Via Vallen dan Pelecehan Martabat Wanita di Indonesia

Screenshot (18)

Netizen Indonesia digonjang-ganjingkan oleh berita pelecehan seksual yang dialami Via Vallen. Seorang pria mengiriminya teks mesum dan Via Vallen tidak terima diperlakukan seperti itu. Ia akhirnya mengunggah teks tersebut ke akun media sosialnya. Dampaknya begitu besar sampai-sampai netizen terpecah jadi dua kubu. Ada yang mendukung Via Vallen karena berani bersuara, ada yang malah memberondonginya dengan hujatan bertubi-tubi karena dianggap cari sensasi.

Malah beberapa menganggap kalau pelecehan wanita sebagai hal yang biasa, seolah makanan sehari-hari. Kalau memang wanita sering mendapat gangguan seperti itu, mengapa banyak yang diam ketimbang bersuara dan melaporkannya ke pihak berwajib? Apa itu membuktikan masyarakat kita sudah menganggap pelecehan sebagai hal yang biasa? Apa negara yang kita pijak ini aman untuk wanita?

Coba kita meniliknya dari dua kisah yang cukup umum berikut ini.

Berhubung angka digital layar ponsel masih menunjukkan pukul 17.30, MRS memutuskan berjalan kaki dari kantor tempatnya bekerja sampai ke rumah,. “Ini masih terang kok, harusnya tidak sepi dan ada banyak orang di sepanjang jalan,” pikirnya dengan tenang.

Namun di tengah perjalanan, langit seolah berubah pikiran. Angin berhembus kencang dan awan mendung datang bergulung-gulung. Jumlah orang yang berkeliaran drastis menurun karena takut kehujanan. Walau sempat terpikir memesan ojek online, MRS mengurungkan niat karena gedung apartemennya sudah bisa terlihat di ujung jalan sana.

Sayup-sayup terdengar suara sepeda motor yang mendekat dari arah belakang dan beberapa detik kemudian MRS merasa seseorang meremas bokongnya kuat-kuat. Ia ingin menjerit, tapi kerongkongannya seperti tercekik. Kedua lututnya lemas tanpa sebab. Dia hanya berdiri terdiam kaku sambil memandangi pengendara sepeda motor yang meluncur pergi. Tidak ada seorangpun yang melihat kejadian tersebut.

Semenjak pengalaman itu, MRS sama sekali tidak berani jalan kaki sendirian. Dia merasa tidak aman bila melewati banyak tempat, apalagi bila terlihat gelap atau sepi. Dia selalu terbayang salah lewat saja dia akan bulan-bulanan monyet nakal. Entah sekedar diteriaki, roknya ditarik-tarik, atau bagian tubuhnya sampai diraba-raba. Dunia sepuluh kali lipat lebih berbahaya ketika ia sendirian di tempat umum.

Kejadian serupa dialami LGN. Jika MRS mengalami perlakuan buruk itu saat sepi, LGN justru dilecehkan ketika berada di tempat yang ramai: gerbong kereta.

Dia pertama kali merasa disentuh pada saat kereta berbelok. Punggungnya seperti terdorong oleh perut seorang pria yang berdiri di belakang. Awalnya ia tidak berpikir macam-macam, toh hari ini banyak penumpang jadi wajar bertabrakan dengan orang lain. Ketika kereta lurus, dorongan itu tidak terasa. Namun ketika berbelok, dia merasa tekanan lagi dan sedikit gesekan.

Selang beberapa menit kemudian, LGN memberanikan diri melirik ke belakang tapi dia tidak bisa memperkirakan siapa yang menekannya seperti itu. Dengan hati yang gusar panik, ia mencoba bertahan sampai tiba di tujuan. Baru saja menarik napas lega, tiba-tiba dia merasakannya tekanan lagi, kali ini jelas genggaman tangan orang. Kali ini LGN merasa terlalu takut untuk menoleh ataupun bersikap apa-apa. Ketika kereta tiba di tujuan, dia langsung berlari kencang menuju pintu keluar dan bersumpah tidak akan naik kendaraan publik lagi.

Kejadian menyeramkan itu terjadi di sekitar kita. Ada banyak wanita Indonesia yang mengalami hal hampir serupa atau malah lebih buruk. Yayasan Kita dan Buah Hati membeberkan ada 147 kasus pencabulan wanita dan anak-anak di Aceh pada tahun 2015 lalu. Di tahun yang sama, Jawa Timur mengekor dengan 116 kasus. Di sepanjang 2017, Komnas Perempuan mencatat ada 65 kasus kejahatan terhadap perempuan di dunia maya.

Itu baru yang ketahuan, bagaimana dengan yang tidak? Jumlah korbannya bisa berkali-kali lipat.

Angka-angka tersebut menunjukan ada banyak predator seksual yang merayap di mana-mana. Jumlahnya semakin meningkat karena banyak wanita yang memilih diam ketimbang bicara. Tidak ada perlawanan, maka tidak ada perubahan.

Ada banyak faktor yang memaksa korban pelecehan untuk diam:

Ancaman maut dari pelaku

Tidak jarang korban pelecehan diam saja karena merasa terancam ataupun merasa terpaksa melindungi pelakunya. Biasanya ini terjadi ketika pelakunya berasal dari orang terdekat, seperti: orangtua, sahabat, atau saudara. Karena hubungannya dekat, maka semakin mudah untuk ditakut-takuti. Ancamannya pun beraneka ragam; bisa dengan menyebarkan foto-foto tidak senonoh korban, membocorkan rahasia pribadi korban, bahkan pembunuhan.

Baca juga:
4 Tanda Pacar Anda Psycho
Menghindari Kekerasan Dalam Hubungan Percintaan

Idealnya, pihak berwajib bisa melindungi korban jika ada laporan. Namun sayangnya masih banyak kelalaian dalam proses penanganan pelanggaran ini. Forum Lembaga Pengada Layanan (FPL) mengatakan bahwa 50% kasus pelecehan seksual yang ditindaklanjuti, sementara 40% lainnya berhenti di tengah jalan. Ini membuat banyak korban merasa enggan dan percuma melaporkan kejadiannya.

Karena merasa terpojok, korban diam saja dan membiarkan pelecehan itu berlanjut.

Malu dan Takut Dirinya Yang Malah Disalahkan

“Makanya pakai baju yang serba tertutup dong biar gak dilecehkan,” ujar Netizen A.

“Salah sendiri jalan sambil lenggak-lenggok gitu, wajar aja digrepe-grepe,” sahut Netizen B.

“Gak usah dandan cantik kalau mau jalan, malah bikin nafsu orang!” teriak Netizen C.

… dan seterusnya.

Masyarakat Indonesia yang terkenal santun ini gemar sekali menyalahkan korban kejahatan. Tidak peduli apa pun tindak kejahatannya, pasti ada saja tuyul-tuyul yang nyeleneh ataupun menyalahkan korban. Misal: ketika rumah orang kaya kemalingan, kita akan dengar komentar seperti, “Ya salahnya sendiri uang sebanyak itu kok disimpan di rumah.” Atau, ada teman yang kehilangan helm motor dan seorang sahabatnya menyeletuk, “Makanya punya helm itu yang jelek aja. Punya helm bagus malah rawan dicuri.”

Hal yang sama juga berlaku bagi korban pelecehan seksual. Azriana—Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan—mengatakan kalau masyarakat Indonesia cenderung berpikir bahwa wanita adalah pihak yang bertanggung jawab atas pelecehan seksual yang mereka alami. Wanita berpakaian serba terbuka dianggap memancing libido predator seksual, jadi jangan salahkan pria untuk menggerayangi mereka.

Masyarakat malah mendesak wanita untuk memakai pakaian serba tertutup untuk mengurangi pelecehan seksual. Padahal, wanita yang berpakaian paling tertututp pun masih beresiko dilecehkan. Ini bukan tentang bagaimana cara wanita berpakaian, melainkan bagaimana SEHARUSNYA laki-laki bisa menjaga pandangan dan menghormati wanita.

Baca juga:
9 Cara Menjadi Wanita Seksi Tanpa Validasi Pria
Mitos Cantik Yang Keliru Bagi Wanita

Tidak percaya kalau pakaian super tertutup masih beresiko? Coba nonton video ini baik-baik:

Takut Dicap Rendah Masyarakat

Seandainya pelecehan itu dilaporkan dan pelakunya dihukum, apa masalah selesai di situ? Jawabannya jelas tidak.

Korban pelecehan butuh waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk menyembuhkan luka psikisnya. Beberapa ada yang survive menjalani hidup normal, tapi ada juga yang terjerembab depresi seumur hidup, dan malah sampai bunuh diri.

Content continue below...

Untuk mempercepat penyembuhan, korban harus berada di lingkungan yang supportif. Mau bagaimanapun, ia membutuhkan dukungan moral dari keluarga maupun kerabat. Sebagian besar masyarakat kita belum paham (atau malas paham) tentang keadaan korban. Bukannya menguatkan, mereka justru memandang korban seperti vas bunga pecah. Seolah harganya sudah hilang, dirusak oleh kejadian yang menimpanya.

Ketiga faktor di atas adalah MOMOK UTAMA yang menghilangkan suara para korban. Pirbadi seperti MRS dan LNG seringkali mengambil opsi diam dan hanya menceritakannya ke orang-orang tertentu saja. Via Vallen mengambil rute yang berbeda dengan berbicara ke publik.

Meski beberapa orang merasa kalau pelecehan seksual sebagai hal sepele. Godaan yang tidak pada tempatnya dan siul-siul di pinggir jalan dianggap sama seperti keisengan yang lumrah. Jika Anda seorang wanita dan pernah mengalami pelecehan, beranikan diri Anda melaporkannya ke pihak berwajib meski ada resiko terhenti di tengah jalan.

Baca juga:
Kekuatan Wanita Yang Sesungguhnya

Semakin banyak laporan yang diterima, semakin kuat sebuah kasus dan semakin besar desakan pihak berwajib untuk menyelesaikan proses penyelidikan. Kalau masih ragu-ragu, Anda juga bisa menghubungi lembaga-lembaga yang siap menolong:

  1. Koalisi Perempuan Indonesia

Website: http://www.koalisiperempuan.or.id/

Email: sekretariat@koalisiperempuan.or.id

Nomor telepon: 021-7918-3221 atau 021-7918-3444

  1. Komnas Perempuan

Website: https://www.komnasperempuan.go.id/

Email: mail@komnasperempuan.go.id

Nomor telepon: 021-3903963

Twitter: @KomnasPerempuan

Facebook: Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan

  1. Hollaback Jakarta

Email: holla@hollaback.org

Twitter: @ihollaback

Facebook: fb.com/Hollaback!

Instagram: @ihollagram

  1. Yayasan Lentera Sintas Indonesia

Twitter: @LenteraID

Facebook: fb.com/Lentera ID

Instagram: @lentera_id

  1. Lembaga Bantuan Hukum Apik

Telepon: 021-87797289

Twitter: @LBHAPIK

Email: apiknet@centrin.net.id

REFERENSI

[1] Inilah Provinsi Paling Rawan Pelecehan Seksual

[2] Hari Perempuan Internasional 2018: Inses, Kekerasan Dunia Maya, dan Pembunuhan Perempuan

[3] “Jangan Salahkan Perempuan Korban Pelecehan Seksual”

[4] Proses Hukum Pelecehan Siswa SMP Berujung Bunuh Diri Tak Akan Berhenti

[5] Pelecehan Seksual Dalam Hukum Kita

Share Your Thoughts