Pacaran Sebelum menikah Itu Penting Banget!

helena-lopes-HfCis83Ea-U-unsplash

“Langsung nikah saja selagi ada yang mau!”

Sudah sering dengar itu? Atau Anda sendiri yang bilang begitu? Yakin kalau kemauan adalah satu-satunya syarat pernikahan?

Sebenarnya syarat paling utama dalam menikah bukan kemauan saja, tapi juga saling cinta dan mengenal pasangan. Kalau cuma bermodal kemauan dan ayat suci agama, semua orang sanggup menikah. Namun, belum tentu berumur panjang.

Jadi kalimat: “Langsung nikah saja selagi ada yang mau!” itu sebuah kekeliruan. Yang lebih tepat itu: “Kalau cinta dan sudah mengenal pribadi masing-masing, silakan menikah.”

Menikah karena dijodohkan, tidak pakai pacaran, tidak pakai cinta memang bisa saja menimbulkan cinta, tapi bisa juga tidak. Kalau akhirnya timbul cinta, ya bagus. Tapi kalau tidak? Anda bakal hidup seperti di neraka. Sudah banyak kasus perceraian terjadi gara-gara ini.

Makanya pacaran sebelum menikah itu penting, malah harus kalau menurut saya. Karena pacaran adalah proses adaptasi dan saling mengenal satu sama lain. Kalau pacaran dulu dan dia ternyata memang baik, ya tinggal menikah. Anda Tidak rugi apa pun, toh Anda juga menikmati pacarannya.

Jangan menikah kalau ternyata banyak konflik selama pacaran. Anda bisa memutuskannya selagi masih di tahap pacaran. Anda memang rugi waktu dan emosi, tapi memutuskan saat pacaran jauh lebih baik daripada bercerai karena lebih hemat biaya. Anda pun tidak perlu berurusan dengan keluarga pasangan dan omongan tetangga.

Jika tidak pakai pacaran dan langsung menikah, terus baru ketahuan ternyata dia orangnya tidak baik dan suka main pukul bagaimana? Stress kan? Sudah sia-sia waktu dan tenaga, Anda juga terancam keselamatannya.

Baca juga:
Fenomena Ngebet Nikah: Apa dan Siapa Penyebabnya?

Ada contoh kasus nyata yang pernah saya temui, seorang klien wanita konsultasi pada saya soal masalah pernikahannya. Mereka menikah tanpa proses pacaran. Suaminya terlihat baik, polos, dan rajin beribadah. Dari awal si wanita sebenernya sudah tidak tertarik, tapi dia berpikir: “Ah, gak apa-apa cowok gak keren, yang penting baik dan agamanya bagus. Nanti juga cinta dan saling kenal.”

Singkat cerita, si wanita menerima lamaran si pria tanpa rasa suka, cinta, dan mencoba kecocokan. Pokoknya cuma bermodalkan “yang penting ibadahnya rajin”. Namun, rasa ketertarikan itu hal yang tidak bisa dipaksakan. Anda cuma akan tertarik pada sesuatu yang memang menarik.

Masalah pun muncul. Selain rajin beribadah, si pria tidak punya hal lain lagi yang menarik. Penampilan lusuh, teman-temannya sedikit, pendiam, dan kalau diajak ngobrol selalu kaku, dan garing.

Selama setahun menikah dan tinggal bersama, si wanita berusaha untuk menimbulkan rasa cinta, tapi perasaan tidak bisa bohong. Dia sulit sekali mencintai suaminya karena benih ketertarikannya memang tidak ada. Mau dipikirkan sampai jungkir balik pun dia tidak menemukan sesuatu dari suaminya yang bisa membangkitkan api asmara di benaknya

Akhirnya dia datang ke saya untuk konsultasi dan saya suruh dia ajak suaminya. Ketika saya lihat suaminya dang mengajaknya ngobrol, saya langsung mengerti kenapa si wanita tidak juga jatuh cinta.

Jadi saya kasih tahu suaminya untuk mengubah penampilan dan sikapnya agar lebih dominan ketika berhadapan dengan istrinya. Saya juga memintanya ikut Hitman System Online Training (HSOT) biar digembleng jadi pria keren. Istrinya langsung setuju, malah dia yang membayari HSOT buat suaminya.

(Anda pun bisa mendaftar HSOT lewat LINK di bawah)

HITMAN SYSTEM ONLINE TRAINING

Content continue below...

Setelah 3 hari diajari pola pikir, sikap, perilaku, dan konsep lewat HSOT, akhirnya si suami bisa berubah jadi keren. Dia mulai pakai celana jeans, jenggot dicukur rapi, dan yang paling penting, dia bisa diajak bercanda dan ngobrol berbagai macam hal. Istrinya langsung memberitahu saya kalau dia bisa melihat daya tarik dari suaminya.

Tapi tidak adil kalau cuma menaruh beban perubahan pada sang suami, makanya saya juga meminta istrinya untuk lebih menghargai usaha suami dengan pujian, sentuhan, dan sikap yang manis. Intinya dia harus jadi istri yang sweet.

Saya pikir semua lancar dan berjalan sesuai harapan. Tapi mengubah diri tidak semudah itu…

Beberapa bulan kemudian tiba-tiba istrinya laporan pada saya kalau dia mau menceraikan suaminya. Saya kaget! Loh kenapa?

Dia cerita bahwa perubahan suaminya cuma bertahan sebentar saja. Celana jeans-nya saja sudah tidak pernah dipakai dan sifat pendiamnya balik lagi. Suaminya merasa tidak nyaman karena merasa itu bukan dirinya dan penuh pura-pura. Jadi dia balik lagi ke dirinya yang lama.

Karena memang sejak awal sudah tidak ada rasa suka, lalu melihat sikap suami yang begini malah membuat si istri jadi semakin jijik. Disentuh suaminya pun tidak mau. Kalau si suami ingin memeluknya, dia langsung kabur karena risih dan jijik. Bayangkan!

Menyedihkan memang. Saya kasihan sama suaminya, karena sebenernya dia tidak salah juga. Namun, realita memang tidak pandang bulu.

Kesalahan mereka cuma satu: main langsung nikah tanpa ada masa adaptasi kecocokan dan proses saling mengenal. Dengan kata lain, mereka nekat!

Proses saling mengenal itu maksudnya bukan saling tahu hobi, makanan atau film favorit, dan sebagainya. Itu sih bisa dilihat lewat profile Facebook aaja. Proses saling mengenal itu maksudnya saling tahu sifat jelek masing-masing, khususnya ketika sedang menghadapi konflik. Tentu saja proses itu hanya terjadi lewat pacaran.

Saat pacaran, Anda bisa tahu hal-hal di bawah ini:

  • Apa yang akan dia lakukan kalau lagi bertengkar, berbeda pendapat, prinsip, dan keinginan? Diam? Ngambek? Main pukul? Memaki?
  • Bagaimana cara dia menghadapi konflik?
  • Bisakah dia berdiskusi dengan baik-baik dan menyelesaikan masalah tanpa bikin masalah?
  • Apakah dia bertanggung jawab atas peran dia sebagai pasangan?
  • Apakah dia bisa memenuhi kebutuhan biologis dan emosional Anda?
  • Apakah dia punya prinsip dan filosofi hidup yang kompatibel dengan Anda? Tentang cinta, hubungan, masa depan, keluarga, dan sebagainya?

Itu adalah checklist yang panjang yang harus Anda penuhi sebelum menikah, dan masa mengerjakan checklist tersebut adalah masa PACARAN. Misalnya: sebelum menikah, Anda harus tahu dulu bagaimana sikap pasangan saat ada masalah. Kalau dia bisa duduk tenang mendengarkan pendapat Anda, berarti dia cukup aman dan dewasa untuk dinikahi. Namun, kalau dia langsung meledak penuh emosi dan kasar, itu sudah kode merah untuk segera ditinggalkan.

Baca juga:
Berapa Lama Emosi Dalam Hubungan?

Menikah tidak pakai pacaran itu seperti karyawan yang langsung diterima kerja padahal baru bertemu.  Bila langsung terima karyawan, habis itu baru minta CV, eh kemudian kaget ternyata CV-nya tidak qualified. Itu fatal kelirunya.

Memang ada banyak alasan untuk nekat menikah tanpa pacaran: ajaran agama, desakan ortu, faktor umur, kelamaan jomlo, dan sebagainya. Kalau selama ini Anda terus diserang alasan-alasan tersebut, sangat mungkin Anda bakal nekat juga seperti klien saya tadi.

Saran saya, Anda harus pacaran dulu dengan orang yang menurut Anda cocok jadi pendamping hidup. Berapa lama harus pacarannya? Tidak ada patokan. Bisa 3 bulan, 1 tahun, 3 tahun, 10 tahun. Tergantung checklist tadi, apa hal-hal penting dan positifnya sudah tercentang? Kalau sudah, silakan lanjut ke pernikahan.

Yuk, jadilah orang dewasa yang pakai logika saat menentukan pasangan hidup. Jangan asal menikah tanpa pikir panjang!

Share Your Thoughts