Membangun Keluarga Bukan Hanya Soal Beranak

parents-arguing

Pernah menghampiri rak FAMILY atau KELUARGA di toko buku favorit Anda? Kemungkinan besar Anda akan disuguhi sederetan judul literatur yang (repetitif) membahas satu topik spesifik: kehamilan, kelahiran, dan mengasuh bayi. Memang tidak selalu begitu, tapi setidaknya itu pengalaman saya saat berkeliling di 3 buah toko buku internasional dan 2 buah toko buku lokal.

Itu juga terjadi saat saya datang ke festival buku diskon beberapa waktu lalu. Saya bergidik merinding melihat kata KELUARGA yang begitu diasosiasikan (dan didominasi!) dengan seluk-beluk beranak..

Berkeluarga Bukan Soal Beranak

Merawat anak seolah-olah merupakan satu-satunya kualifikasi yang perlu dipelajari dan dikuasai oleh sepasang manusia. Sebagai seorang relationship coach yang HAMPIR SETIAP HARI melayani klien kesulitan dan bermasalah karena tercemar POLA HUBUNGAN orangtuanya, saya merasa ngilu dan miris semiris-mirisnya.

Perhatikan, saya menyebut frase ‘pola hubungan orangtua’ dan bukan pola asuh anak. Bukan pola gizi dan asupan anak. Bukan pola interaksi orangtua dengan anak. Bukan pola edukasi anak. Bukan pola pergaulan anak. Bukan itu semua. Saya spesifik menyebut pola hubungan orangtuanya, alias ‘pola papa dan mamanya’ berinteraksi sebagai suami dan istri.

keluarga

Via Gov.uk

Pola interaksi yang saya maksud adalah:

  • pola komunikasi verbal dan nonverbal antar suami istri,
  • pola demonstrasi keintiman dan afeksi antar suami-istri,
  • pola diskusi dan resolusi konflik antar suami-istri,
  • pola distribusi peran dan tanggung jawab antar suami-istri,
  • pola negosiasi dan pengambilan keputusan antar suami-istri,
  • pola manajemen agresi dan emosi antar suami-istri,
  • pola komitmen dan disiplin kerjasama antar suami istri,
  • pola penyampaian kritik dan arahan antar suami-istri,
  • dan masih banyak pola-pola interaksi ANTAR suami-istri lainnya..

Hal-hal di atas SERINGKALI TIDAK DIPEDULIKAN oleh banyak orang yang mengaku-ngaku orangtua, dan anak mereka jadi korbannya. Bukannya mengurus relasi, kebanyakan orang malah jadi overparenting. [1]

Memastikan kesehatan ibu dan janin serta memelihara pertumbuhan bayi memang penting sekali, tapi memelihara kesehatan hubungan suami-istri juga sama krusialnya. Percuma anaknya tumbuh sehat hingga dewasa, tapi hampir separuh usia hidupnya dicuci otak melihat pola-pola dinamika hubungan yang ANEH, BERANTAKAN, BURUK, ataupun BUSUK dari orangtuanya.

keluarga

Via Transforminglives.org

Jika Anda merasa anak adalah hal terpenting dalam hidup dan menjadi orangtua adalah tanggung jawab yang luar biasa besarnya, maka seharusnya Anda menghabiskan banyak uang, waktu, dan tenaga untuk memastikan HUBUNGAN ANDA DAN PASANGAN berjalan sesehat dan seharmonis mungkin. [2]

Tolong sadari bahwa untuk setiap SATU keputusan dan perilaku dungu yang kalian lakukan sebagai suami-istri, berarti kalian sedang menambah SATU derajat kesulitan pada masa depan anak dan keluarga.

Apa pun gaya parenting yang Anda pelajari dan tampilkan, itu bisa hampa sia-sia jika anak menyaksikan gaya relasi cinta yang bermasalah antar orangtuanya. Cara Anda membina hubungan (ITU BERARTI DIMULAI DARI SEJAK PENDEKATAN, PACARAN, HINGGA SEPANJANG PERNIKAHAN!) akan membentuk kecenderungan cara anak membina hubungan dengan manusia lain.

Keharmonisan hubungan tergantung dari seberapa baik Anda mengelola relasinya, apa pun status relasinya tidak terlalu berpengaruh. Walau ada banyak konteks dan masanya (pendekatan, pacaran, pertunangan, pernikahan, ataupun perceraian), masalah hubungan selalu sama itu-itu saja kok.

Isu relasi yang dihadapi suami-istri SAMA PERSIS dihadapi semua orang dalam berbagai bentuk status hubungan lainnya. Saya tidak peduli status hubungannya, yang saya pedulikan adalah bagaimana orang bisa menjalani relasinya sebaik, sesehat, dan seharmonis mungkin.

Atas premis itulah, menurut saya mengelola (hubungan) pernikahan membutuhkan energi dan konsentrasi yang RATUSAN KALI LEBIH BESAR dibanding momen mengelola kelahiran bayi dan mengelola pertumbuhan anak. Mirisnya, itu tidak tergambarkan dalam obrolan masyarakat sehari-hari maupun pada tampilan rak di toko buku. Sulit sekali bagi saya untuk tidak menyeringai setiap melihat rak KELUARGA yang digagahi oleh isu-isu keberanakan.

Don’t get me wrong, I do understand child birthing/rearing is a tedious and difficult process, worthy of learning. But it is just a small clog in a much bigger and (more) delicate process of having a functional family/relationship. It’s missing the forest for the trees kinda situation.

Saya sepenuhnya sadar, bukannya tidak ada literatur tentang manajemen hubungan. Ada segudang judul juga kok, cuma biasanya mereka diletakkan di rak ‘PENGEMBANGAN DIRI’ atau tersebar di rak lain. Tanpa disadari, kita diprogram untuk memproses kata KELUARGA dengan mindset (BER)ANAK. Itu sangat membodohi, menyesatkan, dan berbahaya sesuai poin-poin yang saya tuliskan di atas.

Setelah berkeluarga, apakah Anda rajin mengelola RELASI CINTA-nya (baca: hubungan dengan pasangan) atau hanya sibuk mengurus BUAH CINTA-nya (baca: anak)? Harusnya Anda urus kebutuhan pertama itu dulu, barulah kemudian mengurus kebutuhan kedua [3].

Berkeluarga Bukan Soal Beranak

Menurut pengamatan saya, married couples di Indonesia lebih banyak berfokus pada yang kedua, sehingga yang pertama jadi belatungan bermasalah. Silakan saja lihat ke toko buku favorit Anda ataupun acara seminar rumah tangga. Minat terhadap isu-isu belajar parenting jauh lebih membahana dibanding belajar manajemen hubungan.

Bahkan tidak sedikit orang yang dungu mempertahankan pernikahan buruk/busuk demi kesejahteraan anak. Mereka pikir, “Gak apa-apa aku gak hepi. Aku bisa tahan dan tutup-tutupi kok. Anda tidak mengerti, Lex … inilah bentuk pengorbanan termulia: demi kebahagiaan anak.”

Ah, itu ucapan yang keliru. Justru sebaliknya … MEREKA-lah yang tidak mengerti.

Saya melihat dengan mata kepala sendiri—baik dalam pengalaman dalam pergaulan maupun dalam sesi konsultasi—bagaimana anak hampir selalu jadi korban para orangtua yang dungu dan dangkal menjalani relasi cinta..

Mungkin Anda bertanya, “Dungu dan dangkal maksudnya bagaimana, Lex?”

Saya jelaskan satu per satu ya ….

Content continue below...

Pertama, DUNGU dalam arti mereka tidak mampu mengelola masalah keluarga dengan baik dan benar.

Banyak married couples berpikir jika emosi sudah reda, salah satu pihak mengalah, atau tercetus kata maaf, maka masalah itu selesai. Padahal, itu jauh dari selesai. Ia akan kembali muncul dan terus menggigit di sepanjang pernikahan!

Menurut studi, masalah di awal pernikahan selalu memprediksikan tipe masalah-masalah yang terus muncul dalam 5 tahun berikutnya. Bila tidak dikelola dengan baik, masalah itu akan menjadi properti konstan dalam pernikahan yang meracuni relasi suami-istri serta performa pola asuh anak nantinya.

Parents who are maritally distressed appear to lack tolerance for dealing with the day-to-day challenges that children bring to family life. This frustration gets expressed through frequent nattering over children’s behavior and regular complaints by parents related to everyday matters.” [4]

Marital conflict is associated with various child adjustment problems, including internalizing and externalizing problems and impairments in social and academic functioning.” [5]

Kapan pun Anda dan pasangan mengalami konflik (dan PAYAH mengelolanya), maka cepat atau lambat anak akan mencicipi efeknya. Jika anak melihat orangtua sehari-hari bergelayutan dari satu masalah ke masalah lain, dia akan mengambil kesimpulan bahwa relasi cinta yang bergelimpangan masalah itu normal. Akibatnya anak akan mendambakan pasangan yang serba bermasalah juga.

Ngeri?

Jangan dulu, itu baru soal dungu.

Kedua, DANGKAL dalam arti Anda tanpa sadar memperlakukan pasangan bagai kurir yang mengantarkan candu bahagia dan bukan sebagai rekan kerja yang sepadan. Semakin bertambahnya usia hubungan, maka Anda semakin kecewa karena banyak ekspektasi yang tidak terpenuhi. Akhirnya pasangan jadi kelelahan, sehingga menambah jumlah konflik dan tekanan dalam relasi.

Harap ingat: kesejahteraan hubungan memang tanggung jawab bersama, namun, kebahagiaan Anda adalah sepenuhnya tanggung jawab Anda dan bukan tanggung jawab pasangan. Tidak ada yang lebih childish dangkal daripada menagih dibahagiakan orang lain!

In an addictive relationship there is responsibility conversion, which means that the addicted person holds the partner responsible for their emotional states, at the same time assuming full responsibility for the partner’s thoughts, feelings and reactions.” [6]

Modern-day couples load too many expectations onto the institution of marriage—that it will meet their needs for intimacy, autonomy and friendship, to name just a few. The trick, then, is to demand enough of the marriage but not too much, after the honeymoon glow has faded.” [7]

Seiring waktu, anak tumbuh menjadi pribadi yang serupa: menggantungkan diri pada orang lain dan berekspektasi yang aneh/absurd tentang pernikahan.

Itu semua baru efek-efek kecil yang terjadi ketika suami-istri lebih berfokus pada BUAH CINTA dibanding pada RELASI CINTA.

Dear parents, itukah yang Anda inginkan?

keluarga

Berapa banyak dari 8 items dalam gambar introspeksi ini terjadi dalam pernikahan Anda? Mau sampai kapan Anda biarkan terus-menerus begitu? Apakah Anda memang berhasrat menciptakan anak-anak dungu dan dangkal yang sama bermasalahnya seperti kalian berdua?

Selamat merenung dan menyadarkan diri sendiri, dear (future) parents.

Salam revolusi cinta.

Share Your Thoughts