanya tidak akan sampai pada solusi. Kalian jadi fokus membela diri dan menggali kesalahan pasangan buat diserang. Hubungan kalian tak ubahnya permainan catur yang mana tidak ada negosiasi di situ, adanya cuma strategi untuk mengalahkan pihak lain.

Anda harus catat bahwa komitmen hanyalah pernyataan yang tidak memiliki kekuatan apa-apa bila tidak disertai dengan sistem sanksi. Tapi saya tidak ingin bahas tentang sistem sanksinya, saya cuma mau bahas tentang komiten tulus yang diabaikan karena orangnya salah ekspektasi.

Salah ekspekstasi yang bagaimana? Yaitu salah memperkirakan masa depan relasi cinta, akibat propaganda tentang indahnya (dan mudahnya) relasi cinta jangka panjang dan pernikahan. Setiap hari, Anda melihat foto atau video pasangan yang tampak bahagia di mana-mana. Lama kelamaan, Anda jadi berpikir bahwa orang yang menjalin hubungan cinta pasti hidupnya “Happily ever after” dan sempurna seperti mereka. Bukankah kekuatan cinta mampu mengalahkan segala-galanya?

Bila benar hubungan cinta itu konstan “happily ever after”, ya memang masuk akal sih Anda jadi merasa mudah, yakin, dan bergairah untuk selalu menepati komitmen. Padahal kebahagiaan yang ditampilkan orang-orang itu sebenarnya hanyalah imajiner, fiktif, atau istilah yang lagi ngetren: hoax. Tentu tujuan mereka untuk lebih menarik perhatian Anda karena manusia memang doyan dicekoki sesuatu yang berbau kebahagiaan.

Realitanya, relasi cinta jangka panjang tidak diisi bahagia-bahagia melulu, tapi juga menyesakkan, penuh masalah, dan memberatkan pikiran. Tentu itu hal yang tidak terbantahkan lagi, terutama kalau Anda sudah pernah menjalin hubungan. Jadi konsep cinta selalu berjalan “happily ever after” seharusnya terdengar tidak masuk akal bagi Anda.

Anda dulu boleh saja bersikap teguh dan tulus mengucapkan janji setia di awal hubungan. Tapi nanti saat hubungan mulai menyusuri lembah berbahaya, Anda akan merasa nyeri lelah sehingga cenderung berperilaku memojokkan pasangan seperti tiga jalur enak di atas.

Bagaimana dong solusinya biar hubungan berjalan lebih tenang tanpa meributkan komitmen ini itu?

Solusi 1: Berhenti mengagungkan janji/komitmen

Tahan mulut Anda rapat-rapat ketika mau mengucapkan komitmen. Semakin banyak komitmen yang Anda ucapkan, semakin sulit Anda penuhi semuanya. Ini juga untuk mencegah Anda terlalu mengagungkan komitmen yang mana adalah hasil dari ekspektasi yang keliru soal relasi cinta.

Kalau Anda ingin memulai hubungan, ya tinggal mulai saja hubungannya tanpa perlu komitmen apa-apa. Boleh-boleh saja berkomitmen asalkan hubungan sudah berjalan lama dan Anda sudah tahu pahit-pahitnya hubungan.

Solusi 2: Ciptakan Sistem Sanksi dan Apresiasi

Cara tergampang biar Anda dan pasangan mau menepati komitmen adalah dengan menciptakan sistem sanksi dan apresiasi. Kedua hal ini sangat berguna untuk memacu kalian agar menepati komitmen masing-masing. Kalau keduanya tidak ada, ,maka komitmen cuma jadi sekadar angin lalu, gampang dibuat karena toh tidak ada sanksinya.

Contoh sanksi: kalau pasangan melanggar komitmen, Anda tidak mau menemuinya selama sebulan penuh.

Contoh apresiasi: kalau pasangan menepati komitmennya, Anda kasih dia hadiah berupa jam tangan yang sudah lama dia inginkan.

Ini akan membuatnya sadar bahwa ada sanksi dan apresiasi yang menunggu jika dia melanggar atau menepati komitmen. Akhirnya dia akan berusaha ekstra keras untuk menepati janjinya. Bukankah itu yang Anda mau?  

Solusi 3: Tingkatkan Kecerdasan Berelasi Cinta

Jika Anda tidak tahu apa-apa soal berelasi cinta maka Anda akan mudah disuapi omong kosong oleh pasangan, salah satunya ya komitmen yang tidak ditepati tadi. Solusi mencegahnya jelas: Anda wajib meningkatkan kecerdasan berelasi cinta biar tidak gampang disuapi lagi!

Untungnya Anda tidak hidup di Zaman Kegelapan karena sekarang ilmu pengetahuan bisa diakses di mana saja tanpa perlu jauh-jauh berjalan kaki ke perpustakaan. Anda cukup membuka handphone, pastikan terkoneksi internet, dan semua ilmu yang Anda cari langsung terhidang siap disantap. Anda ingin menambah wawasan soal membina hubungan cinta? Langsung saja pelajari ratusan materinya di KC STAR lewat LINK di bawah. Saya sarankan sih Anda menontonnya bareng sama pasangan biar kalian sama-sama mengerti bagaimana membina hubungan cinta yang sehat:

>>>KC STAR<<<

Ketiga solusi itu jelas bukan solusi instan karena Anda dan pasangan wajib menata ulang segalanya dalam hubungan atau pernikahan kalian. Semua harus didiskusikan ulang, dibedah inti masalahnya, dan buat perencanaan-perencanaan agar hubungan berjalan lebih baik. Terlihat seperti bekerja ya? Membangun relasi cinta memang isinya kerja 24 jam setiap hari bersama pasangan, itu pun kedua pihak harus mau bekerja sama. Kalau salah satu menolak, maka bubar sudah hubungan itu.

Baca juga:
Komunikasi Bukan Kunci Hubungan Harmonis

Apa pun yang Anda asumsikan/ekspektasikan sudah sewajarnya terjadi dalam hubungan. Jika ada ekspektasi yang melenceng dengan kenyataan, utarakan sejelas-jelasnya pada pasangan dan minta opininya. Bila ada perbedaan opini, diskusikan hingga tercipta kesepakatan cara mengatasi dan meminimalisir benturan tersebut. Jangan cuma mengalah dengan kesimpulan pasangan!

Bila ada ekspektasi yang sulit disepakati atau tujuan yang sulit diraih, baca literatur yg membantu, konsultasikan dengan profesional bila perlu! Jangan ditunda-tunda karena ekspektasi dan visi yang keliru dan berbeda satu derajat saja akan makin jauh meluas/melebar seiring waktu. Apalagi nanti setelah euforia cinta meredup, ditambah dengan masalah keluarga, dan tekanan biaya akibat anak dan sebagainya… dijamin makin sulit dan malas diskusinya!

Semoga kini Anda lebih paham bahwa komitmen memang normalnya terabaikan setelah hubungan berjalan. Makanya perlu sering saling mengingatkan biar komitmennya tidak terlantar.

Referensi:
[1] What is Commitment?