Pria Brengsek Seperti Dilan Cocok Dijadikan Pasangan?

dilan_1991-20190117-023-rita

Jadi ceritanya kemarin saya menonton Dilan 1991 karena penasaran seperti apa sih film yang (lagi-lagi) dibicarakan di mana-mana itu? Saya sudah menonton yang pertama dan cukup menikmatinya. Komedinya pas, dialognya pas, akting para aktornya yaaaa bisa dibilang lumayan. Iqbal Dhiafakhri Ramadhan memang cocok memerankan Dilan sehingga berhasil membuat remaja-remaja wanita menarik tangan pasangannya untuk menonton lagi dua kali.

Akhirnya pada jam 7 malam, saya menyempatkan diri ke XXI Taman Anggrek untuk menyaksikan bajingan puitis tersebut. Selama dua jam saya terpaku di depan layar bioskop dan saya mengambil kesimpulan, bahwa Dilan memang punya daya tarik yang membuat wanita mana pun klepek-klepek jatuh hati. Itu memang tidak bisa dibantah.

Baca juga:
Dilan Dan Fenomena Gombalisasi Masa Kini

Punya banyak anak buah, pimpinan geng motor, tidak punya rasa takut, tangguh, perhatian, puitis, dan rela membela orang-orang di sekitarnya. Wanita mana yang tidak tertarik?

Walau terlihat jantan, saya pikir Milea bakalan babak belur kalau di kedepannya menikah sama Dilan. Kita tahu sendiri kalau sifat-sifat jantan heroic di atas juga diikuti sifat-sifat Dilan lainnya seperti doyan berantem, suka bertindak tanpa pikir akibatnya, memakai segala cara untuk menang, bahkan sampai harus membawa pistol ayahnya. Jika Anda seorang wanita, Anda pasti berpikir lima juta kali kalau mau menikah dengan laki-laki seberingas itu.

Tapi meski bau darah, banyak wanita yang JUSTRU mengerumuni dan mendambakan laki-laki seperti itu. Dalam bidang studi psikologi, pria bajingan setidaknya memiliki kadar di lima kriteria kepribadian (Big Five Personality) berikut ini:

  • High openness to experience: terbuka pada tantangan, suka pengalaman baru
  • Low conscientiousness: santai, tidak mengikuti aturan, tidak teratur.
  • High extraversion: senang bergaul dan gampang bersosialiasi.
  • Low agreeableness: tidak mudah setuju dengan orang lain, lebih suka bersaing daripada bekerjasama.
  • Low neuroticism: sering mengalami emosi yang tidak menyenangkan, alias emosional.

Selain memiliki lima kriteria kepribadian tersebut, seorang bajingan juga memiliki kepribadian yang masuk ke dalam The Dark Triad:

  • Machiavellianism: suka manipulatif dan mengeksploitasi orang lain.
  • Narcissis: candu perhatian, ingin dipuja, dan berambisi punya status tinggi.
  • Psychopathy: egois, tindakannya bersifat spontan, dan senang tantangan.

Membaca skema-skema di atas saja sudah terbayang Dilan bukan?

Skema-skema tersebut yang membuat seorang pria terlihat LEBIH MENONJOL dan MENARIK dibandingkan pria lain yang hidupnya datar-datar saja. Mereka mencium aroma petualangan di sosok pria bajingan tersebut. Itu yang membuat si biang kerok di sekolah Anda lebih digandrungi wanita ketimbang ketua kelas yang ramah dan santun.

Selain itu, dalam diri wanita tersebut juga berkobar semangat ingin memenuhi apa yang tidak dimiliki pria bajingan itu. Mereka melihatnya sebagai pria yang kurang perhatian, kurang kasih sayang, tidak pernah didengarkan, dan terbuang. Mengutip Coach Lex dePraxis: “Wanita seringkali melihat pria yang terlihat keras dan kasar di luar itu sebenarnya punya hati yang persis berkebalikan.”

Baca juga:
Mengapa Wanita Sering Tertarik Pada Pria Yang Salah?

Hal ini yang membuat wanita berlomba-lomba ingin mengeluarkan sisi lembut si pria dengan cara menyuapinya dengan sesendok besar kasih sayang dan perhatian. Mereka yakin dengan memperlakukannya seperti itu, si pria akan langsung menyadari keindahan cinta dan akhirnya berubah menjadi sosok yang jauh lebih baik.

Sayangnya, itu keputusan yang keliru dan berbahaya!

Mengubah sifat seseorang yang sudah mampu mengambil keputusan sendiri itu sama sulitnya seperti mengubah batu jadi emas. Dia tidak mungkin langsung berubah kalau bukan atas kemauannya sendiri. Bukankah Dilan juga masih saja meneruskan hobi berkelahinya meski Milea sudah belasan kali melarang? Kalau saja Dilan MEMANG ingin tobat atas kemauannya sendiri, tentu Milea tidak perlu nangis berkali-kali “Aku gak mau kamu berkelahi. Aku gak suka!” dan akhirnya berujung pada (SPOILER).

Content continue below...

Jadi cocokkah pria bandel, preman, brengsek seperti Dilan dijadikan sebagai pasangan?

Yah tergantung dari apa ekspektasi Anda sih. Jika Anda berharap hubungan yang kooperatif, komunikatif, hangat, dan menyenangkan, sebaiknya hindari kaum Dilan. Namun jika Anda berharap menghabiskan seumur hidup sabar dan mengorbankan diri demi memperbaiki pasangan, cocok-lah Anda memilih kaum Dilan.

Boleh-boleh saja kalau Anda ingin mencari pasangan seperti Dilan yang emosian dan hobi pukul sana pukul sini, ASALKAN Anda tahu resikonya. Barangkali sekarang ia tidak memukul Anda karena sasaran tonjoknya masih bertebaran di luar. Tapi bagaimana kalau musuh-musuhnya semakin berkurang dan sifat emosiannya masih bercokol di kepala? Bisa-bisa Anda yang kena dan malam ini berstatus pasien rumah sakit.

(Ssssttt … kalau Anda ingin mencari pasangan seperti Dilan tapi minim sifat-sifat kasarnya, Anda bisa cari tahu caranya di buku Lovable Lady Formula. Bisa Anda beli di toko buku terdekat atau melalui LINK INI)

Kecanduannya akan kegiatan menantang atau berbahaya akan terus terbawa hingga usia tua. Ledakan emosi dan agresinya kini terarah pada orang lain, tapi nantinya akan diarahkan pada Anda dan anak-anak. Mungkin saja bertobat, namun perlu waktu yang panjang.

Biar hubungan tidak seperti di arena tinju, sebaiknya Anda berpasangan dengannya SETELAH ia bertobat dari segala kebrutalannya. Pastikan dirinya sudah ikut rehabilitasi khusus untuk orang-orang yang emosian, sudah mampu meredakan amarahnya sendiri tanpa harus mengepalkan tangan, dan tidak melakukan tindakan yang berbahaya.

Baca juga:
Selalu Ada Yang Lebih Baik

Perubahan itu pun harus dari kemauan dirinya sendiri dan BENAR-BENAR ia lakukan selama 3-5 tahun, kalau sudah melewati proses perubahan selama itu kemungkinan besar ia memang sudah berhasil mengontrol emosinya. Masa depan Anda pun terselamatkan.

Omong-omong soal filmnya, saya pribadi menganggap film kedua ini adalah penurunan dari film pertama. Entah mengapa dialog-dialognya kaku dan kental nuansa KBBI. Kota Bandung pun digambarkan sepi dan dihiasi embel-embel asap sehinggap saya tidak kaget kalau ada zombie yang menyelonong keluar. Tapi saya acungkan empat jempol untuk sinematografinya yang bergerak bebas mengikuti para tokoh sehingga terlihat lebih dramatis seperti film-film romantis luar negeri.

Oh iya, satu lagi. Walau film Dilan 1991 saya nilai biasa-biasa saja, tapi kok ada yang sampai berkelahi di bioskop ya? Apa film ini menggugah semangat perang anak muda?

Screenshot (36)

 

Share Your Thoughts