Perkara Membanding-bandingkan Pasangan Dengan Mantan

jessica-felicio-576037-unsplash

Apa Anda pernah dibanding-bandingkan dengan orang lain?

Bagaimana rasanya? Sakit atau menyelekit?

Saya rasa tidak ada yang suka dibanding-bandingkan. Apalagi kalau dibanding-bandingkan dengan orang yang keuangannya lebih bagus, badannya lebih proposional, wajahnya lebih simetris, atau masa depannya lebih cerah dari Anda. Semakin sering dibandingkan, emosi Anda semakin meletup-letup “Saya sama dia kan latar belakangnya beda, jangan dibandingkan gitu woy!”

Meski tidak ada yang suka, sadarkah Anda kalau Anda pun sering membandingkan orang terdekat dengan orang lain; termasuk membandingkan pasangan?

Nah, sebelum lanjut membaca, coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali Anda membandingkannya dengan orang lain?

Sebulan yang lalu? Seminggu yang lalu? Kemarin? Atau baru saja?

Tahukah Anda kalau sebagian besar perbandingan itu muncul karena Anda terlanjur nyaman dengan perlakuan mantan di masa lalu, sedangkan pasangan yang sekarang tidak/belum mampu memberikan Anda perlakuan yang sama?

Misalnya nih, dulu mantan Anda rajin mengantar jemput Anda pakai mobil, mentraktir Anda ke restoran mewah, mengirimi Anda uang saku, dan ribuan perlakuan spesial lainnya. Namun, Anda tidak mendapat perlakuan seperti itu dari pasangan sekarang. Boro-boro mentraktir Anda ke restoran mewah, mengantar jemput saja masih pakai sepeda motor kreditan.

Perlakuan-perlakuan yang serba kurang itu akhirnya membuat Anda mengingat-ingat masa lalu dan mulai membandingkan pasangan dengan mantan. Di titik ini, tidak masalah kalau cuma membandingkannya dalam pikiran, tapi jadi banjir masalah kalau Anda sampai membicarakannya ke pasangan. Harapannya, dengan membanding-bandingkannya dengan mantan, maka ia akan memperlakukan Anda sama persis seperti perlakuan mantan. Dan Anda pun mendapat kenyamanan dan kemewahan itu lagi.

Itu kan yang Anda mau?

Sayangnya, hasil yang Anda dapat NOL BESAR.

Bukan kenyamanan yang Anda dapat, tapi seonggok luka dalam hubungan. Pasangan Anda JELAS tidak mau dibandingkan dengan mantan karena mereka adalah dua orang yang berbeda; baik dari fisik, masa lalu, sifat, maupun latar belakang keuangan. Ketika dia menolak berubah, Anda semakin MENEKANNYA dengan cara mengumbar kelebihan-kelebihan mantan lebih banyak lagi. Dia ngotot tidak mau berubah, Anda pun ngotot ingin dia berubah. Mantab sudah.

Kalau gesekan-gesekan konfliknya sudah banyak, Anda bisa tebak sendiri akhir hubungannya seperti apa.

Baca juga:
Penyakit Sepele Yang Merusak Hubungan

Ketika seseorang dibandingkan, maka ada harga diri yang dipertaruhkan di sana. Pasangan akan merasa selama ini dirinya selalu di bawah mantan Anda, sehingga apa pun yang dia lakukan tidak akan membuat Anda puas. Dengan kata lain, Anda sama saja merendahkan harga diri pasangan dengan cara menaikkan nilai-nilai yang dimiliki mantan.

Kesel? Pastinya.

Jadi jauhkan mulut Anda dari kata-kata seperti: “Mantanku dulu suka menjemputku sepulang kerja”, “Kok kamu gak seperti mantanku yang selalu ngasih aku hadiah?”, “Beb, masa temanku dibelikan tas mahal sama pacarnya, kok kamu nggak?”  atau yang lebih parah “Bukannya mau bandingkan sih, tapi mantanku jauh lebih perhatian daripada kamu.”

Coba saja ucapkan kata-kata tersebut di depan pasangan dan saya jamin Anda bentrok saat itu juga.

Berharap pasangan melakukan apa yang Anda suka itu wajar, tapi jangan disampaikan lewat perbandingan. Sampaikan lewat komunikasi yang santai, misalnya: “Beb, aku suka deh waktu kamu jemput aku pulang kerja. Aku mau dong dijemput tiap hari”, “Ulang tahun nanti aku mau hadiah ini dong Sayang. Semampu kamu aja,” dan sebagainya. Cara begitu jauh lebih baik daripada lewat sindiran perbandingan!

Perbandingan SELALU menyakitkan, mau bagaimanapun cara Anda menyampaikannya. Anda harus hindari itu sebelum terlambat.

Content continue below...

Pasangan Anda ingin membuat kisah baru bersama Anda, bukannya membantu Anda mengulang kisah lama. Anda pun memilih pasangan yang sekarang karena ingin meninggalkan masa lalu bukan?

Meski negatif, perbandingan bisa membuat pasangan menjadi lebih baik jika dibandingkan dengan dirinya sendiri di masa lalu. Terutama kalau ada aspek-aspek kebaikan pasangan di masa lalu yang tidak ia teruskan sekarang.

Contohnya, dulu dia sangat rajin memberi kecupan di kening Anda sebelum berangkat kerja. Sekarang dia langsung pergi kerja begitu saja tanpa pamit. Perbedaan kelakuan dia yang dulu dan yang sekarang bisa Anda sampaikan lewat perbandingan: “Dulu aku suka banget kalau kamu cium kening aku sebelum kerja. Kok sekarang keningku gak pernah dicium lagi?”

Baca juga:
Kok Pasangan Gak Seromantis Dulu Lagi?

Nah kalau perbandingannya seperti itu, saya yakin pasangan Anda akan berpikir ulang tentang kebaikan-kebaikannya di masa lalu. Hasilnya, kemungkinan besar ia akan mengulangi lagi kebaikan itu untuk Anda.

Anda sampai di sini paham?

Apa pun yang dibandingkan dengan mantan, teman, orangtua, dan orang lain SELALU berakhir buruk. Its not good, its unhealthy!

Tapi bagaimana kalau pasangan yang malah suka membanding-bandingkan Anda dengan mantannya?

Langsung bicarakan tegas kalau relationship ini kalian yang menjalani, bukan antara dia dengan mantan atau orang lain. Dulu pasangan saya sering keceplosan membandingkan saya dengan temannya, jawaban saya: “Well you’re with me now, not with him.” Titik.

Kalau dia masih ngotot membanding-bandingkan gimana dong?

Ya sesekali bandingkan juga dia sama orang lain, biar tahu rasa. Asal jangan keterusan dan tetap TEGASKAN bahwa Anda tidak mau dibandingkan dengan orang lain. Mau bagaimanapun, ini hubungan kalian berdua; bukan bertiga, berempat, atau berlima.

Mulai sekarang jadilah lebih dewasa dalam menjaga relationship dan BERHENTI membanding-bandingkan pasangan sebelum terlambat. Kalau salah satu pihak sudah merasa dirinya lebih rendah dari orang lain, bisa dipastikan hubungan Anda tidak akan bertahan lama. Sayang sekali kan kalau hubungan harus berakhir gara-gara keseringan dibanding-bandingkan?

Saya teringat kata-kata rekan saya, Lex dePraxis: “Perbedaan tidak menyebabkan konflik, cara seseorang mengomunikasikan perbedaanlah yang menyebabkan konflik.” Jika perbedaan disampaikan dengan perbandingan, hasilnya adalah konflik. Namun, bila Anda dan pasangan tidak membanding-bandingkan perbedaan dan mau menerima perbedaan, maka tidak akan ada konflik yang tercetus. Logika sederhana untuk menjaga hubungan.

Tapi bagaimana kalau hubungan kalian sudah terlanjur retak karena sering membanding-bandingkan? Dan Anda sangat ingin memperbaikinya kembali?

Saya tidak bisa membeberkannya di sini karena akan menjadi berpuluh-puluh artikel. Tapi Lex dePraxis sudah menjelaskannya dengan sangat detail di SMART CONFLICT RESOLUTION, sebuah kelas online yang membahas bagaimana menghadapi konflik hubungan dengan cara elegan dan cerdas sehingga bisa memperbaiki masalah hubungan yang merongrong Anda selama ini. Anda ingin tahu langkah-langkahnya? KLIK saja LINK di bawah.

SMART CONFLICT RESOLUTION

Satu pesan lagi untuk Anda: “You make commitment with your partner for the relationship. Its two of you, don’t add your past into the equation.”

Share Your Thoughts