4 Alasan Ilmiah Kamu Gampang Ngarep, Baper dan Terjebak Hubungan Abusive

Alasan Ilmiah Kelas Cinta

Gebetan yang sering PHP dan bikin kamu baper selalu merusak hari-hari kamu. Kamu juga sudah tahu pasangan kamu abusive dan kapan saja kamu bisa disakiti olehnya. Meski begitu, kamu tetap tidak bisa berhenti mengejar mereka. Semakin sering kamu disuruh melawan dan move on, kamu malah makin berharap dan menggebu-gebu berkorban untuk si dia, padahal kamu tahu si dia tidak peduli padamu! Kenapa bisa begini? Apakah ada alasan ilmiah untuk menjelaskan sikapmu yang tidak masuk akal ini?

Alasan ilmiah yang bisa kamu dapatkan tidak hanya bisa dijelaskan dari sudut pandang psikologi saja, tetapi juga bisa dijelaskan dengan sudut pandang biokimia. Kenyataannya, otak manusia telah diprogram untuk terobsesi dengan orang-orang yang sudah jelas menyakiti kamu.

Hmm, kenapa bisa begitu, ya? Berikut ini adalah beberapa hormon dan senyawa dalam tubuh kamu yang menjadi alasan ilmiah kamu memilih mengejar gebetan dan orang-orang yang hanya menyakiti hati kamu.

1. Dopamine

aral-tasher-232636via Unsplash

Pengalaman-pengalaman asmara indah dan tak terlupakan yang kamu rasakan seperti kencan pertama, perhatian berlebih dari si dia, pujian dan rayuan, hadiah dari si dia, dan lain sebagainya dapat memproduksi dopamine dalam otak kamu. Dopamine terletak di titik syaraf yang mengontrol kebahagiaan kamu, sehingga kapan pun dopamine beraksi, kamu akan merasa bahagia secara berlebihan.

Sayangnya, dopamine bersifat adiktif dan tidak bisa diprediksi. Ibarat seorang penjudi yang selalu mengharapkan untung meskipun taruhannya selalu gagal, kamu akan terus bertahan dalam hubungan abusive dengan harapan pasangan kamu akan berubah, padahal kenyataannya jauh daripada itu.

Itulah sebabnya, ketika kamu tahu si dia orangnya tidak bisa ditebak dan susah untuk kamu dapatkan, kamu jadi makin terobsesi padanya. Ini juga yang menyebabkan sikap-sikap baik pasangan yang awalnya romantis berubah membosankan setelah dilakukan berulang-ulang, karena dopamine menolak untuk menerima tindakan rutin sebagai sesuatu yang menggairahkan.

2. Oxytocin

larm-rmah-248972via Unsplash

Keintiman fisik dapat menciptakan hormon oxytocin ini. Semakin sering kamu dapat sentuhan dari si dia, kadar oxytocin kamu akan bertambah juga, sehingga kamu makin susah memisahkan diri dari dia. Inilah hormon yang juga menciptakan ikatan batin antara ibu dan anak saat proses melahirkan dan juga yang membuat kamu merasa terikat dan nyambung dengan si dia yang kamu cintai.

Oxytocin tidak hanya menciptakan rasa intim, tetapi juga kepercayaan. Penelitian mengungkapkan bahwa ketika oxytocin turut terlibat, kamu tetap akan setia, percaya secara buta, dan cinta mati pada pasangan yang jelas-jelas menyakiti dan mengkhianati kamu.

Di sisi lain, perilaku pasangan abusive dan gebetan tidak responsif yang tarik-ulur serta tidak bisa ditebak memanipulasi otak kamu untuk menganggap dia lebih keren dan jauh lebih baik daripada kamu.

Content continue below...

3. Kortisol, Adrenalin, Norepinephrine

lydia-harper-212934via Unsplash

Pasangan abusive memicu kadar kortisol, adrenalin, dan norepinephrine dalam tubuhmu. Ketiganya menciptakan respons yang membuat kamu bereaksi seperti hewan yang sedang diburu predator, lari atau membeku di tempat. Ketika kamu menjalani hubungan abusive, kamu cenderung untuk bertahan dan terpaku dalam hubungan tersebut ketimbang mencoba untuk melawan atau melepaskan diri karena kamu telanjur merasa tidak berdaya.

Ketiga hormon stres ini mempertajam fokus kamu pada pasangan, karena kamu memiliki insting untuk lebih waspada akan apapun yang membuat kamu stres sebagai reaksi terhadap ancaman di hadapan kamu. Inilah yang membuat kamu menjadi nyaman sekaligus tidak nyaman dengan pasangan, sehingga kamu selalu beralasan terlalu mencintai pasangan sebagai justifikasi untuk bertahan dalam hubungan tersebut.

Menurut Christopher Bergland dalam Psychology Today, gabungan oxytocin, adrenalin, dan kortisol membuat kamu menciptakan memori yang berdasarkan ketakutan kamu. Jadi, gabungan antara takut ditinggalkan pasangan dan keintiman fisik dengannya, membuat memori kamu akan pasangan sangat amat sulit untuk dilupakan.

4. Serotonin

brooke-cagle-39376 (1)via Unsplash

Saat kamu jatuh cinta, kamu akan berubah menjadi orang obsesif layaknya orang yang memiliki gangguan Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kadar serotonin dalam otak manusia yang sedang jatuh cinta dapat disamakan dengan kadar serotonin dalam otak penderita OCD.

Berhubung serotonin bertugas untuk menyeimbangkan dan menstabilkan suasana hati kamu dan membatasi pikiran-pikiran obsesif, bisa dibayangkan seberapa rendah level serotonin yang kamu miliki saat kamu cinta mati dengan si dia.

Oh ya, serotonin yang rendah juga mendorong hasrat seksual dalam tubuhmu. Jadi, ketika serotonin digabungkan dengan dopamine dan oxytocin, kamu mengumpulkan seluruh memori dan khayalan indahmu tentang si dia, sehingga membuat kamu makin berharap berlebih padanya.

Inilah sebabnya, kamu selalu menganggap semua chat, telepon, hadiah, dan perilaku dia padamu sebagai sesuatu yang sangat spesial. Inilah juga yang membuat gebetan yang tukang PHP dan pasangan abusive sulit dilupakan olehmu. Jadi, selama ini otakmu menipu realita kehidupan cintamu!

Meski begitu, otak kamu tidak selamanya menciptakan reaksi negatif…

Karena otak memiliki kemampuan bernama neuroplastisitas yang berfungsi untuk menciptakan reaksi positif yang dihasilkan dari kegiatan produktif seperti berolahraga, membaur di lingkungan sosial yang positif, musik, hobi yang seru, minat, dan passion yang kamu miliki. Sekarang, karena kamu sudah tahu alasan ilmiah atas sikap baper kamu, kamu jadi bisa total move on dari si dia yang selalu PHP dan menyakiti kamu. Perbanyak terus kegiatan positif, ya!

Share Your Thoughts