Home » LDR

Kunci Rahasia Sukses LDR

portugal-1816896_960_720

Semenjak Ward Christensen dan Randy Suess menemukan CBBS bulletin board yang menjadi cikal bakal media sosial moderen, semua orang bisa memuntahkan isi pikirannya di akun pribadi masing-masing. Empat puluh tahun kemudian, media sosial pun berkembang tidak sekedar menampilkan isi pikiran user, tetapi juga konten lainnya seperti foto atau video. Sekarang bukan hal yang aneh melihat orang-orang cekikikan melihat video lucu di Facebook atau menggeram marah setelah membaca berita politik di Twitter.

Semakin beragam konten yang muncul di media sosial, semakin beragam pula emosi dan perasaan orang yang melihatnya. Tak terkecuali dengan perasaan cinta. Tak jarang kita mendengar desas-desus tentang seorang teman yang menjalin hubungan asmara dengan orang yang jaraknya ribuan mil. Dulu mungkin terasa aneh melihat seseorang jatuh cinta pada sosok yang belum ditemuinya secara langsung. Namun, menurut situs Long Distance Relationship Statistics ada 14 juta orang yang berani menjalani hubungan jarak jauh tersebut. Hal itu menunjukkan kalau LDR bukan lagi sesuatu yang aneh karena semakin diminati banyak orang. [1]

Tentu kehadiran internet ikut andil dalam peningkatan jumlah pasangan LDR. Zaman dulu sangat sulit menjalani hubungan jarak jauh karena minimnya alat komunikasi. Kakek dan nenek Anda mungkin pernah merasakan repotnya bolak-balik ke kantor pos untuk mengirim surat. Sekarang dengan kehadiran internet, aplikasi chatting, dan media sosial, Anda bisa menemukan berbagai macam lawan jenis yang sesuai dengan kriteria Anda. Jika berhasil mendapatkannya, Anda bisa menghubungi pasangan di mana saja asalkan sinyal di ponsel tidak kosong melompong. Hal itu membuat perjalanan LDR tidak lagi terjal seperti dulu.

Meskipun teknologi membuat LDR menjadi lebih mudah, pada kenyataannya menjalani hubungan seperti itu tetap saja membutuhkan keahlian khusus. Bahkan Coach Lex dePraxis memasukkan LDR sebagai olahraga ekstrim nomor 1 yang banyak digemari orang. Mengapa disebut ekstrim? Karena konsisten usaha menjalani cinta saja sudah berat, apalagi jika Anda berbeda kota, pulau, ataupun negara dari pasangan. [2]

Mau bagaimanapun, hubungan cinta tetap membutuhkan aktivitas fisik seperti sentuhan (belaian, pegangan tangan, pelukan, dsb) dan aktivitas verbal (mengobrol secara langsung, pillowtalk, dsb). Perbedaan jarak tentu saja mengurangi kedua aktivitas tersebut. Memang Anda bisa mengobrol lewat telepon atau video call, tapi keintimannya pasti tidak sama. Hilangnya kehangatan itu jadi menurunkan gairah mengobrol, dan seiring waktu komunikasi jadi menghilang sama sekali.

Omong-omong saya juga termasuk pelaku hubungan jarak jauh. Pertama kali bertemu dengan pasangan melalui Twitter yang berlanjut ke telepon, chat, video call, dan berakhir ke pertemuan. Saya juga merasakan sulitnya menjaga intensitas komunikasi, apalagi ketika hubungan itu sudah berjalan satu tahun. Ada kalanya saya menghabiskan siang hari dengan bekerja sehingga baru bisa membalas chat pasangan saat malam hari. Untuk rutin bertemu seminggu sekali juga sulit karena kami berdua dipisahkan oleh jarak sepanjang 456 km. Butuh enam jam perjalanan kereta atau satu jam penerbangan pesawat. Semua itu juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Jika memaksa bertemu seminggu sekali, bisa-bisa kami hanya makan nasi cocol kecap manis setiap hari.

LDR itu membuat hubungan saya dengan pasangan tidak setiap hari semulus trotoar Orchard Road. Terkadang kami merasa salah satu pihak perhatiannya mulai berkurang. Entah karena saya sibuk mengetik di komputer seharian atau dia ada urusan bisnis penting sehingga telat membalas chat, sehingga muncul praduga yang tidak-tidak. Sesekali ada rasa jenuh karena setiap hari ponsel saya terus dibombardir ratusan pesan dari pasangan. Kalau dibiarkan, bisa-bisa saya kehilangan motivasi untuk melanjutkan hubungan hanya karena jenuh.

Namun, kekhawatiran itu justru membuat kami memutar otak untuk menjaga hubungan tetap berjalan. Akhirnya setelah bertahun-tahun menjalani dan berdiskusi dengan pasangan, saya menemukan dua kunci rahasia sukses LDR yang membuat hubungan kami langgeng sampai sekarang.

Kedua kunci ini bisa diterapkan pada hubungan jarak jauh maupun dekat. Jadi siapkan pulpen dan kertas untuk mencatat poin-poin di bawah ini. Kalau tidak mau repot, silakan bookmark saja artikel ini agar Anda tidak lupa.

Kedua kunci penting itu adalah:

Beri jarak dalam komunikasi.

Dalam LDR, cara Anda berkomunikasi ke pasangan jauh berbeda dengan hubungan jarak dekat. Tangan Anda tidak bakal lepas dari gadget karena alat itu adalah satu-satunya penghubung antara Anda dan pasangan. Karena menggunakan gadget, maka komunikasi Anda terbatas pada suara, teks, dan video saja. Ini bisa menjadi problematika tersendiri karena dalam bulan-bulan pertama hubungan, barangkali kalian masih betah bertelepon selama berjam-jam atau chatting-an seharian tanpa putus. Namun, intensitas yang berlebihan dapat membuat kebosanan datang lebih cepat daripada yang Anda kira.

Intensitas komunikasi memang penting, tapi tidak bagus juga bila berlebihan. Ini tipsnya bagaimana menjaga intensitas komunikasi tanpa berlebihan:

  • Balas chat HANYA ketika Anda senggang.

Saya mengerti rasanya sulit untuk tidak membalas chat pasangan. Namun, jika Anda menghabiskan jam siang dengan bekerja atau kuliah, sebaiknya balas chat-nya ketika Anda punya waktu luang di sela-sela kesibukan.

Mengapa begitu?

Kesalahan yang sering dilakukan orang adalah tetap membalas chat pasangan sambil bekerja. Mereka jadi tidak fokus bekerja dan tidak konsentrasi pada topik yang disampaikan pasangannya. Hasilnya, pembahasan topik jadi tidak seru karena pihak yang sibuk bekerja pasti membalas dengan setengah-setengah atau malah out of topic.

Untuk mencegah penurunan kualitas chatting, tahan diri Anda untuk tidak membalasnya ketika sibuk. Lebih bagus lagi bila Anda berani bilang ke pasangan “Aku balas nanti kalau istirahat yah, soalnya banyak kerjaan nih.” Minta pengertiannya karena Anda bekerja untuk menunjang masa depan kalian berdua.

  • Telepon HANYA ketika malam tiba.

Hampir sama seperti poin di atas; karena siang hari Anda dan pasangan sudah disibukkan dengan pekerjaan, maka waktu paling tepat untuk menelepon adalah saat malam tiba.

Mengapa malam adalah waktu yang tepat untuk telpon? Karena Anda bisa cerita kegiatan siang tadi secara keseluruhan dan lebih panjang. Jika ngotot meneleponnya di sela-sela jam kerja, maka Anda bisa cepat kehabisan bahan obrolan dan menyebabkan aktivitas telepon menjadi garing sekaligus membosankan.

Saya lebih suka menelepon antara jam 22.00 atau 23.00 karena suasana sudah tidak berisik. Tentu menjengkelkan saat lagi asik-asiknya bermesraan tiba-tiba ada suara sepeda motor ngebut yang menggangu pembicaraan. Silakan Anda pilih waktu yang nyaman untuk menelepon. Pastikan juga pasangan tahu Anda akan meneleponnya di jam tersebut.

  • Video call HANYA seminggu sekali.

Seringkali telepon tidak cukup mengobati rasa kangen, saya perlu melihat wajah pasangan dan begitu pula sebaliknya. Tentu rasanya membosankan kalau setiap hari hanya mendengar suara tanpa melihat ekspresi wajah lawan bicara. Maka dari itu saya sesekali melakukan video call dengan pasangan. Itu pun dilakukan pada hari Sabtu atau Minggu.

Wait, kok cuma seminggu sekali?” Anda bertanya-tanya.

Content continue below...

Jawabannya sederhana: karena saya ingin pasangan menanti-nantikan momen saat video call. Jika kami melakukannya setiap hari, maka momen tersebut tidak lagi terasa spesial. Biarkan diri Anda dan pasangan mabuk rasa rindu ingin melihat wajah masing-masing.

Jadi daripada keseringan menghubungi pasangan, alangkah bijaknya bila Anda memberi jarak komunikasi seperti yang saya sebut di atas: chat hanya ketika senggang, telepon hanya ketika malam, dan video call hanya seminggu sekali. Biarkan intensitas komunikasi berada di tingkat rata-rata. Hasilnya, Anda dan pasangan terhindar dari rasa bosan yang datang prematur.

Selalu buat rencana untuk bertemu.

Relationships goal nomor satu dalam LDR adalah pertemuan. Boleh berencana ini dan itu bersama pasangan, tapi pertemuan tetap harus jadi yang utama. Jauh di lubuk hati, Anda pasti ingin berjalan-jalan sambil gandengan tangan atau bercumbu rayu seperti pasangan yang lain. Jelas hubungan akan menjadi super garing kalau tidak ada rencana untuk bertemu.

Bagi yang LDR-nya tidak terlalu jauh (beda kelurahan, misalnya), hal ini tidak menjadi masalah karena masih bisa bertemu sekitar seminggu sekali. Namun, kalau jaraknya sampai ratusan kilometer atau sampai ke negara lain, mau tidak mau Anda dan pasangan wajib bertemu minimal dua bulan sekali.

Jika saya dan pasangan adalah orang tajir melintir, maka tidak masalah bertemu sebulan sekali atau malah seminggu sekali. Tapi karena perekonomian kami sejajar dengan rakyat menengah pada umumnya, akhirnya kami harus menabung dulu dan mencari tanggal yang tepat untuk bertemu. Kalau tidak direncanakan dengan baik, waktu pertemuan bisa menjadi sangat singkat dan hasilnya tidak maksimal.

Begini cara saya memaksimalkan waktu pertemuan:

  • Cari hari libur yang berdekatan dengan hari minggu.

Jika Anda memiliki jam kerja dari Senin hingga Sabtu, carilah hari libur yang berdekatan dengan hari Minggu untuk menemui pasangan. Sehingga Anda punya waktu tambahan untuk berbagai agenda seperti jalan-jalan, mengunjungi rumah orangtuanya, atau aktivitas lainnya. Apabila ngotot bertemu di hari Minggu, waktu Anda bakal banyak terbuang di jam perjalanan sehingga waktu pertemuan menjadi lebih singkat.

Tahun 2018 saja ada 2 hari libur yang berdekatan dengan hari Minggu, itu belum termasuk hari raya Lebaran dan Natal yang merupakan hari libur panjang. Silakan pakai hari-hari tersebut untuk bertemu pasangan. Anda cukup beruntung bila memiliki jam kerja dari Senin sampai Jumat karena ada waktu tambahan satu hari setiap minggu.

  • Siapkan uang saku sekitar dua juta rupiah ke atas.

Sebenarnya ini bersifat relatif karena pengeluaran setiap orang tentu berbeda-beda. Namun, berdasarkan pengalaman saya dan teman-temannya lainnya yang atlet LDR, uang saku sekitar dua juta rupiah ke atas sudah cukup untuk kegiatan selama berada di kota pasangan.

Bujet sebesar itu cukup untuk menyewa kamar hotel murah, biaya makan dua kali sehari, dan biaya transportasi dalam kota. Kemungkinan besar dana Anda akan terkuras untuk sewa hotel dan transportasi, kecuali Anda menginap di rumah kenalan atau menggunakan kendaraan pribadi. Semakin lama Anda berada di sana, semakin banyak pula bujet yang harus disiapkan.

Ingat, pisahkan uang saku dengan uang perjalanan agar uang Anda tidak keburu habis karena membeli tiket pesawat atau kereta. Jangan sampai Anda menjadi miskin di kota orang dan akhirnya menjual ginjal agar bisa pulang.

  • Buat kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua.

Terkadang Anda menemui pasangan dengan agenda lain, seperti mendatangi pernikahan keluarga atau urusan pekerjaan. Jika Anda berada di situasi tersebut, berikan satu atau dua hari tambahan khusus untuk pasangan.

Misalnya: jika Anda mengunjungi kota pasangan karena urusan kerja pada hari Senin sampai Rabu, maka usahakan Anda sudah berada di kota tersebut pada hari Minggu pagi sehingga ada waktu tambahan untuk bersenang-senang dengan pasangan. Dari Senin sampai Rabu, Anda pasti disibukkan oleh pekerjaan sehingga quality time bersama pasangan akan berkurang. Tapi kalau waktunya benar-benar mepet, mintalah pengertiannya bahwa Anda tidak bisa berlama-lama di sana.

Di hari khusus tersebut, lakukan kegiatan-kegiatan bareng yang sudah kalian rencanakan. Taruh dulu semua urusan pekerjaan atau keluarga, jadi hari itu benar-benar spesial untuk kalian berdua.

Kunci Rahasia Sukses LDR

Barangkali ada cara lain untuk mengelola LDR agar tetap seru, asik, dan menyenangkan. Namun, untuk saat ini saya dan pasangan masih menerapkan poin-poin di atas untuk menjaga hubungan. Hasilnya? Tidak pernah sedikit pun kata “bosan” terlontar dari mulut kami berdua.  Silakan jika ingin memakainya atau Anda punya cara lainnya? Jangan sungkan untuk berkomentar di bawah.

Oh iya, share juga artikel ini ke pasangan LDR lain yang membutuhkan. Mereka akan sangat berterima kasih pada Anda.

REFERENSI

[1] Long Distance Relationship Statistics

[2] LDR Itu Berat, Jendral!

Share Your Thoughts