Apa Yang Dilupakan Para Penggiat Nikah Muda?

ben-waardenburg-376069-unsplash

Fenomena nikah muda di Indonesia memang tidak ada habisnya dibahas. Apalagi baru-baru ini beredar video pernikahan antara bocah laki-laki dan perempuan yang usianya belum menginjak 16 tahun. Pernikahan yang terjadi di Desa Tungkap Binuang Tapin, Kalimantan Selatan, itu langsung menimbulkan pro dan kontra. Menurut kaum kontra, kedua bocah itu seharusnya masih asik bermain layangan, gundu, belajar di sekolah, dan bukannya menjalani rumah tangga. Sedangkan kaum pro mendukung karena menganggap pernikahan bisa mencegah … you know lah … zina.

Para penggiat nikah muda pun bersorak kegirangan karena menemukan panutan baru. “Ini baru bener! Ngapain buang-buang waktu dengan pacaran? Langsung nikahin dong,” ujar mereka.

Canggih sekali Indonesia ini bukan?

Ketika negara lain berlomba-lomba unggul di piala dunia, warga Indonesia memilih jalur antimainstream dengan berlomba siapa cepat ke pelaminan. Mungkin bagi sebagian warga Indonesia, capek dalam pernikahan lebih gampang diatasi ketimbang capek di lapangan.

Tidak bisa dibantah kalau orangtua, tetua, pemuka agama, dan selebriti media sosial memegang andil penting dalam fenomena ini. Siapa lagi yang suka menyuapi anak-anak muda dengan mimpi indah pernikahan? Coba perhatikan, ada berapa juta quote tentang indahnya pernikahan yang bertebaran di timeline Anda? Jika quote-quote itu Anda telan setiap hari, bukan tidak mungkin besoknya Anda akan merengek minta nikah sama orangtua. Masalah cocok-cocokan itu nanti dulu, yang penting sekarang bisa senyum kuda saat foto pre-wedding.

Barangkali para selebriti itu memang bahagia setelah menikah muda, tapi pertanyaannya: apa orang lain bisa sama bahagianya seperti mereka? Mungkin hanya segelintir yang bisa sama-sama bahagia dan langgeng sampai tua. Sisanya jatuh merana dan bertanya-tanya mengapa pernikahannya tidak sebahagia orang-orang di layar televisi itu. Kalau nikah muda memang seindah dan seberhasil kata orang, seharusnya perceraian di Indonesia tidak bakal meroket sampai 350.000 kasus pada 2016 lalu. [1]

Sebagian besar penggiat nikah muda beralasan kalau menikah adalah satu-satunya cara menghindari seks bebas. Alasan itu saja sudah alot dicerna akal sehat. Jika Anda ingin menghindari zina, maka caranya adalah dengan TIDAK BERBUAT ZINA.

Apa orang yang menikah langsung kuat menahan libidonya dari orang lain? Tentu tidak. Ada ratusan berita perselingkuhan yang bertebaran di mana-mana. Hal itu membuktikan bahwa menikah tidak serta merta mengurangi kadar libido seseorang. Jadi, menikah sama sekali tidak mencegah atau menghentikan seseorang berbuat zina.

Di balik hiruk pikuk semangat “Ayo nikah muda!” yang berkumandang, ada beberapa poin yang tampaknya tidak sengaja (atau sengaja?) dilupakan para penggiat nikah muda:

Pertama, kematangan mental adalah harga mati

Apa Yang Dilupakan Para Penggiat Nikah Muda

(Via Unsplash.com)

Kematangan mental memang tidak bisa diukur dari usia. Mengutip Coach Lex dePraxis, “Kematangan adalah buah dari pengalaman dan kedewasaan adalah buah dari tanggung jawab.” Itu artinya seseorang perlu punya banyak asam garam pengalaman dan tanggung jawab untuk mengasah mentalnya. Di usia yang begitu dini, tidak banyak yang bisa dialami oleh remaja. Di masa itu, seorang remaja seharusnya mengumpulkan kedua itu, bukannya mengurusi rumah tangga.

Jika Anda mau menuruti hasil penelitian di Journal of Social and Personal Relationships, maka 25 tahun adalah usia ideal untuk menikah. Di usia tersebut, Anda seharusnya sudah memiliki banyak pengalaman hidup yang menempa pola pikir Anda sehingga pantas untuk menikah. Kecuali Anda kerjaannya cuma meringkuk dalam kamar dan tidak pernah mengalami pasang surut kehidupan sama sekali. [2]

Coba pikir baik-baik. Apa yang bisa diharapkan dari remaja usia di bawah 25 tahun yang seringkali masih sulit berpikir logis? Karena pikirannya belum matang, mereka sulit melihat baik dan buruknya pernikahan. Mungkin bagi mereka, pernikahan hanyalah soal hidup bersama pasangan dan bahagia selamanya.

Padahal pernikahan itu berpuluh-puluh kali lebih sulit daripada berpacaran sebab: 1) Mereka bertemu pasangannya selama hampir 24 jam. Awalnya tidak membosankan, tapi tunggu beberapa bulan ke depan. 2) Pengeluaran tiba-tiba membengkak karena harus membayar tagihan-tagihan rumah tangga. 3) Komunikasi yang tadinya seru asik tiba-tiba berubah kaku karena capek mengurus keluarga. 4) Dan puluhan masalah pernikahan lainnya.

Bila Anda ingin menikah, pastikan dulu konsekuensi yang bakal dialami setelah menikah. Menjalani pernikahan tidak akan seindah, semewah, dan secemerlang foto pre-wedding di Instagram. Pikirkan baik-baik hal apa saja yang mungkin terjadi selama perjalanan tersebut. Barangkali ada perbedaan pasangan yang belum mampu Anda terima. Mungkin keuangan Anda belum cukup untuk menghidupi dua orang. Hal-hal seperti itu tidak boleh diabaikan karena bakal menumpuk masalah ke depannya.

Kedua, kemapanan finansial (juga) harga mati

Apa Yang Dilupakan Para Penggiat Nikah Muda

(Via Pexels.com)

Bicara tentang keuangan ada daya tariknya tersendiri karena uang adalah salah satu aspek super penting dalam menunjang kehidupan. Apalagi bila dikaitkan dengan pernikahan, menariknya bukan main!

Kenapa begitu?

Karena keuangan bisa menjadi lem perekat, sekaligus asam sulfat pernikahan. Terutama bila keuangannya melarat tak termaafkan. Bagi sebagian pasangan, kekurangan uang bisa merekatkan hubungan jika masing-masing pihak bahu membahu mencari cara untuk keluar dari kemiskinan. Tapi tidak semua pasangan mau berlelah-lelah seperti itu dan mencari jalan keluar tercepat: bercerai.

Meski peran keuangan sangat krusial, ternyata masih banyak yang menyepelekannya. Para penggiat nikah muda pun tak luput dari penyepelean ini. Jika Anda bertanya soal keuangan ke mereka, kemungkinan besar jawabannya begini: “Sudahlah, uang ada yang ngatur. Yang penting itu niat dan ikhlas” atau jawaban hampir serupa yang intinya Anda tidak perlu memusingkan uang bila ingin menikah.

Anda boleh berpendapat untuk tidak memikirkan masalah keuangan, tapi pastikan diri Anda benar-benar sudah mapan. Bagaimana bisa tidak memusingkan keuangan, kalau untuk menghidupi diri sendiri saja masih super sulit? Bagaimana nasib pasangan dan anak Anda nanti? Menyediakan makanan dan pakaian saja masih jauh dari kata cukup. Anda juga harus memikirkan pendidikan anak, tempat tinggal yang layak, dan pengeluaran tak terduga lainnya. Omong-omong soal tempat tinggal, tahukah Anda kalau banyak keluarga Indonesia yang tinggal berhimpit-himpitan di lingkungan kumuh? Mau keluarga Anda tinggal di tempat seperti itu? [3]

Content continue below...

Boleh-boleh saja Anda nekat menikah muda, tapi jangan menyepelekan masalah keuangan karena Anda beresiko membawa bencana kemiskinan, kebodohan, dan kelaparan. Kasihanilah diri Anda dan keluarga Anda.

Ketiga, jangka waktu pacaran juga tidak kalah penting

Apa Yang Dilupakan Para Penggiat Nikah Muda

(Via Unsplash.com)

Apa yang Anda korbankan bila memutuskan untuk nikah muda? Tentu saja jangka waktu pacaran yang jadi lebih singkat. Padahal Anda sangat butuh berlama-lama pacaran karena itu satu-satunya cara untuk menguji kualitas pasangan.

Coach Lex dePraxis pernah menjelaskan bahwa pacaran mengandung tiga fungsi penting: investigasi, evaluasi, dan introspeksi. Ya, Anda perlu menginvestigasi sifat dan kelakuan pasangan—baik yang kelihatan maupun yang disembunyikan—agar bisa mengenalnya lebih dalam. Jangan sampai kalian memiliki banyak sifat yang sangat bertolak belakang dan ketahuannya belakangan pula. Misalnya: untuk pengeluaran, Anda hematnya bukan main sedangkan dia borosnya bukan main. Akibatnya, keuangan Anda jadi ikutan boros demi menghidupi pasangan Anda. Dan sayangnya lagi, Anda baru mengetahuinya setelah menikah.

Kalau sudah menginvestigasi, Anda juga perlu mengevaluasi hubungan apakah pasangan bisa kooperatif atau tidak. Jika romansa diibaratkan sebagai kapal, maka Anda dan pasangan adalah juru kemudi sekaligus navigatornya. Kalian butuh kerjasama yang solid agar kapal tersebut berhasil mencapai tujuan. Kalau salah satu pihak kebanyakan ngeyel dan tidak mau bekerjasma, tinggal menunggu waktu sampai kapal tersebut karam di tengah jalan.

Bagi sebagian orang, mencari pasangan yang benar-benar bisa diajak bekerja sama itu sulitnya bukan main. Terkadang pasangan hanya mau kooperatif di awal hubungan, setelah itu melempem belakangan. Untuk mengetahui daya tahan kooperatif pasangan, tentu Anda harus berpacaran dalam jangka waktu lama. Jangan sampai Anda baru menyadari punya pasangan yang tidak kooperatif justru setelah terlanjur menikah.

Masa pacaran juga membuat kedua pihak bisa mengintrospeksi diri. Anda dan pasangan tentu punya sekargo kekurangan yang sulit dilihat pada awal-awal hubungan. Semakin lama hubungan itu berjalan, semakin berhamburan pula kekurangan yang selama ini ditahan-tahan. [4]

Selama dalam masa pacaran, Anda dan pasangan punya kesempatan untuk memperbaiki kekurangan tersebut. Kesempatan itu juga hadir dalam pernikahan, tapi jauh lebih sulit karena pernikahan cenderung membuat kedua pihak bersikap defensif ketimbang mendengarkan. [5]

Keuntungan lain dari pacaran adalah: kalaupun kekurangan pasangan tidak termaafkan, maka kalian bisa memutuskan untuk berpisah yang mana prosesnya lebih gampang ketimbang bercerai. Anda tidak perlu bolak-balik mengurus surat perceraian dan menanggung rasa malu di keluarga. Palingan Anda cuma harus mengalami drama-drama putus cinta dari mantan.

Betapa pentingnya masa pacaran ini sampai-sampai Family Relations menerbitkan penelitian yang menjelaskan kalau suami-istri yang pacarannya kurang dari 6 bulan, justru BERPELUANG BESAR untuk bercerai. Alasannya? Karena mengurangi masa pacaran itu sama saja membiarkan pasangan yang tidak kompatibel masuk dan bercokol lama dalam hidup kita. Tinggal menunggu waktu hingga salah satu pihak menyadari kebodohannya dan memutuskan bercerai. Bayangkan bila masa pacaran Anda kurang dari itu! [6]

Tidak apa-apa jika Anda ingin menikah muda, terutama kalau usia Anda sudah menginjak 25 tahun ke atas. Namun, daripada menikah cuma sekedar ikut-ikutan apa kata orang atau demi menghindari zina, jauh lebih bijak bila Anda mempertimbangkan ketiga faktor di atas demi pernikahan yang berkualitas.

Omong-omong, kalau Anda dulunya langsung menikah tanpa pacaran dan pusing mengapa sifat pasangan tiba-tiba berubah, coba renungkan baik-baik gambar di bawah ini:

Apa Yang Dilupakan Para Penggiat Nikah Muda

REFERENSI

[1] Ratusan Ribu Kasus Perceraian Terjadi Dalam Setahun

[2] Personality Traits and Marital Satisfaction Within Enduring Relationships

[3] Masih Ada 90% Kawasan Kumuh di Indonesia

[4] Fungsi Pacaran: Investigasi, Evaluasi, Introspeksi

[5] Predicting Divorce From The First 3 Minutes of Conflict Discussion

[6] Shirley Temple Only Date Her Husband for 12 Days

Share Your Thoughts