Bongkar Habis Pola Cemburu!

Home Articles Bongkar Habis Pola Cemburu!

Banyak yang bilang cemburu adalah tanda bukti cinta. Katanya semakin besar rasa cintanya, semakin besar juga efek cemburunya. Tapi apa benar begitu? Sebelum membongkar pola cemburu, coba kita lihat yuk berbagai definisi cemburu menurut sejumlah referensi yang mudah saya temui:

  • English Wikipedia → Jealousy: pikiran negatif, rasa takut, dan kecemasan akan kehilangan sesuatu
  • Dictionary(dot)com → Cemburu: ketakutan/kecurigaan akan adanya ancaman, persaingan, ketidaksetiaan.
  • Kamus Besar Bahasa Indonesia → Cemburu: keirihatian, kesirikan, kecurigaan, kekurangpercayaan.
  • Kamus Sinonim Indonesia →  Cemburu: berprasangka, sirik, panas hati.
  • Kamus Mandarin →  Cemburu: chī cù yang terjemahan langsungnya adalah ‘meminum air cuka’.
  • Kamus Melayu →  Cemburu: iri hati, curiga, berjaga-jaga

Apa Anda melihat definisi yang positif, indah, dan penuh cinta dari kata cemburu? Tidak ada ‘kan? Nah kalau definisinya saja negatif, kok masih bisa-bisanya Anda merasa cemburu adalah tanda cinta yang positif?

Terus banyak juga yang bertanya ke saya: “Lex, gimana caranya cemburu yang sehat?” dan saya selalu jawab, “Tidak ada namanya cemburu yang sehat. Cemburu itu sakit!” Bertanya bagaimana cara cemburu yang sehat itu sama seperti bertanya bagaimana cara menyakiti diri yang sehat. Itu sangat keliru!

Sebegitu negatifnya cemburu, efeknya tidak cuma merusak hubungan dan bahkan bisa menyakiti Anda. Saya tidak perlu membeberkan berita orang-orang yang disakiti karena pasangannya cemburu, Anda tentu sudah membaca atau mendengarnya sendiri di internet. Jadi demi masa depan hubungan cinta dan nyawa Anda, tolong buang jauh persepsi bahwa cemburu adalah tanda cinta!

Sebenarnya apa sih akar dari cemburu? Dari definisi kamus di atas saja Anda bisa menarik garis besar bahwa akar dari cemburu adalah rasa takut, bukan cinta. Takut kehilangan pasangan yang sudah Anda investasikan energi, waktu, biaya, dan sebagainya ke dia. Dengan kata lain, cemburu adalah takut merugi karena kehilangan semua nilai dan investasi yang pernah Anda keluarkan. Itu termasuk biaya yang keluar selama Anda pacaran, waktu yang Anda habiskan bersamanya, energi dan emosi yang Anda kuras saat menyelesaikan masalah dengannya, dan lainnya.

Baca juga:
Berapa Lama Emosi Dalam Hubungan?

“Terus bagaimana biar gak takut kehilangan?” tanya Anda. Sebenarnya Anda tidak mungkin menghilangkan rasa takut karena itu mekanisme pertahanan yang sudah terprogram dan teraktifkan otomatis di biologi DNA kita. Satu-satunya yang bisa Anda lakukan adalah meminimalisir rasa takut agar tidak menyusahkan Anda dan pasangan. Caranya Anda harus memahami alasan rasa takut itu muncul.

Wanita cenderung lebih mudah terpicu merasa takut karena “biaya reproduksi” lebih mahal di wanita daripada di pria. Saat hamil, kondisi wanita “agak lemah” sehingga keberadaan pasangan untuk membantu dan melindungi selama masa kehamilan adalah aset yang sangat bernilai.

Itu sebabnya wanita secara genetik terprogram untuk “mudah takut” dan peka membaca situasi yang bisa merebut pasangannya. Karena kalau pasangannya pergi atau direbut, si wanita harus kerja ekstra keras selama 9 bulan hamil dan 5 tahun lebih  merawat bayi sendirian. Zaman sekarang itu mungkin tidak terlalu berat, tapi selama ribuan tahun yang lalu itu adalah periode yang berat dan berbahaya.

Jadi rasa takut prehistorik itulah yang secara evolusi terus terprogram dalam sistem DNA kita hingga saat ini. Pada masa-masa itu, seorang wanita yang kehilangan pasangan bisa terancam banyak bahaya, tersiksa, bahkan mati. Rasa takut itu masih terbawa ke zaman sekarang meskipun keadaannya tidak seberbahaya dulu.

Kaum pria juga secara evolusi terprogram rasa takut yang sama, tapi alasannya agak beda yaitu status sosial. Jika wanita takut kehilangan pasangan karena terancam bahaya, sakit, dan mati, maka pria takut kalah, dianggap lemah, dan tidak mampu menjaga pasangan oleh tatanan masyarakatnya. Jadi pria juga takut pasangannya pergi dan direbut pria lain karena itu membuatnya kehilangan prestise tertentu.

Takut sakit dan bahaya maupun takut kalah dan dicap jelek, secara singkat bisa dikategorikan sebagai takut merugi atau dirugikan. Takut merugi dan dirugikan itulah yang terus Anda alami hingga sekarang ini dan dikenal dengan istilah cemburu.

Seperti yang selalu saya ingatkan ke pembaca Kelas Cinta bahwa hubungan cinta adalah sistem transaksi sosial untuk kebutuhan reproduksi. Nah, cemburu adalah reaksi takut yang muncul karena adanya persepsi ancaman terhadap sistem transaksi yang sedang berjalan. Persepsi ancaman itu bisa hasil input fakta dan realita, bisa juga hasil kreatifitas imajinasi Anda saja. Sialnya adalah: ada atau tidak adanya input, Anda tetap TERPROGRAM untuk sesekali takut dan cemas akan transaksi tersebut!

Artinya, sekalipun tidak ada alasan takut, otak Anda bisa proaktif membuat-buat sendiri imajinasi yang menakutkan. Demi merasa sedang menjaga hubungan, otak Anda jadi proaktif menyambungkan trauma, kisah, dan kejadian yang menakutkan. Misalnya: ketika pasangan sedang chatting-an dengan orang lain, Anda langsung menyambungkannya ke kisah teman-teman yang selingkuh lewat chatting. Hasilnya Anda menduga bahwa pasangan sedang selingkuh, padahal aslinya mereka chatting-an dalam konteks membahas pekerjaan atau hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan aktivitas selingkuh. 

Sampai di sini Anda sudah semakin mengerti ‘kan tentang akar cemburu, proses kerja, dan keribetannya?

Coba jawab ini: jika merasa takut, reaksi alamiah apa yang akan dilakukan manusia di seluruh dunia?

Dalam kondisi bahaya, otak dan tubuh Anda secara otomatis masuk kondisi FIGHT atau FLIGHT. Ini sudah tertanam jauh-jauh sejak nenek moyang kita masih berburu mammoth buat makan malam. Di konteks hubungan cinta, sebuah hubungan dianggap sangat bernilai sehingga jarang sekali orang yang cemburu langsung memutuskan pasangannya. Memang ada saja sih yang cemburu sedikit langsung mengajak putus, tapi normalnya pencemburu biasanya langsung masuk ke kondisi FIGHT.

Nah saat kondisi FIGHT itu, seluruh energi tubuh difokuskan untuk membaca situasi dan menutup/melindungi diri. Inilah fase pertama cemburu, yaitu Menutup Diri. Kebanyakan orang saat cemburu jadinya diam memendam saja.

Baca juga:
Komunikasi Bukan Kunci Hubungan Harmonis

Anda bisa tahu pasangan lagi cemburu ketika dia berubah jadi kaku dingin dan bilang, “Gak apa-apa…” ketika Anda baru saja berinteraksi dengan lawan jenis. Semakin Anda tanya, semakin dia menjauh/memendam/menutup diri. Tapi kalau Anda tidak tanya, dia akan berusaha menujukkan kekesalannya. Karena saat otak dalam kondisi FIGHT, pencemburu sulit diajak santai, bercanda, atau menikmati kenikmatan apa pun.

Apa yang dilakukan orang tersebut saat menutup diri? Mengamati, menilai, mengumpulkan data… pokoknya sangat waspada. Ini bisa berarti stalking/investigasi kegiatan pasangan atau mencari hal-hal yang bisa meneguhkan ketakutannya. Jika ditemukan data yang memperkuat kecurigaan, cemburu itu meningkat dari fase Menutup Diri jadi fase Menutup Aset.

Di fase kedua itulah si pencemburu mempresentasikan dan mengonfrontasikan data investigasinya pada pasangan. Atas dasar data investigasi itu, si pencemburu minta atau menuntut Anda untuk membatasi kegiatan yang mencurigakan. Bisa dibilang jika di fase pertama si pencemburu banyak diam, maka di fase kedua dia banyak ajak dialog yang serba menyudutkan.

Baca juga:
Melepaskan Diri dari Hubungan Toxic dengan Vampir Energi

Dia akan rajin bertanya ini-itu, minta kejelasan ini-itu, berulang kali menyambungkan ini-itu, melarang ini-itu. Anda wajib laporan, cek isi pesan, video calling, unfriend dan unfollow mantan dan lawan jenis yang dianggapnya ancaman, tidak boleh reply, dan sebagainya. Sialnya, sekalipun sudah sampai tahap kedua, itu bukan berarti si pencemburu akan berhenti cemburu. Selama dia beramsusi bahwa ada orang-orang yang membahayakan hubungannya, maka dia akan terus berusaha mengontrol Anda entah sampai kapan. 

Sekarang Anda paham ‘kan, itulah dua fase pola cemburu yang paling sering dan tipikal terjadi di hubungan cinta: Menutup Diri, lalu Menutup Aset.

Masalahnya tidak berhenti sampai di situ karena emosi yang diolah adalah emosi yang terus berbuah. Jadi jika rasa cemburu itu dipendam lalu ditindaklanjuti, jelas rasanya akan terus semakin meningkat.

Artinya sekalipun Anda dilarang ini-itu oleh si pasangan yang cemburu, dia justru merasa semakin cemburu. Ibaratnya bola salju, sekali sudah bergulir turun lereng dia akan terus menggulung semakin besar dan besar. Hingga akhirnya akan ada satu titik dia berani bersikap destruktif terhadap apa pun yang dianggap membahayakan hubungan.

Pada titik tersebut, cemburu sudah masuk ke fase terakhir sekaligus paling berbahaya yaitu Menyerang Ancaman.

Seperti apa tingkah lakunya? Meneror teman lawan jenis Anda, menghina sahabat Anda, dan memaki-maki mantan Anda. Tindakannya bisa berupa mengambil alih kendali media sosial dan handphone Anda, membuat status palsu yang menunjukan cinta Anda ke dia, dan sebagainya. Si pencemburu seolah menggila sampai bersedia bertindak apa pun yang bisa menghapus dan mengeliminasi pihak ancaman.

Inilah tiga fase lengkap dari pola cemburu dalam hubungan cinta: Menutup Diri, Menutup Aset, dan Menyerang Ancaman. Di Kelas Cinta, ketiga fase itu dikenal dengan DEFENSIVE, PROTECTIVE, dan OFFENSIVE. Tidak ada satupun fase yang sehat, itu artinya tidak ada cemburu yang sehat. Cemburu pasti dan selalu merusak!

Cemburu tidak bikin Anda lebih sayang dan cinta; justru menyabotase, melemahkan, mengerdilkan kemampuan Anda mencintai. Cemburu bersumber dari rasa takut, dan sesungguhnya rasa takut adalah PEMBUNUH NOMOR 1 untuk hubungan cinta.

Nah sekarang Anda sudah sangat teredukasi tentang pola cemburu, pertanyaan saya: apa Anda masih mau terus memelihara cemburu?

Kalau Anda tidak mau memelihara cemburu, bagaimana dengan pasangan Anda? Segera tunjukkan dia artikel tentang pola cemburu ini biar dia tersadarkan bahwa cemburu itu salah!

Kalau Anda dan pasangan sepakat tidak mau memelihara cemburu, bagaimana sahabat-sahabat Anda? Suruh mereka baca dan bagi artikel pola cemburu ini!

Jika Anda sudah terlanjur memiliki pasangan yang tukang cemburu sehingga hubungan selalu diwarnai konflik, maka Anda bisa belajar bagaimana mengatasi konflik hubungan di Smart Conflict Resolution; online course berisi langkah-langkah menyelesaikan setiap masalah hubungan dengan lebih efisien dan meminimalisir resiko yang mungkin terjadi. 

Anda bisa mendapatkan materinya lewat LINK di bawah:

SMART CONFLICT RESOLUTION

Sekian pembahasan tentang pola cemburu, saya yakin pasti memberi banyak manfaat untuk hubungan cinta Anda sekarang dan masa depan!